Hits: 34
Farrel Kresna Maruli Sibuea
Pijar, Medan. Realitas para jurnalis yang tengah diwarnai oleh algoritma tantangan menjadi momentum bagi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Medan untuk menggelar diskusi publik. Kegiatan untuk memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia ini diselenggarakan di Arteri Coffee and Coworking Space pada pukul 14.00, Selasa (5/5/2026).
Diskusi ini diselenggarakan untuk mendalami keberlangsungan profesi jurnalis, yang secara fakta lapangan dinilai masih terhambat, serta mempertahankan independensi jurnalis ketika menghadapi dilema jurnalisme modern dan kebebasan pers.
Jhonni Sitompul, selaku Jurnalis Medan Bisnis, memberikan pernyataan pembuka dengan membagikan pengalaman realitas seorang jurnalis dan wartawan. Jhonni menekankan perlunya basis data sebagai pedoman keamanan dan kebebasan dalam menghadapi tekanan beserta ancaman politik. Selain itu, Jhonni juga menjelaskan pentingnya mengasah kemampuan dan kepekaaan sebagai seorang jurnalis.
Di sisi lain, Pimpinan Redaksi Harian Mistar, Rika Suartiningsih, menyampaikan bahwa saat ini, tidak ada media yang benar-benar independen. Menurutnya, hal ini didasarkan ketika sudah memiliki iklan, banyak media kesulitan untuk menyesuaikan penerapan pola pikir yang kritis, terutama dalam fungsi kontrol dalam beriklan, sehingga terdapat nilai independen yang tergadaikan.
“Satu-satunya peluru untuk mempertahankan audiens pada media adalah dengan membangun kembali kepercayaan. Ketika audiens masih banyak berpihak ke media massa, iklan juga akan bertahan untuk beriklan di sebuah media. Ketika fungsi tidak dijalankan dengan baik, maka akan berdampak terhadap berkurangnya kredibilitas sebuah media,” jelas Rika.
Rika juga menekankan keharusan pers dalam beradaptasi. Menurutnya, pers tetap harus mengedepankan relevansinya, terutama nilai aktual dan faktual sebagai kekuatan media dalam memberikan kesesuaian informasi.
Guru Besar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU), Iskandar Zulkarnain, juga menyatakan kondisi realitas saat ini adalah berdampingnya kehidupan para jurnalis dengan era ledakan informasi.
“Dulu, produksi berita hanya dilakukan media profesional saja seperti surat kabar, radio, dan televisi. Sekarang, siapa saja bisa memproduksi berita. Setiap orang bisa menjadi produsen informasi melalui media sosial,” ujar Iskandar.
Kemudian Iskandar menambahkan, jika tidak dilakukan penyesuian ledakan ini secara tepat, maka akan terjadi komodifikasi. Dalam situasi ini, informasi akan terus berlimpah, tetapi informasi yang tersebar belum tentu faktual. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya disinformasi.
Akhir diskusi, Iskandar menyampaikan bahwa saat ini pers sedang beradaptasi dan melakukan penyesuaian terhadap perkembangan zaman.
“Kita perlu menyadari bahwa pers bukan hanya institusi media, tetapi juga sebagai fondasi demokrasi dan fondasi negara. Tanpa pers yang bebas dan bertanggung jawab, kebenaran bisa tertutup, kekuasaan tidak terkendali. Karena menjaga kebebasan pers berarti menjaga masa depan demokrasi,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

