Hits: 15

Alya Zahra Putri / Sri Muliana

Pijar, Medan. Aroma manis dengan sedikit sentuhan asam menjadi ciri khas Tapai. Sebagai makanan fermentasi tradisional yang telah lama dikenal dalam kuliner Nusantara, Tapai kerap dikenal dengan sebutan Tape. Berbahan dasar singkong atau beras ketan, Tapai diolah melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme yang mengubah cita rasa dan teksturnya. Selain menghasilkan rasa yang khas, teknik fermentasi juga telah lama dimanfaatkan dalam pengolahan pangan tradisional.

Tradisi pembuatan Tapai berkembang pesat di berbagai pelosok Nusantara. Setiap daerah mengolah bahan baku lokal dengan teknik fermentasi yang khas, sehingga melahirkan beragam varian Tapai dengan rasa dan tekstur unik. Keberagaman jenis Tapai ini mencerminkan kekayaan budaya serta kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam mengolah hasil bumi.

Jenis Tapai yang paling populer dan mudah dijumpai di masyarakat adalah Tapai Singkong. Terbuat dari umbi singkong yang dikupas, direbus, lalu diberi ragi, Tapai ini menawarkan tekstur empuk dengan rasa manis keasaman. Daerah seperti Bondowoso dan Bandung sangat terkenal dengan olahan Tapai Singkong berkualitas tinggi yang sering kali dijadikan bahan dasar peuyeum maupun olahan kue.

Selain singkong, Tapai Ketan putih juga menjadi hidangan fermentasi favorit di banyak acara adat dan perayaan. Menggunakan bahan dasar beras ketan putih, Tapai ini umumnya dibungkus menggunakan daun pisang atau daun jambu air. Proses fermentasi menghasilkan cairan manis alami yang melimpah dengan aroma harum yang sangat memikat selera.

Ragam lainnya yang tak kalah memikat adalah Tapai Ketan Hitam. Beras ketan hitam yang kaya akan antioksidan alami memberikan warna kehitaman atau keunguan yang khas setelah difermentasi. Rasa Tapai Ketan Hitam cenderung lebih tajam dan legit, serta sering disajikan sebagai campuran es buah, es campur, atau dimakan langsung bersama uli.

Di Jawa Tengah, khususnya daerah Muntilan, terdapat varian unik bernama Tapai Ketan Hijau. Warna hijau segar pada tapai ini diperoleh secara alami dari perasan daun suji atau daun pandan. Penambahan pewarna alami ini tidak hanya memberikan visual yang menarik, tetapi juga menambahkan aroma wangi khas yang memperkaya cita rasa hidangan.

Tidak hanya berbahan dasar beras atau singkong, terdapat pula Tapai Ubi Jalar yang memanfaatkan keanekaragaman ubi di Indonesia. Ubi jalar kuning atau ungu yang difermentasi menghasilkan tekstuai tape yang sangat lembut dengan cita rasa manis alami yang khas. Varian ini menjadi bukti betapa luasnya penerapan teknik fermentasi tradisional pada berbagai bahan pangan.

Keberagaman jenis Tapai menunjukkan kekayaan kuliner Nusantara yang terus bertahan di tengah perkembangan zaman. Dari Tapai Singkong hingga Tapai Ketan dengan beragam warna, setiap jenisnya memiliki cita rasa dan keunikan tersendiri. Kekayaan ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi kuliner, tetapi juga mencerminkan kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam mengolah hasil bumi. Oleh karena itu, keberadaan Tapai perlu dijaga dan dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment