Hits: 52

Anggun Natasya / Putri Theresia

Pijar, Medan. Tak sedikit mahasiswa di Indonesia memilih menjalani kuliah sambil bekerja lepas (freelance) maupun bekerja paruh waktu (part time). Fenomena ini memberi peluang bagi mahasiswa untuk mandiri secara finansial, tetapi juga menimbulkan dilema karena berpotensi mengganggu perkuliahan.

Fenomena mahasiswa bekerja sambil berkuliah menunjukkan semangat kemandirian, sekaligus tantangan dalam manajemen waktu. Mahasiswa harus mencari strategi agar tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan dan prestasi akademik.

Anggi Nainggolan, mahasiswa semester lima jurusan Keperawatan, Universitas Sumatera Utara (USU), memanfaatkan libur semester lalu untuk memulai usaha berjualan pakaian melalui siaran langsung (live streaming) TikTok.

Anggi memulai usahanya dari kebiasaan konsumtif dalam berbelanja pakaian hingga akhirnya muncul ide untuk menjual kembali barang-barang miliknya.

“Untuk alasannya sederhana sih, aku punya kebiasaan yang kurang baik, yaitu terlalu konsumtif dalam hal pakaian. Karena itu, lemari aku lama-kelamaan menjadi penuh dan tidak tahu harus bagaimana menyusunnya, jadi muncullah ide buat jual pakaian itu,” jelasnya.

Meski usahanya berkembang, ia mengaku kesulitan membagi waktu karena penjualan lebih ramai pada malam hari sehingga sering kekurangan waktu istirahat. Anggi juga masih berupaya memperbaiki manajemen waktunya.

Berbeda dengan Anggi, Dheraeina Anantha V. Simatupang, mahasiswi jurusan Biologi, Universitas Negeri Medan (Unimed), memilih bekerja paruh waktu (part time) untuk membantu orang tuanya dalam biaya perkuliahan. Sudah tiga bulan ia menekuni pekerjaan tersebut.

Ia menegaskan tetap memprioritaskan akademik meski memilih mandiri untuk membiayai kuliah tanpa merepotkan orang tua. Menurutnya, manajemen waktu dan istirahat yang cukup sangat penting untuk menjaga nilai akademik tetap baik.

“Saya selalu konsultasi dengan atasan agar jadwal bekerja saya tidak mengganggu perkuliahan. Kalau ada waktu luang, saya manfaatkan untuk istirahat,” ucapnya.

Menanggapi fenomena ini, Arif Rahman sebagai Dosen Ekonomi Pembangunan FEB USU memandang bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar, sementara pemenuhan kebutuhan hidup menjadi tanggung jawab orang tua. Meski demikian, mahasiswa tetap diperbolehkan bekerja paruh waktu selama tidak mengganggu perkuliahan.

Menyoroti mahasiswa yang bekerja karena keterbatasan ekonomi, menurutnya kampus telah menyediakan program beasiswa serta opsi aju banding Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang membutuhkan.

“Kalau dari yang saya temui, mahasiswa bisa mengakali hal tersebut dengan mencoba mendaftarkan diri pada program beasiswa yang diadakan kampus ataupun dari lembaga-lembaga lainnya apabila memang kurang mampu dalam hal ekonomi,” ujarnya.

Sebagai penutup, ia berharap mahasiswa yang bekerja paruh waktu, khususnya dari kalangan kurang mampu, dapat terbantu melalui beasiswa kampus. Ia juga menekankan agar penyaluran beasiswa tepat sasaran, sehingga benar-benar diterima oleh mahasiswa yang membutuhkan, bukan jatuh ke tangan yang tidak tepat.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment