Ulfah Mayasari

 

So glad you made time to see me

How’s life? Tell me about your family

I haven’t seen them in a while~

Alunan suara Taylor Swift menyanyikan salah satu hit tracknya 19 tahun yang lalu, Back To December. Mengalun lembut menemaniku melewati cobaan hidup yang walau setiap saat kurasakan  tapi tetap mampu membuat tekanan darahku meningkat, yaitu macet.

Aceh Tamiang, Senin, 31 desember 2029. Aku kini telah berusia 33 tahun. Kini aku sedang berada dalam usia di mana orang anggap sebagai usia ‘dewasa’. Benar, usiaku 33 tahun, aku sudah menikah dan memiliki perkerjaan yang cukup menyenangkan. Aku lulus kuliah sudah lebih dari satu dekade yang lalu. Banyak hal yang berubah, seperti perekonomian Indonesia yang membaik, sehingga kini kampung halamanku yang tadinya hanya merupakan sebuah kota perlintasan yang tidak besar, kini menjadi daerah super sibuk karena sebuah ‘daerah perlintasan’. Menyebabkan banyaknya kendaraan darat keluar masuk daerah asalku sehingga kini kemacetan di jalan-jalan utama tak terhindarkan. Aku ingat dulu saat aku kecil aku ingin sekali daerah asalku ini menjadi daerah maju yang tersedia gedung-gedung seperti mall, bioskop, dan hal-hal lain yang hanya ada di kota-kota besar, tapi kini saat aku telah mendapatkan apa yang aku mau, aku malah sangat ingin kembali ke daerah asalku dulu yang tidak banyak populasi, polusi, serta kolusi.

Waktu menunjukkan pukul 15.42 WIB. Sudah sekitar tiga jam lebih aku merangkak di jalanan kota. Wajar, malam ini adalah malam  tahun baru 2030, jadi jumlah kendaraan yang melewati jalanan kota bertambah berkali-kali lipat. Ada yang berniat pergi, serta apa pula yang berniat pulang untuk berkumpul dengan keluarganya masing-masing. Termasuk aku.

Aku baru saja kembali dari daerah tempat ku berkerja sekitar pukul satu siang tadi. Dengan melupakan jetlag karena antusiasmeku untuk menjumpai keluarga yang sudah lama tak kujumpai, aku langsung mengendarai mobil kesayanganku yang telah diantar oleh seorang supir panggilan. Matahari sudah mulai beranjak untuk menerangi bagian bumi lain, dan berbagai macam pernik hiasan bernuansa tahun baru sudah mulai di siapkan oleh pemilik-pemilik toko di sepanjang pinggiran jalan kota untuk merayakan perubahan tahun yang akan berlangsung dalam beberapa jam.

Beberapa album lagu sudah kudengar, mulai dari lagu-lagu lawas Taylor Swift, Avril Lavigne, sampai lagu-lagu yang sedang hits saat ini, tapi posisiku di GPS masih menunjukkan pertengahan dari jarak yang harus kutempuh. Aku melihat ke luar jendela dan aku melihat seorang perempuan  berbadan mungil seusia aneuk-ku tengah membawa mobil no roof nya dengan stylish. Melihatnya mengingatkanku pada seorang teman dekatku Dee, yang bahkan sampai masa kuliah dulu masih tidak bisa mengendarai sepeda, kini ia malah telah menjelma menjadi seorang penerus mendiang Paul Walker dengan gaya membawa mobil yang mirip sama seperti perempuan di sampingku ini. Berbicara tentang Dee, kini ia telah menjadi seorang Public Relation untuk sebuah hotel bintang lima dan juga sudah menikah tentunya , dengan suami –yang syukurnya melewati batas kulit putih yang menjadi kriteria pria idamannya. Dua sahabatku semasa kuliah yang lain, Sia dan Windy juga sudah memiliki kehidupan dewasa mereka masing-masing. Sia yang kini menjadi seorang istri dan ibu yang juga berkerja sebagai sorang penulis di salah satu stasiun TV swasta dan juga Windy yang kini telah menikah dengan long last boyfriendnya dan memiliki perkerjaan yang sama seperti dara,  seorang Public Relation.

Tidak hanya daerah dan orang sekitarku yang berubah, Aku? Tentu aku berbuah. Aku kini telah menjadi seorang yang baru tapi aku tidak akan melupakan diriku yang lama. Penampilan fisikku memang tidak banyak berubah, bagaimana bisa tinggi badan menyusut, iya kan? Aku masih seorang Xena dengan tinggi badan seratus tujuh puluh senti meter yang sebelumnya merupakan hal yang membuatku insecure, tapi kini malah menjadi hal yang sangat ku banggakan. Hal itu karena dengan tinggi badanku ini aku jadi memiliki badan yang normal, tidak lebih pendek dari pada wanita-wanita lain di daerah tempat kerjaku. Adapun perubahan-perubahan yang terjadi padaku seperti kini telah memiliki pekerjaan, bukan lagi seorang anak yang hanya bisa membuat orang tua tambah kerjaan, aku kini telah memiliki keluarga yang harus kujaga bukan hanya seorang anggota keluarga yang minta dijaga, dan perubahan yang paling aku senangi dari semua adalah kenyataan bahwa aku telah mampu menjadi diriku yang sekarang. Being me whose chin held up wherever I go, being me whose not afraid to show my mind to others, and last but not least being me whose finally could actually held a name that my family proud to show off.

`trrrrnng trrrrng` handphoneku yang kuletakkan di handsfree berbunyi dengan layar menunjukkan ‘Faiz <3′ sebagai panggilan masuk. “Pick up” perintahku kepada telepon genggamku pertanda aku mau mengangkat telepon masuk itu. Kecanggihan masa kini sudah sangat amat tinggi, kalau lima belas tahun yang lalu sentuhan adalah teknologi paling tinggi, kini dengan perintah suara semua sudah bisa dilakukan.

“Halo Assalamu’alaikum  Faiz?” sapaku  lembut tanpa melepas konsentrasi dalam  mengemudi.

“Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!” terdengar suara nyaring dari ujung sana.

“Neuk! Semua udah ngumpul yaa?” tanyaku kepada aneuk-aneuk ku yang sudah lebih dari enam bulan tidak ku jumpai.

“Iya mi! mami cepat sampek ya!” seru seorang aneuk agamku.

“Iya neuk, cobak ganti sama bang Fais bentar boleh?” tanyaku

Faiz aneukku yang paling tua. Faiz adalah aneuk pertamaku yang kini berusia 18 tahun, persis usia ku 15 tahun yang lalu. Oh ya, aku jelasin dulu, aneuk itu adalah sebutanku untuk keponakan-keponakanku.

“O Fais, mami satu jam lagi nyampeknya, atok sama nenek sama yang laen mana nak?” tanyaku pada aneuk yang sudah kuanggap anak kandungku sendiri ini.

“Ini kami semua udah ngumpul di sini, buk tasa sama buk wr jugak udah nyampek, yaudah hati-hati ya mi,” jelas Faiz yang juga menginformasikan bahwa dua sahabatku yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupku sejak masa SMA telah hadir di rumah, yang hanya membuat ku semakin semangat untuk segera sampai di rumah.

“Iya nak, yauda jumpa nanti ya,” telepon  dimatikan.

Tanpa kusadari jarak rumahku hanya tinggal sekitar satu kilometer lagi. Dengan hati menggebu-gebu, kutambah laju mobilku karena jalanan yang kulalui kini sudah tidak sepadat jalan utama kota tadi. Dalam waktu lima belas menit aku akhirnya memasuki komplek BTN Paya Bedi, komplek di mana aku menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja sampai akhirnya aku harus meningalkanya semenjak aku kuliah bahkan sampai masa kerja ku kini.

Samar-samar terlihat pagar hijau kokoh yang tak roboh dimakan waktu yang merupakan pintu awal dari tempat ku yang semestinya di atas bumi ini, Rumah. Sesampainya aku di depan rumah bahkan sebelum aku beranjak keluar dari mobil, aku telah disambut dengan senyuman-senyuman hangat dari para V.V.I.Ps of my life, orang tua ku, suami ku serta anak-anakku yang sampai terlebih dahulu sejak seminggu yang lalu, karena mereka mendapatkan liburan sedang aku tidak. Saudari-sandariku dan pasangannya serta aneuk-aneukku juga hadir.

Pukul 22.03 WIB aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil dan berjalan ke arah hangatnya rumahku. Dengan  hati diisi dengan kebahagiaan, akhirnya ku ucapkan…

“Assalamualaikum. Maya pulang”

And those were the things that I could show you for this time around. Thank you for reading see you next time at a different time and different circumstance, its been me Ulfah Mayasari reporting live from New York City for VOA America.

Leave a comment