Hits: 19
Fatiha Fayza br Gurning
Pijar, Medan. Pada 2 Oktober lalu, Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Sumatera Utara (PPK USU) mengunggah pernyataan melalui akun Instagram resminya @satgasppkusu, terkait kasus meninggalnya seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU.
Dalam pernyataan tersebut, Satgas PPK USU menyebutkan bahwa sejauh ini belum ditemukan indikasi perundungan yang berkaitan dengan meninggalnya mahasiswi tersebut. Pernyataan ini menjadi dasar untuk menelusuri lebih lanjut mekanisme penanganan dan tindakan yang akan dilakukan Satgas PPK USU apabila ditemukan indikasi perundungan.
Ketua Satgas PPK USU, Meutia Nauly, menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan yang mengindikasikan adanya kekerasan fisik, psikologis, atau perundungan yang berkaitan dengan meninggalnya mahasiswi FIB USU.
“Sejauh ini, kita tidak ada menerima laporan atau pengaduan yang mengindikasikan adanya kekerasan, baik kekerasan fisik, psikologis, ataupun perundungan, yang berkait dengan kasus meninggalnya mahasiswi kita di FIB,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penanganan oleh Satgas PPK USU dilakukan berdasarkan laporan yang diterima melalui kanal pengaduan yang tersedia. Sementara itu, terkait penyelidikan kasus meninggalnya mahasiswi FIB tersebut, Satgas PPK USU menyerahkan prosesnya kepada kepolisian.
Sebagai langkah pencegahan, Satgas PPK USU berencana memperluas jangkauan edukasi melalui pembentukan tim Pencegahan Kekerasan (PK) di setiap fakultas. Upaya ini juga disertai sosialisasi yang telah dilakukan di sejumlah fakultas melalui pertemuan dengan pihak dekanat. Meutia menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan agar pencegahan kekerasan dapat menjangkau mahasiswa secara langsung.
“Kegiatan yang akan kita lakukan paling utama adalah membentuk tim PK, kita istilahkan sebagai tim pencegahan kekerasan di fakultas-fakultas, agar bisa menjangkau langsung teman-teman di fakultas. Sosialisasi untuk fakultas juga sudah dilakukan pertemuan dengan pihak dekanat ke Fakultas Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, [Fakultas] MIPA [Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam],” jelasnya.
Meutia juga menilai dukungan antarteman atau peer support sebagai salah satu upaya pencegahan kekerasan di lingkungan kampus. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki ruang untuk berbagi masalah dan memperoleh dukungan dari orang yang bersedia mendengarkan mereka.
“Kalau kemudian kita berperan jadi orang yang mau mendengarkan teman kita dan kita juga kemudian punya orang tertentu yang bisa kita ajak bicara, peer support itu kira-kira seperti itu kalau kita bangun. Harapannya, nanti kita bisa mulai melatih teman-teman ini dalam peer support,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

