Hits: 45
Di era penggunaan chat dan emoji atau emoticon, salah paham bisa muncul hanya dari satu kata atau kalimat dari pesan singkat. Hal ini sering terjadi pada perempuan, seperti pesan singkat “Y. Oh, terserah. ” dapat memicu adanya konflik kesalahpahaman karena penafsiran nada emosi ketus ataupun jutek. Padahal, chat atau teks itu adalah media miskin karena tidak memiliki nada dan ekspresi. Manusialah yang memberinya emosi dengan perasaan.
Maka itu, banyak perempuan akhirnya merespons pesan berdasarkan emosi, bukan fakta. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi pada pasangan saja, tetapi juga dalam pertemanan, bahkan keluarga. Sayangnya, kebiasaan seperti ini sering dianggap wajar dengan alasan “namanya juga perempuan”. Jika terus dibiarkan, dampaknya dapat merusak hubungan dan menurunkan kualitas komunikasi seseorang.
Kenapa Salah Paham Sering Terjadi?
Dalam teori komunikasi interpersonal, ada yang dinamakan proses utama dalam komunikasi, seperti Encoding (cara pengirim membuat atau menyusun pesan), dan Decoding (cara penerima menafsirkan pesan). Karena chat tidak memiliki nada dan ekspresi, proses decoding pesannya bergantung pada kondisi emosional penerima.
Jika penerima sedang merasa sensitif, maka proses decoding bisa jadi negatif, karena merasa kesal atau sebal. Berbeda jika suasana hati penerima sedang bagus, proses decoding juga menjadi positif, dan pesannya dianggap biasa aja. Jadi, masalahnya sering bukan pada isi pesannya, tetapi proses decoding atau penafsiran yang keliru.
Berdasarkan pengamatan dari beberapa perempuan yang penulis temui, kebiasaan ini cukup meresahkan hubungan interpersonal. Meski begitu, banyak perempuan yang sebenarnya tidak bermaksud marah, tetapi karena membaca chat dengan perasaan yang kurang stabil, akhirnya mereka cenderung salah paham sendiri.
Merasa sensitif itu tidak salah, yang menjadi masalah adalah ketika menggantungkan kebenaran pada tafsir sepihak tanpa klarifikasi. Kunci untuk itu adalah bersikap asertif dan tidak asumtif dengan cara bertanya terlebih dahulu, jangan langsung bereaksi. Dengan begitu, komunikasi jadi lebih dewasa tanpa drama.
Salah paham lewat chat itu memang hal yang wajar, tetapi menjadikan itu alasan untuk memulai keributan atau terbawa perasaan yang berlebihan adalah pilihan. Perempuan akan jauh lebih dihargai jika bisa mengelola penafsirannya dengan bijak, bukan bereaksi hanya karena perasaan.
Sejatinya, komunikasi yang baik bukan tentang seberapa cepat kita tersinggung, tetapi seberapa akurat kita memahami. Jadi, pesan penulis untuk perempuan adalah, ada baiknya sebelum kita marah karena satu kata di chat, tanyakan pada diri sendiri, “ini fakta atau hanya nada di kepalaku?”.
Sylvia Amalia Hrp

