Hits: 5
Jeni Susanti Zega/Tasya Hapsari
Pijar, Medan. Kenapa harus “Teh Hijau”? Pertanyaan itu mungkin muncul ketika pertama kali mendengar judul lagu terbaru dari Tulus. Teh hijau yang biasanya dikenal sebagai minuman justru menjadi bagian penting dalam lagu yang bercerita tentang rasa hampa. Lewat lagu ini, Tulus menggambarkan seseorang yang sedang kehilangan rasa senang dan belum mampu membuka hati seperti biasanya.
“Teh Hijau” resmi dirilis pada 30 Juni 2026. Lagu ini menjadi karya baru Tulus setelah album Manusia pada 2022. Jarak sekitar empat tahun tersebut membuat lagu ini sekaligus menjadi penanda kembalinya Tulus dengan karya baru. Dalam kutipan medcom.id?, menyampaikan bahwa lagu ini berkaitan dengan rasa hampa yang tidak harus selalu dipaksa untuk hilang, tetapi dapat diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Jika melihat liriknya, “Teh Hijau” hadir ketika tokoh sedang berusaha melihat kembali hal yang masih berada dalam kendalinya. Di tengah kesedihan yang dirasakan, “Teh Hijau” menjadi sesuatu yang dekat dan nyata dalam genggamannya. Karena itu, “Teh Hijau” dapat dibaca sebagai simbol dari hal sederhana yang tetap dapat dirasakan dan dinikmati ketika seseorang sedang menghadapi kondisi emosional yang tidak baik-baik saja, seperti yang tergambar pada lirik berikut.
Kulihat mana di kendaliku
Teh hijau ini yang di tanganku
Di tengah seram sedih yang menghantamku
Permainan kata tentang warna hijau juga menarik untuk diperhatikan. Hijau biasanya dekat dengan kesan segar dan kehidupan. Dalam lagu ini, warna tersebut dapat dimaknai sebagai keadaan yang perlahan kembali hidup setelah mengalami masa “gersang”. Dengan begitu, “Teh Hijau” bukan hanya nama minuman, tetapi menjadi bagian dari gambaran perjalanan seseorang yang sedang berusaha menerima keadaan dirinya. Makna tersebut tercermin dalam lirik berikut.
Lepaslah, lepas kemurunganku
Hijau kembali jiwa gersangku
Tulus tidak menggambarkan rasa hampa sebagai sesuatu yang harus segera diselesaikan. Tokoh dalam lagu mencoba berbagai hal, tetapi perasaan kosong itu tetap ada. Hal ini membuat lagu tersebut terasa dekat dengan pengalaman banyak orang. Ada kalanya seseorang telah mencoba berbagai kegiatan untuk merasa lebih baik, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk memahami dan melewati perasaan tersebut hingga perlahan kembali menemukan keadaan yang lebih baik.
Setelah empat tahun sejak album Manusia, lagu “Teh Hijau” mendapat perhatian besar dari pendengar. Dalam 24 jam pertama, lagu ini tercatat telah didengarkan lebih dari 600 ribu kali dan masuk dalam Music Trending di YouTube. Lagu tersebut kemudian sempat menempati posisi pertama Music Trending. Berdasarkan akun YouTube resmi Tulus, @musiktulus, video lirik resmi lagu ini telah mencapai 78 juta penayangan sejak di-upload pada 30 Juni, sedangkan video musiknya mencapai 12,6 juta penayangan sejak di-upload pada 10 Juli 2026.
Popularitas tersebut menunjukkan bahwa “Teh Hijau” tidak hanya menarik perhatian sebagai lagu baru Tulus setelah empat tahun, tetapi juga karena mengangkat cerita tentang rasa hampa melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal tersebut membuat lagu ini dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap pendengarnya.
Pada akhirnya, “Teh Hijau” seperti mengajak pendengar melihat bahwa sesuatu yang sederhana bisa memiliki arti ketika seseorang sedang berada dalam keadaan sulit. Tulus tidak menawarkan jawaban instan untuk menghilangkan rasa hampa. Ia justru membawa pendengar untuk menerima bahwa ada perasaan yang memang membutuhkan waktu. Sama seperti menikmati secangkir teh, mungkin tidak semua hal dalam hidup harus dilakukan dengan terburu-buru.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

