Hits: 9

Hari ini adalah hari yang tidak menyenangkan bagiku, seseorang telah membuat hatiku dihujam tombak bertubi-tubi. Aku berusaha tidak  ingin menangis lagi, karena aku tidak ingin terlihat lemah oleh siapapun. Tiba-tiba lamunanku buyar.

“Heh rizka!” sapa Fenia dari belakang.

“Eh fen, hehe.”

“Kelamaan nunggu aku ya?” tanya fenia.

“Gak kok, gak papa hehe,” jawabku sambil cengengesan.

“Yauda nyok cuss pulang kerumah.”

“Ayok sayang hahah.”

Di sepanjang perjalanan, pikiran ku kalut, masalah itu terus mengiang-ngiang di pikiranku. Hingga aku tersadar Fenia bicara padaku.

“Heh rizka, kamu kenapa? Diem muluk dari tadi”

“Gapapa kok, hanya sedikit galau haha.”

“Galo karena cemewew yaa haha.”

“You knowlah fen” jawabku sambil tersenyum tipis padanya.

Kami mengobrol sepanjang perjalanan dari kampus kerumah. Setidaknya itu membuatku sejenak melupakan permasalahan yang kualami saat ini. Hingga akhirnya tiba di depan depan rumahku.

“Yee uda sampek” sahutku girang.

“Makasih banyak yaa fen tebengannya,hati-hati di jalan yak”

“Iyoo” fenia menjawab sambil melambaikan tangannya padaku.

Aku berjalan lesu ke depan rumah, ntah kenapa hari ini aku tidak bersemangat hanya karna masalah dengan laki-laki itu.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam” sahut mama dari dalam rumah.

“Uda pulang ?”

“Uda kok ma” aku menjawab sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan masalah hatiku saat ini.

Aku bergegas ke kamar, kurebahkan diriku di tempat favoritku. Sambil merogoh hapeku dari tas, seperti ada yang menghubungiku, yaa dugaanku benar. Sms dari laki-laki itu muncul di notif hapeku. Ku usap layar hapeku dan kubuka pesan, aku membacanya dalam hati dan mataku langsung berkaca-kaca. Aku melempar hapeku, aku tidak membalasnya, aku tidak ingin berdebat sekarang. Aku ingin istirahat.

Saat ini aku sedang menjalin kasih dengan seorang lelaki bernama difa. Hubungan kami sudah lumayan lama, sekitar 1,5 tahun lebih. Sejak di bangku kelas 3 SMA, aku menerimanya untuk menjadi pacarku. Di saat kami masih sekolah, hubungan kami mulus-mulus saja, tidak pernah ada pertengkaran di antara kami. Tiba waktunya kami menduduki bangku kuliah, seiring bertambahnya hubungan bukan makin erat hubungan yang kami jalani. Hubungan kami sering di ujung tanduk. Kami sering miss-communication hanya karena kesibukan yang sama-sama kami jalani sekarang. Kami saling tidak pengertian satu sama lain, hingga pertengkaran yang sering terjadi. Aku pernah memutuskan hubungan untuk yang pertama kalinya, tetapi ia tidak menerima, ia berjanji untuk merubah sikapnya selama ini. Tetapi itu hanya janji palsu semata, ia melupakan janjinya. Dan pertengkaran itu terjadi lagi di hari ini. Mungkin kata-kata itu akankembali terucap (lagi).

Aku menangis dalam diam. Sarung bantalku sudah basah karena air mataku. Terdengar tone sms ku, aku sudah menduga itu difa, karena aku tidak membalas pesannya. Aku tidak memperdulikannya. Hingga akhirnya aku tertidur sampai jam 8 malam. Aku terbangun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, aku masuk ke dalam kamarku lagi. Aku ingin menyendiri saat ini. Sungguh aku benci keadaan seperti ini. Ini membuatku stress, sehingga badmood melandaku.

Ku cek hapeku,notif pesan dan beberapa panggilan masuk di hapeku. Langsung saja, aku membuka pesan dari difa, ternyata dia masih mengungkit masalah yang sama, hingga akhirnya aku putus asa, aku menyuruhnya untuk mengakhiri hubunganku dengannya selama ini. Pesanku dibalas olehnya.

“Jangan akhirii…” itu kata yang dikirim oleh difa.

Aku tertegun, aku hanya bisa terdiam, aku tidak tau apa yang harus kukatakan lagi. Hingga akhirnya aku memutuskan dia harus mengakhirinya terlebih dahulu. Aku sudah tersiksa dengan keadaan seperti ini, hanya karena cinta.

“Ohh ayolah, perjalananmu masih panjang riz, buat apa aku terlalu memikirkan masalah ini” gumamku dalam hati.

Aku mengirim pesan ke difa, aku memintanya sekali lagi agar dia mengakhiri hungannya denganku. Sampai beberapa menit, hapeku tak kunjung bunyi juga. Ia belum memberikan respon terhadap apa yang kukatakan tadi. Hingga akhirnya aku lebih memilih tidur.

Kuliat jam dinding sudah menunjukkan jam 6 pagi, ini hari sabtu, jadi aku libur kuliah. Aku langsung mengecek hapeku di meja belajarku, terpampang notif sms dari difa, aku membukanya hingga membuat aku terdiam tanpa mengerjapkan mata.

Hal yang paling ktunggu akhirnya terjadi juga, difa memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini karena aku memintanya. Terdengar sakit, tapi ini jalan satu-satunya memang. Air mataku mengalir, pagi-pagi aku sudah menangis. Aku harus menerimanya ini memang keputusan yang aku inginkan. Aku meyakini diriku agar tidak terlalu memikirkan masalah ini, aku harus kuat, karena cinta bukanlah hal yang penting sekarang. Toh ada sahabat-sahabatku yang selalu menghiburku di saat apapun. Aku bersyukur telah memiliki mereka, mereka yang tidak ingin aku menangis karena permasalahanku dengan difa. Aku harus bisa maju kedepan tanpa melihat ke belakang.

1 Comment

  • Tupi
    Posted 18 Januari 2016 10:44 0Likes

    ini karangan siapa ya? gada dicantumin namanya

Leave a comment