Hits: 5

Theodora Stephanie Laowo

Pijar, Medan. Di tengah keberagaman kuliner Indonesia, terdapat satu kreasi yang dengan gagahnya menghadapi pandangan meremehkan dan menawarkan revolusi rasa yang tak terduga. Tahu berontak, nama yang mungkin menggugah imajinasi tentang keberanian dan semangat perlawanan, tidak hanya sekadar makanan biasa. Ia adalah sebuah pernyataan, sebuah karya seni kuliner yang lahir dari kreativitas tanpa batas dan semangat perjuangan masa lalu.

Pada dasarnya, tahu merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner. Sebagai bahan makanan yang sederhana tetapi sangat fleksibel, tahu sering dianggap hanya lauk biasa yang tidak menarik oleh sebagian orang. Namun, dengan inovasi yang terus berkembang, tahu telah melampaui pandangan negatif tersebut dan menjadi bahan utama dalam kreasi-kreasi kuliner yang menarik dan lezat.

Tahu atau dikenal juga sebagai tofu dalam bahasa Inggris, adalah produk olahan kedelai yang telah digunakan dalam berbagai hidangan di Indonesia sejak berabad-abad lalu. Melansir dari food.detik.com, diperkirakan tahu pertama kali memasuki Indonesia pada abad ke-10, ketika pedagang Cina menyebarkannya di berbagai pelosok Nusantara. Sejak saat itu, tahu telah menjadi bagian penting dari masakan Indonesia dan terus berevolusi seiring berjalannya waktu.

Sejarah tahu berontak yang dikenal saat ini erat kaitannya dengan masa perjuangan Indonesia melawan penjajah. Saat perang merebak dan laki-laki pergi ke medan pertempuran, para wanita di belakang layar memegang peranan penting dalam mempertahankan semangat perjuangan. Dari dapur-dapur darurat merekalah lahir bermacam hidangan sederhana tetapi penuh makna, salah satunya adalah tahu berontak. Dengan keterbatasan bahan dan waktu, mereka menciptakan makanan yang tidak hanya mengenyangkan perut tetapi juga menyemangati hati para pejuang.

Nama “berontak” sendiri diambil dari semangat perlawanan yang terpancar dari setiap potongan tahu yang digoreng dengan cermat. Ini adalah penghormatan kepada wanita-wanita pemberani yang tak gentar menghadapi tantangan masa itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, tahu berontak tidak hanya menjadi simbol perlawanan, tetapi juga menjadi medan eksperimen bagi para koki dan pecinta kuliner. Varian isi tahu berontak pun semakin beragam, mulai dari yang klasik dengan tauge dan cabe, hingga yang lebih modern dengan tambahan telur, daging cincang, kol, atau udang cincang.

Di setiap daerah, tahu berontak juga memiliki nama atau penyebutan yang khas. Di Sunda, ia dikenal sebagai gehu, di Jawa ia disebut tahu susur, sementara di Lampung ia disebut tahu bunting. Begitu pula di daerah-daerah lainnya, ia memiliki sebutan yang berbeda tetapi mengusung esensi yang sama, yakni keberagaman rasa.

Awalnya diciptakan di Lumajang, Jawa Timur, tahu berontak kini telah melampaui batas-batas geografisnya dan menjadi kegemaran banyak orang di seluruh Indonesia. Mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran mewah, tahu berontak telah menjelma menjadi jajanan populer yang disukai oleh semua kalangan.

Dengan cita rasa yang khas dan tekstur yang menggugah selera, tahu berontak tidak hanya mengisi perut, tetapi juga memberi inspirasi bagi banyak orang. Ia adalah bukti bahwa dengan sedikit kreativitas dan semangat perjuangan, bahkan makanan sederhana pun bisa menjadi simbol kebanggaan dan keunikan sebuah budaya.

(Redaktur Tulisan: Hana Anggie)

Leave a comment