Hits: 11
Siti Farrah Aini
Pijar, Medan. Sejak awal Oktober, Indonesia masih mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan konsentrasi tertinggi di Kalimantan, diikuti oleh Sumatra dan Papua Selatan. Ribuan hotspot (titik panas) yang masih terdeteksi berimbas pada sebaran kabut asap ke berbagai wilayah Indonesia. Khususnya Kota Medan, kabut asap mulai terlihat sejak Rabu (14/10/2026). Sementara itu, kabut asap berwarna jingga pekat juga terlihat di langit Kalimantan, pada Rabu (14/10/2026).
Melansir dari databooks.katadata.co.id, Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan mendeteksi 20.392 titik panas berskala rendah hingga tinggi di Indonesia. Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, Suomi National Polar-orbiting Partnership (SNPP), dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang diakses pada pukul 11.16 WIB, Senin (19/10/2026).

(Sumber Foto: bmkg.go.id)
Hal ini juga diperkuat dengan hasil pemantauan citra satelit oleh Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), per Senin (19/10/2026) pada pukul 13.00 WIB. Sebaran kabut asap terdeteksi di wilayah Sumatra Utara hingga Sumatra Selatan, hampir seluruh provinsi di Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Kondisi ini berimbas pada terjadinya transboundary haze pollution (pencemaran kabut asap lintas batas) ke dua negeri jiran, yakni Malaysia dan Singapura.

(Sumber Foto: Instagram @lovinsilence)
Merebaknya kabut asap di berbagai wilayah ini mendapat sorotan besar dari masyarakat. Melalui Instagram @lovinsilence, pemilik akun aktif membagikan kondisi terkini dari salah satu wilayah paling terdampak, yakni Kalimantan Tengah.
“Kami membutuhkan udara yang aman untuk dihirup, data yang transparan, dan penanganan yang benar-benar terasa. Sebab bagi masyarakat yang hidup di bawah langit kuning ini, kebakaran bukan sekadar statistik. Ini soal kesehatan, penghidupan, dan hak paling dasar untuk bernapas tanpa rasa takut,” tulis pemilik akun melalui takarir unggahan, pada Rabu (14/10/2026) lalu.
Sementara itu, kondisi kualitas udara juga memburuk di beberapa wilayah. Melansir dari cnbcindonesia.com¸ Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup, Edward Nixon Pakpahan, mengatakan bahwa terdapat penurunan kualitas udara terjadi di sejumlah provinsi berdasarkan hasil pemantauan partikulat halus PM2,5. Beberapa di antaranya, yakni Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan, dan Papua telah masuk dalam kategori “berbahaya”.
Hingga saat ini, jika dipantau melalui IQAir pada laman iqair.com, indeks kualitas udara di Malaysia serta Singapura juga telah tergolong dalam kategori “tidak sehat”. Melansir dari internasional.kompas.com¸ imbas pencemaran kabut asap lintas batas ini pun diketahui masuk dalam pembahasan agenda pertemuan jelang Konferensi Tingkat Tinggi Association of South East Asian Nation (KTT ASEAN) ke-49 mendatang.
Situasi ini menjadi catatan bagi masyarakat untuk tetap menjaga diri dan menyuarakan isu, serta harapan kuat bagi pemerintah agar dapat sigap mengambil tindakan dalam bencana yang berkelanjutan ini.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

