Hits: 17

Adelima Patricya Ginting

Pijar, Medan. “Apakah perubahan menuju mindset tumbuh telah menyelesaikan seluruh persoalan? Tidak. Tetapi saya tau bahwa saya memiliki kehidupan yang berbeda berkat perubahan ini” — Mindset: Mengubah Pola Berpikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda, hal 371.

Pernah tidak kamu merasa insecure atau tertinggal ketika melihat pencapaian teman-teman kamu di media sosial? Atau mungkin kamu lagi ada di fase takut gagal sampai membuat kamu ragu mengambil langkah baru? Hal-hal itu sering kali membawa kita pada satu pertanyaan, apakah kesuksesan hanya milik mereka yang punya “bakat bawaan”?

Carol S. Dweck, seorang profesor psikologi dari Stanford University sudah menjawab pertanyaan tersebut melalui bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success atau dalam versi buku terjemahan Indonesianya adalah Mindset: Mengubah Pola Berpikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda.

Melalui penelitian selama dua puluh tahun, Dweck menemukan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa cerdas atau berbakatnya mereka sejak lahir. Kesuksesan justru sangat bergantung pada pola pikir (mindset) atau cara mereka memandang proses belajar dan tantangan.

Lewat buku ini, Dweck menjelaskan ada dua jenis mindset yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan seseorang, yaitu mindset tetap (fixed mindset) dan mindset tumbuh (growth mindset). Pembahasan ini tidak sekadar berfokus pada motivasi-motivasi kosong, melainkan panduan psikologis untuk kita memahami cara kerja pikiran kita sendiri.

Secara lebih lanjut, Ia menjelaskan bagaimana orang dengan fixed mindset percaya bahwa sifat seseorang sudah ditetapkan, sehingga mereka perlu membuktikan diri terus-menerus. Mereka selalu haus validasi, menghindari tantangan karena takut terlihat bodoh, hingga menganggap kegagalan sebagai akhir dari segalanya.

Di sisi lain, orang dengan growth mindset percaya bahwa kualitas dasar seseorang dapat diolah melalui upaya-upaya tertentu, seperti pembelajaran dan pengalaman. Bagi mereka, kegagalan bukanlah identitas, melainkan sekadar informasi dan pelajaran berharga  untuk terus bertumbuh.

Selain itu, buku yang berjumlah 396 halaman ini juga menyelipkan kata-kata motivasi atau kutipan tokoh besar yang membuat kita menjadi lebih semangat untuk bertumbuh dan meraih kesuksesan. Salah satu kutipan yang menarik adalah:

“Setiap hari, kamu harus membuat dirimu sendiri menjadi orang yang sedikit lebih baik. Dengan membuat dirimu melaksanakan tugas untuk sedikit lebih baik setiap hari selama periode waktu tertentu, kamu akan menjadi jauh lebih baik.” — John Wooden.

Lalu, kenapa buku ini sangat perlu untuk dibaca, khususnya buat kita generasi muda? Jawabannya sederhana, sebab penerapannya yang sangat luas dan berkaitan (relatable)  dengan keseharian kita.

Melalui bukunya, Dweck banyak memberikan contoh nyata dari berbagai bidang, mulai dari dunia pendidikan, olahraga, bisnis, sampai hubungan interpersonal (relationship). Ia memaparkan bagaimana para tokoh besar yang ada, tidak lahir dengan kesempurnaan ataupun bakat bawaan, melainkan dari konsistensi untuk memperbaiki kelemahan mereka.

Bukan hanya bacaan inspiratif, Buku Mindset dapat menjadi panduan untuk mengatur ulang cara otak kita dalam merespons kesulitan dan mengajarkan kita untuk berhenti menyalahkan keadaan. Lebih dari sekadar bacaan psikologi populer, buku ini menyadarkan kita bahwa pola pikir bisa dipelajari dan diubah secara sadar. Di tengah ilusi standar kesuksesan yang dibangun masyarakat, pesan Dweck terasa sangat membebaskan. Ia mengajarkan kita untuk tidak perlu selalu tampil sempurna, tetapi kita hanya perlu selalu bersedia untuk belajar.

Buku Mindset sangat direkomendasikan bagi orang-orang yang ingin melepaskan diri dari batasan mental, berdamai dengan kegagalan, dan memaksimalkan potensi diri. Bacalah buku ini, mungkin saja kamu akan menyadari bahwa selama ini diam-diam sering memelihara fixed mindset.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment