Shofiyana Fadhiilah

Di sebuah kota besar di siang hari terik, di mana banyak sekali kendaraan yang berlalu-lalang, seperti motor, mobil dan kendaraan umum lainnya. Tidak mau mengalah dalam menghadapi kemacetan yang memang biasa terjadi di kota ini.

Dalam salah satu mobil, seorang pria sedang menunggu redanya kemacetan yang telah terjadi sekitar 1 jam lamanya. Raut wajahnya yang cukup resah dan penuh kebosanan cukup menjelaskan bahwa dia benar-benar muak dengan kondisi saat ini. Matanya melirik ke sana kemari mengharapkan agar ia bisa segera pergi dari riuhnya suara klakson kendaraan yang juga ingin pergi dari kemacetan tersebut.

Tidak lama, lelaki itu menghentikan aktivitas lirik-meliriknya. Bagaimana tidak, seorang anak kecil dengan pakaian yang cukup lusuh baru saja mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Merasa terganggu, lantas lelaki tersebut menurunkan kaca mobilnya.

“Om, majalahnya, Om. Ada koran juga nih. Kasus korupsi dan pelecehan sedang merebak, Om,” ucap anak tersebut dengan semangatnya seraya tersenyum lebar.

Ia membalas senyuman anak itu, sambil memberikannya uang sejumlah seratus ribu. “Ini dek, uangnya buat kamu aja. Majalahnya nggak usah, deh,” balasnya merasa bangga.

“Terima kasih, Om. Tapi maafkan saya, saya tidak bisa menerima uangnya. Karena saya memang mencari uang, bukan mengemis. Saya tidak mau mengemis, Om. Saya rasa rezeki saya masih cukup untuk menghidupi saya dan keluarga. Mohon maaf sekali lagi, Om. Tapi, terima kasih banyak,” jelasnya dengan wajah yang masih tersenyum, kemudian pergi berlalu meninggalkan lelaki itu yang hanya menatapnya dari kejauhan.

Anak itu mulai jauh, namun lelaki tersebut masih saja menatap kepergiannya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Sekelebat, muncul ingatan-ingatannya tentang bagaimana perbuatannya selama ini, yang baru diingatnya sekarang setelah mendengar penjelasan dari anak tersebut. Cukup menohok ulu hatinya sekarang.

Bagaimana tidak, dengan atau tanpa disadarinya, lelaki tersebut telah banyak melakukan hal-hal yang cukup merugikan dirinya dan orang lain. Tanpa diketahui dan tanpa disangka-sangka, kekayaannya selama ini adalah buah dari menerima suap dari berbagai pihak. Bahkan, dengan uang itu ia bisa memiliki mobil baru yang dikendarainya saat ini.

Seketika ia malu, sangat malu. Selama ini ia pikir cukup untung bila merayu berbagai pihak kemudian mendapatkan uang. Tapi nyatanya, ia hanyalah bagian dari orang-orang munafik. Mentalnya cukup miskin dan dapat disamakan dengan pengemis, bahkan ia merasa jauh lebih buruk.

Tampilannya saja bak orang kantoran, tapi dalam hatinya ia hanyalah seorang pengemis. Ia cukup iri dengan anak itu, masih merasa cukup meskipun hidup tidak nyaman. Anak itu memiliki hati yang kaya, pikirnya. Lelaki itu cukup bersyukur hari ini. Di balik kemacetan yang terjadi, ia mendapat hikmah dan kesadaran yang mendalam atas perbuatannya selama ini.

Leave a comment