seseorang telah membuat hatiku dihujam tombak bertubi-tubi. Aku berusaha tidak ingin menangis lagi, karena aku tidak ingin terlihat lemah oleh siapapun. Tiba-tiba lamunanku buyar.
Mengalun lembut menemaniku melewati cobaan hidup yang walau setiap saat kurasakan tapi tetap mampu membuat tekanan darahku meningkat
Tahun 2015, tahun pernuh makna
Kita dulu membukanya dengan sukacita
Dan sayangnya, kita tahu
365 hari itu segera akan berakhir
Suasana pagi yang masih dihiasi embun yang menyejukkan membuat begitu enggan untuk bangun dari tempat tidur
Malam mulai menyapa Angin menyapu setiap helaian rambutku Rembulan memancarkan cahayanya Yang selalu setia menemaniku Bintang mengedipkan matanya Seolah ingin mengajakku bermain
Dua minggu kemudian hari yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Pesta tahunan kota kami pun dimulai, dan tentu saja Paduan Suara kami menjadi artisnya kali ini. Persiapan kami yang cukup matang mengundang ribuan tepuk tangan dari ribuan hadirin pula
Satu demi satu tlah hilang,
namun tak semuanya pudar
Hari pertama di Bulan November Bagi orang lain mungkin hanyalah hari biasa yang bertanggalkan angka satu di kalender Dan tak memiliki arti apapun Namun tidak bagi dia
Elegi jingga mendominasi cakrawala sore, Gradiasi warna ibarat sanubari kalut dua insan itu. Pertemuan ini bukanlah sekedar teman biasa, Namun percakapan dua hati yang mencoba menjadi nahkoda.
Tatapan yang begitu tajam
Seolah meyakinkan hati
