Hits: 8
Davva Abror Supriadi
Pijar, Medan. Tubuh yang bergerak liar kehilangan kendali seolah-olah dikuasai oleh hal tak kasat mata. Tangan bergetar, langkah kaki tidak gentar bergerak entah ke mana, hingga bola mata yang terus menghadap ke atas dan tidak lagi mengikuti kehendak sendiri. Begitulah ciri-ciri seseorang yang mengalami kerasukan berdasarkan film Para Perasuk.
Dalam film tersebut, momen kerasukan bukan sekadar dirasuki oleh sesuatu yang negatif dan mengganggu, melainkan pengalaman ikatan batin dan roh yang membuat orang yang kerasukan menjalani suatu pengalaman yang terasa nyata, seolah penonton diajak masuk ke dalam ritual itu sendiri.
Di dalam film Para Perasuk ini, proses rasuk tidak terjadi begitu saja. Ada peran-peran yang jelas di dalam ritualnya. “Perasuk” adalah sosok yang menjadi medium, tubuhnya terbuka untuk menjadi tempat singgah roh. Perasuk memainkan instrumen untuk menciptakan alur dan instruksi bagi roh yang sudah terhubung dengan pelamun dalam sebuah ritual rasuk yang sering disebut dengan “pesta sambetan”. “Pelamun” merupakan seseorang yang dimasuki roh dalam kondisi setengah sadar yang menjadi jembatan antara dunia nyata dan yang kasat mata.
Pelamun yang mengalami kerasukan mulai menggerakkan tubuhnya sesuai kendali roh yang merasuki. Menariknya, gerakan kerasukan yang dilakukan tidaklah sembarangan. Film ini diketahui melibatkan koreografer untuk menyusun gerakan-gerakan tubuh para aktor, sehingga setiap gerakannya memiliki makna. Hasilnya, gerakan yang dilakukan dalam film memberikan kesan tubuh pelamun menjadi medium untuk menerjemahkan alur sang perasuk.
Ritual mencapai puncaknya dalam sebuah “pesta sambetan akbar”. Di mana pesta tersebut berupa momen yang melibatkan banyak warga dalam satu ruang, satu irama, dan satu tujuan untuk menyelamatkan mata air. Di sini, kerasukan tidak lagi tampil sebagai pengalaman kepuasan yang dapat dirasakan pelamun, tetapi tampil sebagai perjuangan dan bentuk kesatuan warga untuk menyelamatkan mata air.
Bayu, sebagai seorang perasuk, sering kali merasa terganggu dan tidak fokus dalam memainkan instrumennya saat ritual rasuk. Dia sering merasa terganggu akibat beban yang ada di pikirannya, saat dia selalu merasa tidak pernah cukup dan memiliki rasa dendam yang besar terhadap orang-orang yang dianggapnya mengganggu.
Laksmi, sebagai teman pelamun Bayu pun sering merasakan aliran negatif tersebut saat ia kerasukan oleh roh yang dibawa Bayu. Selain itu, Laksmi juga memiliki bebannya sendiri yang ama dengan Bayu. Ia dihantui rasa bersalah karena merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga menghasilkan trauma yang mendalam akibat perbuatannya di masa lalu.
Kedekatan Bayu dan Laksmi yang kian erat, justru secara tidak sadar membuat mereka telah terjebak dalam rasa kurang bersyukur dan ketidakpuasan. Akibatnya, Bayu dan Laksmi pun saling menyakiti satu sama lain secara tidak sadar. Mantra yang Bayu mainkan di ritual rasuknya bisa menyakiti Laksmi. Sedangkan, Bayu secara tidak sadar melukai Laksmi secara fisik dan mental demi mendapatkan roh yang dia inginkan.
Berdasarkan kisah yang telah mereka lalui, film Para Perasuk menyampaikan pesan mendalam yang dapat dianggap sebagai kunci dari film tersebut. Film ini mengingatkan akan pentingnya bersyukur, merasa cukup, dan melepas dendam dalam batin. Dengan begitu, tujuan hidup pun kian akan lancar. Bukan dalam bentuk nasihat yang menggurui, tetapi melalui pengalaman yang dialami oleh tiap karakter. Hal yang paling berbahaya bukanlah apa yang merasuki tubuh, melainkan apa yang dibiarkan tumbuh di dalam hati.
Pada akhirnya, film Para Perasuk tidak hanya menawarkan kesan menegangkan, tetapi juga hadir sebagai konsep refleksi diri. Film ini mengingatkan bahwa manusia bisa saja kehilangan kendali karena ambisi, amarah, atau ketidakpuasan. Walaupun begitu, di saat yang sama, selalu ada ruang bagi kita untuk kembali, yaitu dengan belajar untuk menerima, bersyukur, dan selalu berlapang dada terhadap hal yang terjadi.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

