Hits: 463

Jenni Sihombing

Pijar, Medan. Digital news room layaknya sebuah proses yang tidak memiliki akhir. Begitu ungkapan Zen Rachmad Sugito atau yang kerap disapa Zen RS dalam pemaparan materinya di sebuah webinar bertema “Mengulik Alur Produksi Berita dan Kehidupan Redaksi di Era Digital”, Sabtu (21/08/2021).

Zen RS merupakan seorang jurnalis yang telah berkecimpung dalam dunia jurnalistik selama kurang lebih dua puluh tahun. Zen pernah bergabung dengan Detik.com, kemudian pada tahun 2016 bergabung dengan Tirto.id sebagai editor, dan sampai saat ini Zen menjadi Pemimpin Redaksi Narasi sejak tahun 2019.

Menurut Zen, digital news room seperti sebuah situs yang hampir tidak jelas di mana ujungnya. Apalagi pada masa pandemi, mana pra-poduksi, produksi, atau pasca produksi tidak bisa dipandang seperti sebuah proses layaknya penggaris yang memiliki titik nol dan akhir. Berbeda dengan sistem cetak, setelah selesai di akhir maka tidak akan ada lagi produksi.

“Poin pertama, alur produksi digital news room itu seperti lingkaran yang tidak punya akhir dan seperti roda yang selalu berputar. Kedua, workflow ini tidak seperti penggaris yang memiliki awal serta akhir yang jelas, dalam arti ada bagian yang sudah dalam publishing atau distribusi, ada bagian lain atau produser lain, reporter atau komposer lain yang baru turun ke lapangan atau baru proses editing,” tegas Zen menjelaskan pernyataannya.

Model produksi saat ini dilakukan secara endtoend. Apabila pra-produksi tidak matang, maka akan terjadi kececeran pada saat produksi, dan apabila di saat produksi tidak memiliki bahan yang cukup atau tidak mengerti akan topik yang hendak dibawa maka akan terjadi kesulitan pada saat proses penulisan.

Sesi pemaparan materi oleh Zain RS dalam webinar yang diselenggarakan oleh Pena Budaya (21/08/21) (Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

Berbeda dengan saat dulu, saat ini news room atau media sekarang harus relate dengan pembacanya. Bahkan antara pembaca dan news room bisa menjadi sangat intens.

“Saat kita menjadi kreator kita akan sangat dipengaruhi oleh netizen atau pembaca. Pembaca bisa sangat menentukan media dan sebaliknya. Sekarang, hampir di mana pun media lebih kuat dipengaruhi oleh audiens justru seharusnya memengaruhi audiens. Batas antara media dan jurnalis juga sudah tidak bisa dibedakan. Kelakuan jurnalis bisa berimbas ke media dan apa yang dilakukan media bisa berimbas kepada jurnalis. Jadi kalo medianya keliru penulisnya bisa dicari-cari. Tapi kalau jurnalisnya yang keliru padahal dia tidak lagi mengerjakan kerja jurnalistik, medianya bisa di-bully. Jadi media itu harus paham pembacanya,” jelasnya.

Sekarang kaum muda ataupun netizen melihat berita bukan hanya tentang sesuatu apa yang harus kamu ketahui, tetapi apa yang berguna kamu ketahui dan apa yang menarik serta menyenangkan. Makanya sangat penting bagi seorang jurnalis memahami audiensnya dan punya referensi yang juga diketahui oleh audiens.

Acara webinar yang diadakan oleh LPM Pena Budaya FIB UNPAD ini berjalan dengan lancar, tampak dengan antusias para peserta dalam memberikan pertanyaan terhadap Zen. Terakhir, tidak lupa Zen memberikan closing statementnya kepada seluruh peserta dan diakhiri dengan sesi foto bersama.

“Kita sekarang batas antara konsumen dan produsen makin tipis, tapi pertebal area di mana kalian jadi produsennya untuk urusan apa pun,” tutup Zen.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment