Hits: 24

M. Malikul Saleh Azhari

Pijar, Medan. Lahir dan besar di Medan, Eunike Tanzil kini telah menjadi salah satu komposer muda paling menjanjikan di panggung musik internasional. Bagi Eunike, talenta muda daerah bukan sekadar latar belakang dirinya, melainkan identitas kuat yang ia bawa saat merintis karier di tengah industri musik dunia yang kompetitif. Karya-karyanya yang dikenal memiliki karakter emosional dan sinematik telah memberikan napas baru bagi berbagai produksi audio visual berskala global.

Ketertarikannya pada musik sejak usia dini menjadi fondasi kokoh yang membawanya masuk ke industri perfilman internasional. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube @EkaGustiwanaOfficial, Eunike menjelaskan bahwa dirinya tumbuh di lingkungan yang kental dengan nuansa musikal di kota kelahirannya. Selain itu, ia juga mengakui bahwa peran keluarga menjadi titik awal perjalanannya.

“Bapak saya punya toko musik di Medan. Jadi, dari dulu memang sudah dikelilingi sama musik, lah, [terlebih juga] karena Bapak saya main piano juga. Dari situ saya mulai kenal yang namanya musik dan piano,” kenangnya.

Disiplin tinggi yang diterapkan orang tuanya dalam berlatih piano klasik, justru memicu sisi kreatif Eunike untuk mulai bereksperimen dengan melodi. Alih-alih hanya mengikuti partitur, ia mulai menciptakan improvisasi yang kelak menjadi cikal bakal kemampuannya dalam menyusun musik sebagai pengiring suatu film (skor film). Ia juga mengungkapkan perasaannya ketika momen awal ia jatuh cinta pada proses membuat musik.

“Saya enggak tahu ini namanya komposisi apa improvisasi, tetapi saya senang banget dan saya bisa melakukan ini selamanya,” ungkapnya.

Tahun 2023 menjadi tahun yang sangat produktif bagi Eunike. Komposisinya yang bertajuk “Scenes from a Voyage”, diperdanakan oleh Indianapolis Symphony Orchestra dan direkam di studio legendaris Warner Bros. Keberhasilan ini disusul oleh penampilan karyanya yang lainnya, berjudul “Celestial Waves” bersama Royal Bangkok Symphony Orchestra.

Di tahun yang sama, ia juga terlibat dalam proyek film Asian Persuasion, sehingga semakin mempertegas kemampuannya dalam beradaptasi menciptakan atmosfer musik yang beragam.

Loncatan besar dalam kariernya terjadi pada 2024, ketika ia menorehkan sejarah sebagai komposer perempuan Asia pertama yang bergabung dengan label musik klasik paling prestisius di dunia, yaitu Deutsche Grammophon. Melalui label ini, ia merilis single “Luna” dan “Be My Home” yang mendapatkan apresiasi luas.

Setahun kemudian, ia meluncurkan album debut “The First of Everything” yang direkam di Berlin bersama Deutsches Symphonie-Orchester Berlin. Menandakan sebuah pencapaian yang memantapkan posisinya di kancah musik dunia.

Eunike juga piawai memanfaatkan media sosial untuk mendekatkan musik orkestra kepada khalayak luas melalui proyek kreatif, bernama “Hum Me a Melody”. Dalam seri ini, ia mengolah suara jalanan atau gumaman sederhana menjadi aransemen simfoni yang megah. Inovasi ini membawanya berkolaborasi dengan musisi kelas dunia, seperti Laufey, Ray Chen, TwoSet Violin, hingga Sophie Kauer, serta musisi tanah air seperti Feby Putri.

Selain aktif di balik layar film dan panggung orkestra, Eunike juga mendedikasikan dirinya sebagai produser musik yang jeli dalam melihat potensi kolaborasi. Kehadirannya dalam berbagai proyek internasional, menunjukkan bahwa ia tidak hanya berperan sebagai penulis notasi, tetapi juga sebagai arsitek suara yang mampu mengemas elemen musik tradisional dan modern menjadi satu kesatuan.

Keterlibatannya dirinya dengan nama-nama besar, seperti Jhett Tolentino dan Jeff Danna jugasemakin memperkuat pengaruhnya dalam lingkaran produser musik dunia.

Melalui perjalanan kariernya, Eunike Tanzil tidak hanya menunjukkan kemahiran dalam merangkai nada, tetapi juga menjadi representasi keberhasilan musisi Indonesia di tingkat dunia. Ia berhasil menghubungkan kemegahan orkestra klasik dengan kepekaan modern, sehingga membuktikan bahwa karya yang lahir dari kreativitas seorang komposer asal Medan, mampu bergema hingga ke gedung-gedung konser paling bergengsi di seluruh dunia.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment