Hits: 12
Alfihza Putri Amelia
Pijar, Medan. “Selama lima puluh tahun penduduk Suriah telah hidup dalam ketakutan, sulit memercayai siapa pun, dan memupuk niat memberontak di lubuk hati yang terdalam. Kami menegakkan kepala dan menanam pohon lemon sebagai lambang pertahanan”.
Kalimat ini seolah menjadi napas yang menghidupi As Long As the Lemon Trees Grow, novel karya Zoulfa Katouh yang menyentuh hati. Terhanyut ke dalam derita dan luka Salama Kassab, sang pemeran utama. Konflik Suriah membuat Salama harus terjebak dalam pilihan hidup yang sama-sama menyakitkan. Bertahan demi tanah air yang kau cintai, atau pergi demi bertahan hidup?
Novel ini mengajak kita untuk mengikuti kisah Salama, seorang mahasiswa farmasi yang terpaksa menjadi dokter di tengah konflik Suriah. Setiap hari di rumah sakit Homs, ia menambal luka-luka yang tak hanya di tubuh, tetapi juga di jiwa manusia. Dalam situasi penuh duka dan kehilangan, Salama tetap memilih untuk berbuat sesuatu, yakni menolong dan mengobati, meski setiap langkahnya berarti mempertaruhkan nyawa.
Karakter yang berani, tulus, dan penuh pengorbanan, membuat Salama menjadi karakter yang dicintai oleh pembaca. Ia banyak membuat keputusan sulit yang membuatnya menderita. Karakternya menunjukkan sisi kemanusiaannya dengan menghadapi banyaknya trauma.
Hidup di antara reruntuhan membuat rasa takut menjadi bagian dari dirinya sendiri. Trauma yang ia alami berkembang menjadi stres pascatrauma (PTSD), menghadirkan sosok halusinatif bernama Khawf yang terus menemaninya. Melalui Khawf, pembaca dapat melihat pertempuran batin Salama, antara harapan dan keputusasaan, antara keinginan untuk hidup dan keinginan untuk menyerah.
Di tengah ketakutannya, Salama bertemu dengan Kenan yang membawa kehangatan dan harapan. Kenan seperti wujud rasa tanggung jawab dan rasa juang yang ia torehkan untuk orang lain, bahkan untuk negerinya sendiri, bahkan ketika dunia di sekelilingnya runtuh. Sisi kemanusiaan dan romansa dalam novel ini tergabung secara seimbang, menggambarkan bahwa cinta tetap dapat tumbuh di situasi paling gelap sekalipun. Melalui kehangatan, kepedulian, hingga rasa memahami di tengah keterbatasan.
Romansa yang terjalin antara Salama dan Kenan sederhana, tetapi itulah yang membuatnya nyata. Tidak saling menyelamatkan dengan janji, melainkan dengan keberadaan yang saling menenangkan.
Tidak sampai di situ saja, pembaca kembali disuguhkan dengan cerita karakter halusinasi Salama yang mampu membuat pembaca mengubah cara pandang keseluruhan cerita novel ini. Novel ini menunjukkan bagaimana dampak trauma akibat perang yang tidak berdampak pada fisik saja, tetapi juga pada psikis.
Melalui novel ini, pembaca diajak untuk memahami keteguhan hati manusia ketika menghadapi penderitaan. Meskipun kisahnya dipenuhi duka, novel ini tetap menghadirkan harapan bahwa kasih dan kemanusiaan dapat bertahan bahkan di tengah kehancuran. Harapan yang menjadi bentuk perlawanan yang paling manusiawi. Melalui novel ini pula, penghormatan diberikan kepada para sosok tanpa nama yang menjadi simbol keteguhan hati dan harapan masa depan Suriah.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

