Evan Sianturi / Samuel Sinurat

Medan, Pijar. Bagi beberapa orang mungkin terdengar asing saat mendengar kata Yoasobi. Bahkan tak jarang katika pertama kali mendengar kata yoasobi, timbul pertanyaan apakah nama orang jepang atau nama anime?

Yoasobi merupakan band atau grup musik asal Jepang yang terdiri dari produser musik Vocaloid, Ayase dan Ikura sebagai vokalisnya. Sebelum Yoasobi terbentuk, kedua member ini sudah memiliki karir musik yang aktif sejak lama. Ayase adalah seorang produser Vocaloid yang mempublikasikan karyanya di Niconico, salah satu situs pengunggahan video terbesar di Jepang pada masanya. Sedangkan Ikura sendiri aktif sebagai penyanyi yang sudah memiliki dua album mini yakni Rerise (2017) dan Jukebox (2019), serta menjadi bagian dari grup akustik Plusonica.

Uniknya, Yoasobi dikenal sebagai grup musik yang menciptakan lagu dari adaptasi cerita pendek atau novel, sebagaimana judul yang telah mereka keluarkan. Grup ini telah merilis enam video musik. Lagu pertamanya pada 16 November 2019 berjudul “Yoru ni Kakeru”, didasarkan pada cerita pendek Thanatos no Yuwaku karya Mayo Hasino. Tak disangka, lagu ini bisa dikatakan populer sampai sekarang.

“Yoru ni Kakeru” mendapat sambutan hangat bagi pecinta musik Jepang. Album ini kemudian dirilis sebagai single pada 15 Desember 2019, di mana lebih dari lima bulan setelah tanggal perilisan, lagu ini telah menduduki puncak Billboard Japan Hot 100 pada 1 Juni 2020. Sampai sekarang, lagu ini telah ditonton dan didengarkan sebanyak 136 juta kali di kanal YouTube Yoasobi. Bisa dibilang lagu ini merupakan lagu tersukses sepanjang perjalanan karir mereka.

Single kedua, berjudul “Ano Yume wo Nazotte” dirilis tanggal 18 Januari 2020 dan merupakan adaptasi dari novel berjudul Yume no Shizuku to Hoshi no Hana karya Souta Ishiki. Lagu ini cocok untuk pembuka anime, sebagaimana video musiknya seperti romansa anime.

Lagu ketiganya berjudul “Halzion” liris pada 20 April 2020 yang diadaptasi dari cerita berjudul soredemo, happy end karya Shunki Hashizume. Single ini diliris untuk mempromosikan produk minuman berenergi bernama Zone dari Suntory.

Tanggal 20 juli 2020, Yoasobi mengeluarkan single keempatnya berjudul “Tabun”. Jika didengarkan dengan lirik terjemahan ke bahasa Indonesia, lagu ini seolah menggambarkan bagaimana seseorang yang baru putus cinta. Tabun yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘mungkin saja’, seolah memberi pesan bahwa dalam akhir sebuah hubungan, apa saja  bisa terjadi. Mungkin saja aku yang salah, mungkin saja kamu yang salah, atau mungkin saja ini sudah jalannya. Terkesan seperti pasrah akan sesuatu yang terjadi.

Single kelima, “Gunjou”, dirilis pada 1 September 2020 dan merupakan adaptasi dari manga karya Tsubasa Yamaguchi yang berjudul Blue Period. Terjemahan lirik ini mempuyai makna untuk membangkitkan semangat dalam menantang diri sendiri. Meskipun ada halangan, rasa sakit dari lingkungan, atau bahkan tantangan hidup, lirik lagu ini seakan membawa kita untuk menjadi diri kita sendiri.

Single terbaru rilis pada 18 Desember lalu dengan judul “Haruka”. Belum genap dua minggu setelah perilisan, lagu ini telah diputar sebanyak 3,7 juta kali di kanal YouTube  Yoasobi. Dalam musik videonya, menggambarkan bagaimana sebuah cangkir ditemukan oleh seorang gadis berkacamata bernama Haruka. Mengambil sudut pandang dari si cangkir tadi, cangkir ini melihat bagaimana kehidupan dari Haruka. Separuh kehidupan dari gadis berkaca mata tadi telah menemani si cangkir ini.

Setiap single yang telah dikeluarkan Yoasobi, mempunyai video musik dengan animasi yang menarik. Ditambah dengan lirik lagunya yang indah seolah-olah membuat kita untuk masuk ke dalam ceritanya.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment