Hits: 24

Patrycia Gloryanne Pasaribu

Pijar, Medan. Terkadang, batas antara rasa kagum yang tulus dan obsesi yang merusak hanya dipisahkan oleh sebuah imajinasi yang tidak tersampaikan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering menganggap perasaan jatuh hati sebagai sesuatu yang manis, tetapi film berjudul Fiksi. (2008) membawa perasaan tersebut ke arah yang jauh lebih gelap dan manipulatif.

Sebagai karya debut dari sutradara Mouly Surya, film ini tidak mencoba bercerita tentang cinta yang romantis, melainkan tentang bagaimana obsesi seseorang bisa mengaburkan sekat antara dunia nyata dan khayalan. Keberanian dalam memilih tema thriller psikologis pada masa itu menjadikan film ini sebagai salah satu karya paling menonjol yang pernah lahir di industri sinema Indonesia.

Kisah ini berfokus pada Alisha (Ladya Cheryl), seorang perempuan muda yang tumbuh dalam kesepian di tengah kemewahan rumahnya. Hidupnya yang terasa hampa mulai berubah saat ia menaruh perhatian pada Bari (Donny Alamsyah), seorang penulis yang tinggal di sebuah rumah susun sederhana.

Alih-alih melakukan pendekatan yang wajar, Alisha justru nekat mengganti identitasnya dan pindah ke rumah susun yang sama demi masuk ke dalam kehidupan Bari sebagai tetangga. Di sinilah letak kengerian yang sesungguhnya, Alisha berusaha mewujudkan potongan-potongan imajinasi Bari yang tidak tersampaikan dalam narasinya, meskipun hal itu berujung membuat realitas kehidupan di rumah susun tersebut hancur.

Selama kurang lebih dua jam, penonton akan diajak menyaksikan bagaimana tindakan manipulatif Alisha perlahan-lahan merusak segalanya demi sebuah obsesi yang dianggapnya sebagai bentuk dedikasi.

Salah satu hal yang membuat film ini sangat unik adalah kemampuannya dalam membangun ketegangan tanpa harus mengandalkan visual yang menyeramkan atau elemen horor yang “dibuat-buat”. Latar tempat di rumah susun yang terkesan itu-itu saja justru menjadi kekuatan tersendiri karena memberikan kesan sempit yang menyesakkan, tetapi anehnya tetap membuat kita terpaku pada layar.

Psikis penonton seolah-olah ikut disinggung melalui atmosfer yang dingin dan puitis, membuat kita merasakan sendiri sensasi stres dan tertekan akibat manipulasi yang dilakukan oleh karakter utamanya. Keberhasilan Mouly Surya dalam mengarahkan emosi penonton lewat pengalaman visual yang statis, tetapi bermakna dalam film ini adalah bukti bahwa inovasi dalam penceritaan mampu memberikan nilai tambah yang kuat dibandingkan karya-karya lain di masanya.

Prestasi yang diraih oleh film Fiksi. juga menjadi catatan penting bagi para sineas tanah air. Film ini sukses memborong piala utama di ajang Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2008, yang merupakan ajang penghargaan paling bergengsi dalam industri perfilman nasional.

Dilansir dari filmindonesia.or.id, Fiksi. berhasil memenangkan beberapa kategori prestisius, antara lain “Film Terbaik”, “Sutradara Terbaik” untuk Mouly Surya, dan “Skenario Terbaik” yang ditulis bersama Joko Anwar. Kemenangan ini membuktikan bahwa sebuah karya yang memiliki visi yang kuat dan eksekusi yang detail akan mendapatkan tempat istimewa, baik di mata kritikus maupun sejarah perfilman lokal.

Pada akhirnya, Fiksi. tetap menjadi tontonan yang wajib hukumnya bagi siapa saja yang ingin mendalami genre thriller psikologis buatan lokal. Film ini berhasil membuktikan bahwa kengerian yang paling nyata tidak selalu datang dari sosok yang menakutkan, melainkan dari kedalaman pikiran manusia yang terobsesi pada imajinasinya sendiri.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment