Hits: 6
Alfihza Putri Amelia
Pijar, Medan. Melalui inovasi edible film berbasis limbah lokal yang ditujukan untuk menyelamatkan kualitas cabai merah selama masa pascapanen di wilayah terdampak banjir, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 yang akan dilaksanakan di Universitas Diponegoro, membawa Tim SPICEFILM pada persiapan dan pemantapan aspek teknis guna mempresentasikan hasil riset di November mendatang.
Inovasi yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) ini menghasilkan edible film, yaitu kemasan yang dirancang menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus anti mikroba alami untuk menjaga kualitas pangan. Kemasan ini memanfaatkan limbah lokal yakni kitosan, nanofiber tandan kosong kelapa sawit (TKKS), serta ekstrak kulit rambutan.
Menjelang PIMNAS ke-39, tim SPICEFILM memprioritaskan penyusunan materi presentasi dan pemantapan penyampaian hasil penelitian. Persiapan ini juga mencakup penyempurnaan artikel ilmiah dan pengelolaan media sosial, dengan pembagian tanggung jawab di antara anggota tim.
Novaldo Imanuel Haloho, salah satu anggota tim menjelaskan, “Tentunya ada pembagiannya. Ada yang membantu desain slide presentasi, artikel ilmiah, media sosial, dan lain-lain.”
Pembagian tugas tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran persiapan dan meningkatkan kesiapan tim dalam menghadapi kompetisi mendatang.
Di balik persiapan menuju kompetisi, pengembangan inovasi masih menjadi tantangan yang ingin diatasi oleh Tim. Tim SPICEFILM melihat pengembangan lebih lanjut masih diperlukan agar inovasi ini menjadi plastik biofilm yang lebih kuat sebagai pengganti kemasan konvensional di pasar. Tim SPICEFILM juga menginginkan inovasi ini tidak terbatas pada komoditi cabai merah saja, tetapi juga untuk produk pangan hortikultura lainnya yang rentan terhadap lembab dan bakteri.
Novaldo kembali menjelaskan penggunaan ekstrak kulit rambutan menjadi salah satu kebaruan dalam inovasi. Menurutnya, pengembangan edible film berbasis limbah lokal telah banyak dilakukan, termasuk dengan memanfaatkan TKKS dan kitosan.
“Saat ini sudah sangat banyak tentunya pengembangan edible film berbasis limbah lokal seperti TKKS dan kitosan, serta kulit rambutan yang menjadi keterbaruan inovasi kami,” ungkapnya.
Selain itu, penerapan nanoteknologi dalam pengolahan TKKS yang dapat berperan sebagai nanofiber selulosa, diharapkan dapat menjadi penguat dan bahan pengisi (filler) untuk mendukung karakteristik edible film menjadi tantangan lainnya bagi tim.
Dalam menghadapi PIMNAS ke-39, tim SPICEFILM menargetkan pencapaian prestasi yang terbaik sekaligus membawa nama Universitas Sumatera Utara (USU) melalui inovasi yang dikembangkan.
Selain meraih prestasi, tim SPICEFILM juga berharap inovasi kemasan aktif berbasis limbah lokal ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung sistem pascapanen yang lebih sustainable di Indonesia. Harapan tersebut menjadi salah satu motivasi tim dalam mempersiapkan diri menuju kompetisi nasional.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

