Hits: 10
Hetno Daniaty Br Singarimbun
Pijar, Medan. Farhan Alvadin Lubis merupakan sosok inspiratif dengan segudang prestasi, dan dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan ceria. Ia menjadi wisudawan terbaik Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2021 dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.99. Namun, jauh sebelum ia berdiri di bangku perkuliahan, ia pernah menghabiskan waktu dua tahun di masa kecilnya untuk berjuang melawan leukemia.
Perjalanan dua tahun kemoterapi leukemia dijalani oleh Farhan, bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Dimulai ketika ia masih berumur sembilan tahun yang saat itu baru duduk di bangku kelas 4 (empat) hingga kelas 6 (enam) sekolah dasar (SD). Tidak seperti anak-anak biasanya, ia harus menjalani kemoterapi di usia seorang anak yang masa semangatnya hanya dilakukan untuk belajar dan bermain. Namun, dari pengalaman tersebut, banyak memori baik yang dikenangnya, walaupun melalui perjuangan yang begitu berat.
”Jujur kemoterapi capek fisik, capek mental, apalagi pada saat itu aku masih seorang anak-anak,” ujarnya.
Di balik perjalanannya tersebut, ada hal yang membuat Farhan tetap semangat untuk menjalani terapi. Orang-orang di sekelilingnya, tetap peduli dan mendukungnya untuk menjalani terapi tersebut. Bukan hanya keluarga, dokter, dan perawat, tetapi juga ia menerima dukungan dari kakak dan abang relawan yang selalu berkunjung ke rumah sakit, menjadi memori yang sangat tidak bisa dilupakannya hingga saat ini. Berdasarkan pengalamannya tersebut, ia merasa menjadi relawan merupakan sosok yang luar biasa.
Farhan juga bergabung dengan komunitas rumah singgah bersama Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM), yaitu rumah singgah yang dikhususkan untuk anak-anak yang menderita kanker di Rumah Sakit Adam Malik Medan. Di tempat inilah, ia merasa memiliki keluarga baru karena berjumpa dengan orang-orang yang memiliki tantangan hidup yang sama. Menurutnya, inilah yang menjadi alasan dirinya dapat bertahan hingga saat ini. Bukan karena ia memiliki pola pikir kerja (mindset office), tetapi hanya mengikuti alur perjalanan terapinya.
”Jujur aja, saat itu aku belum memiliki mindset sekuat itu karena baru berusia sembilan tahun. Bagi seorang anak kecil, pengobatan rutin hanyalah rutinitas yang harus dijalani. Aku datang, berobat, lalu pulang. Aku hanya menjalani kewajibanku untuk kemoterapi,” ujarnya.
Namun, atas pengalamannya tersebut, hingga hari ini ia begitu menghargai hidup. Selama masa-masa sulitnya, ia menyaksikan begitu banyak orang yang tulus menyayangi dirinya dan keluarga. Kasih sayang itu menjadi janji di dalam hatinya. ia harus tetap hidup dan bertahan, agar kelak bisa membalas semua kebaikan orang-orang yang selalu ada bersamanya.
Walaupun pada saat itu, kebanyakan orang berpikir bahwa anak-anak penyintas kanker sulit untuk disembuhkan. Akan tetapi, di sinilah Farhan membangun segmen bahwa kanker pada anak bisa sembuh jika didukung oleh orang-orang terdekatnya.
Dari pengalaman dua tahun yang sangat berharga, kehidupannya sebagai seorang penyintas kanker membentuk ulang cara pandang dirinya terhadap kehidupan, pendidikan, dan cita-cita. Ia semakin sadar bahwa hidup adalah sebuah kesempatan berharga. Ia memegang prinsip bahwa hidup harus sebisa mungkin membawa manfaat bagi sesama. Cara pandang ini terlahir, berkaca dari ketulusan para relawan yang dulu mendampinginya. Mereka selalu memberikan dukungan tanpa pamrih, tanpa mengenal waktu, dan tanpa memedulikan biaya.
Baginya, kehidupan yang ia jalani sekarang adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh Tuhan. Kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara berdampak bagi orang lain, khususnya bagi anak-anak yang saat ini sedang berjuang melawan kanker. Itulah alasan fokus hidup Farhan kini tertuju pada bidang kesehatan.
Niat baik tersebut ia wujudkan secara nyata melalui perjalanan karirnnya sebagai garda terdepan (frontliner) di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Di mana ia mendedikasikan diri untuk melayani masyarakat luas, melalui sektor jaminan kesehatan nasional.
Farhan juga memilih turun langsung sebagai relawan untuk mendampingi anak-anak penderita kanker. Keputusan ini lahir dari rasa syukurnya karena dahulu ia tumbuh dengan uluran tangan para sukarelawan. Meskipun mereka tidak mengalami penyakit yang sama, tetapi kehadiran Farhan kini sebagai sebagai seorang yang pernah mengalami penyintas membawa warna baru, ada ikatan dan kedekatan emosional yang jauh lebih kuat. Membuktikan bahwa kanker dan segala keterbatasan fisik tidak akan pernah bisa merebut mimpi, harapan, serta semangat untuk terus menjadi bermanfaat bagi sesama.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

