Riri Putri

Pijar, Medan. Suasana pagi yang masih dihiasi embun yang menyejukkan membuat begitu enggan untuk bangun dari tempat tidur. Apalagi rumah yang terletak di tepi sebuah kota yang lengang. Hingga pukul sembilan pagi masih belum nampak tanda-tanda kehidupan dari rumah tersebut. Beberapa orang mulai berlalu lalang melakukan kegiatan mereka masing-masing sambil sesekali melihat ke arah sebuah rumah kayu besar. Barulah satu jam kemudian gorden-gorden dari jendela rumah tersebut terbuka membiarkan sang mentari menembus kaca-kaca jendela yang dilapisi debu-debu. Daun-daun kering menghiasi pekarangan rumah tersebut, koran-koran dari beberapa minggu yang lalu masih berserakan di teras tanpa ada yang memungutnya. Begitu juga dengan kotak surat yang telah dipenuhi dengan tumpukan-tumpukan surat yang kertas-kertasnya sudah usang.

Seorang wanita yang berumur sekitar 32 tahun keluar dengan rambut yang tidak terlalu tertata rapih memakai baju berbentuk mantel dengan setelan bulu berwarna cream di kerahnya. Ia menunduk di sepanjang jalan dan hanya sesekali tersenyum ragu ketika ada orang yang menyapanya dengan ramah. Ia berhenti di sebauh supermarket dan membeli semua perlengkapan dan persediaan makanan sebanyak mungkin untuk satu bulan kedepan. Selain untuk itu ia tak pernah menampakkan mukanya untuk sekedar berinteraksi dengan orang lain. Namun orang-orang mengenalnya dikarenakan ia adalah seorang penulis buku yang menjadi best seller. Dan konon katanya buku itu menjadi kutukan tersendiri baginya.

Dengan serius ia memasak dan mencicipi sedikit dari rasa masakannya. Sesaat kemudian, seseorang menekan bel rumahnya. Ia meninggalkan masakannya dan mempersilahkan pria yang berdiri didepan pintunya itu masuk. Mereka makan bersama setelah masakan selesai dihidangkan. Mereka terlihat tidak asing satu sama lain, namun tidak banyak pembicaraan diantara mereka. Selesai makan wanita itu memutuskan untuk duduk sendirian menikmati semilir angin di danau belakang rumahnya. Pria itu menghampirinya dan memberikan sebuah amplop sebelum akhirnya berpamitan pulang. Ketika suara mobil pria itu benar-benar tidak terdengar lagi, wanita itu kembali kedalam dan menemui meja kerjanya. Ia membuka laptopnya dan mulai kembali menulis. Ia melanjutkan tulisannya dan jemarinya mengetik dengan sangat cepat. Ketika ia berkonsentrasi memikirkan kelanjutan dari tulisannya, sesaat perhatiannya teralihkan oleh amplop yang tadi ia letakkan disampingnya. Perlahan ia membuka amplop tersebut dan menemukan surat cerai didalamnya. Lalu ia menelpon pria tadi yang ternyata adalah suaminya.

“Ayo kita bercerai. Tapi pastikan hak asuh Alicia ada padaku,” ujarnya singkat tanpa jawaban dari suaminya yang hanya diam. Berkali-kali ia memanggil, namun suaminya tak menyahut ditelpon tersebut. Hingga akhirnya ia berteriak-teriak dan emosinya benar-benar terbakar karena ia merasa suaminya tak lagi mengizinkan ia untuk bertemu dengan anaknya. Ia menutup telepon dan bertukar pakaian. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah suaminya. Ia memecah keheningan malam sembari menggedor-gedor pintu itu dengan kencang. Tak butuh waktu lama, pintu itu dibukakan oleh suaminya, dan ia langsung menerobos masuk tanpa sepatah katapun. Ia berteriak memanggil nama anak mereka sambil mencarinya kesetiap sudut rumah dan tetap tak menemukan siapapun. Ia kembali pada suaminya yang masih terpaku sambil berteriak-teriak, kemudian menangis memohon agar ia dipertemukan dengan anaknya. Suaminya mengguncang bahunya dan memintanya untuk sadar. Namun ia menampar suaminya dengan sangat keras. Keadaan menjadi hening sejenak. Suaminya beranjak ke rak buku seperti mencari-cari sesuatu dan kembali kehadapannya dengan sebuah novel. Novel itu berjudul “Kids Hunter”.

“Ini adalah buku yang kau tulis setahun yang lalu. Buku ini adalah buku kutukan! Kutukan untuk keluarga ku, keluarga kita. Ada monster dipikiranmu yang terus membuat kenyataan yang terjadi ada pada buku ini. Alicia? Oh, kuharap Tuhan bisa memukul otak mu sekarang juga. Buku ini, pada kasus ke tiga belas dalam bab terakhir dimuat tentang anak yang digantung dijendela pada jam sepuluh pagi menggunakan kain gorden. Dan itu adalah yang kau lakukan pada anak kita. Dan ku katakan sekali lagi kau adalah wanita dengan imanjinasimu yang sungguh gila itu. Sekarang, aku benar-benar ingin kau pergi dari dunia ini. Sebelum aku membunuhmu, pergi dari hadapan ku sekarang!” sang suami terbakar dengan semua penderitaannya. Sementara wanita itu terhenyak, seperti ada yang merajam jantungnya seketika. Matanya berkaca-kaca mengingat semua apa yang telah ia lakukan, ditelinganya terngiang selalu suara Alicia tertawa dan memanggilnya. Namun itu bukan sebuah kenyataan. Kenyataannya adalah, ia membunuh anaknya. Hayalannya membunuh pikirannya dan merenggut kebahagiaannya. Kini hanya tinggal keinginannya untuk mengakhiri kehidupannya.

Leave a comment