Hits: 18
Tasya Hapsari
Namaku Rara. Namun, di malam hari…, aku tidak lagi menjadi Rara. Setiap matahari terbenam, keheningan pun datang mengisi ruang kamarku. Aku merasakan sesuatu yang mengganjal pikiranku. Sesuatu yang bukan lagi aku, tetapi kehidupan lain di dalam diriku.
“Lagi-lagi kau datang memegang kendali,” gumamku pelan saat berbicara sendiri di malam hari.
“Bukan aku yang mau hal ini terjadi…,” sahut suara dalam pikiranku. Suara itu… seperti suaraku, tetapi dengan nada yang lebih dingin.
Dia menyebut dirinya sebagai Riri. Dia hanya muncul saat malam. Saat pagi hari, aku tetap menjadi Rara si anak SMA yang manis, lugu, cerdas, dan ceria. Namun, saat malam datang, Riri yang mengambil alih. Dia kebalikan dariku, dia pendiam, dingin, tetapi juga berani. Bahkan, terkadang menyeramkan. Aku selalu merasa tidak nyaman saat dia datang.
“Mengapa kau tidak suka padaku? Akulah yang menyelamatkanmu dari semua permasalahanmu,” kata Riri saat mengambil alih.
Aku menutup matanya, “Menyelamatkanku? Kau lupa? Kau yang menulis pesan ancaman pada teman sekelasku. Kau juga memukul kepalanya dengan botol minum yang ku bawa.”
Riri tertawa jahat, “Aku hanya melakukan apa yang tak berani kau lakukan. Kau seharusnya bersyukur atas sisi keberanianmu ini.”
Aku terdiam, lalu aku terduduk dengan tangan gemetar yang merangkul badannya.
Keesokan harinya, Aku duduk di ruang Bimbingan Konseling (BK) sekolah. Aku tak seceria biasanya. Pak Amir, selaku guru BK yang menangani persoalan yang terjadi di kelasku pun mencoba mengajakku untuk berbicara.
“Bagaimana kabar Rara hari ini?”
Aku menjawab Pak Amir dengan ragu, “Tidak tahu, Pak. Terkadang, Rara merasa ini bukan Rara.”
“Maksudnya bagaimana? Kamu bicara tentang siapa?” heran Pak Amir.
Aku menjawab pertanyaan Pak Amir sambil melihat tangannya yang mencatat pelan di buku catatan BK miliknya, “Rara juga tidak paham, Pak. Dia bilang…, dia adalah Rara dengan versi yang berbeda. Tapi, Rara tidak nyaman, dia terasa asing.”
Pak Amir meletakkan pulpennya, “Rara, sepertinya kamu mengalami Dissociative Identity Disorder. Ini bukan berarti kamu gila, tetapi ini penyakit. Ini bisa disembuhkan.”
Aku terdiam mendengar diagnosa Pak Amir.
“Sakit, Pak? Tapi, kenapa Rara bisa sakit seperti itu?” tanyaku dengan heran.
Namun, saat itu juga, ingatan masa kecilku datang menghampiri. Aku mendengar teriakan Ayah. Aku juga melihat Ibu yang menangis di sudut dapur, dan tubuh mungilku yang bersembunyi di bawah meja. Saat itu, hari pertengkaran ayah dan ibuku yang berujung pada perceraian.
Walau tampak ceria, aku tidak ingin memberitahu kesedihanku pada siapa pun. Akhirnya aku kembali ke kelas, karena sudah mendapatkan jawaban atas penyakitku itu. Dan saat malam tiba, aku berbicara lagi dengan Riri di dalam pikiranku.
“Aku ingat sekarang… Aku ingat kenapa kau muncul.”
Dalam benakku, Riri hanya terdiam. Namun, pandangannya tampak sendu.
“Aku hadir untuk melindungimu, Rara. Aku melindungimu dari rasa takut. Namun, tampaknya kau sudah cukup kuat sekarang.”
Aku mengangguk pelan, “Walau aku tidak nyaman akan kehadiranmu, tetapi aku tidak ingin kau pergi.”
Riri tersenyum kecil, “Kita tidak seharusnya bertengkar. Kita seharusnya berdamai. Kau belajar bicara, aku belajar tenang.”
Untuk pertama kalinya, pikiranku tiba-tiba tidak menampakkan bayangan siapa-siapa lagi malam itu.
Aku sebenarnya hanya manusia biasa yang memiliki sisi gelap dan terang. Namun, luka di masa laluku yang menciptakan kepribadian lain untuk melindungi diriku sendiri. Meski begitu, dengan keberanian dan bantuan yang tepat, bukan hanya aku yang bisa berdamai dengan sisi-sisi itu dan menjadi pribadi yang utuh, tetapi kamu juga bisa.

