Hits: 36

Nabila

Pijar, Medan. Aroma minyak panas bercampur dengan wangi manis adonan langsung terasa ketika cetakan besi berbentuk bunga dicelupkan ke dalam wajan. Perlahan, adonan yang menempel digoyangkan hingga terlepas dan mengembang sempurna. Dari proses sederhana itu, lahirlah Kembang Goyang, kue tradisional yang hampir selalu hadir dalam berbagai perayaan di Indonesia.

Hampir di setiap rumah, khususnya saat Lebaran, Kembang Goyang menjadi salah satu sajian wajib di meja tamu. Bentuknya yang menyerupai bunga dengan tekstur renyah membuatnya mudah dikenali dan disukai. Kue ini biasanya disajikan bersama kue kering lain, seperti Nastar dan Kastengel yang menjadi pelengkap suasana silaturahmi bersama keluarga.

Di Kota Medan, Kembang Goyang masih cukup mudah untuk ditemukan. Terutama saat menjelang hari-hari besar, kue ini mulai banyak dijual oleh pedagang kue kering musiman di beberapa pasar tradisional, seperti Pasar Petisah dan Pasar Sukaramai. Kehadirannya biasanya meningkat saat mendekati Lebaran, ketika permintaan masyarakat terhadap camilan khas semakin tinggi. Tidak jarang, Kembang Goyang dijual dalam toples bersama berbagai jenis kue lainnya.

Kembang Goyang tidak hanya hadir dalam tradisi Lebaran. Di Bali, kue ini memiliki fungsi yang berbeda. Bagi umat Hindu, Kembang Goyang kerap digunakan sebagai bagian dari sesaji dalam rangkaian upacara keagamaan, termasuk menjelang Hari Raya Nyepi. Dalam konteks ini, Kembang Goyang tidak lagi sekadar makanan, melainkan memiliki nilai simbolis sebagai bentuk persembahan yang sarat makna budaya.

Perbedaan peran tersebut menunjukkan bahwa Kembang Goyang memiliki posisi yang unik dalam budaya Indonesia. Satu jenis kue dapat hadir dalam dua konteks yang berbeda, yakni sebagai hidangan untuk tamu dan bagian dari ritual keagamaan. Hal ini mencerminkan bagaimana kuliner tradisional mampu melintasi batas budaya dan kepercayaan yang ada di masyarakat.

Secara historis, Kembang Goyang diyakini berasal dari pengaruh bangsa Portugis yang masuk ke Nusantara pada abad ke-16. Teknik pembuatan kue dengan cetakan dan cara penggorengan tertentu kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal. Dari proses adaptasi inilah, Kembang Goyang berkembang menjadi salah satu kue tradisional yang dikenal luas hingga saat ini.

Nama “Kembang Goyang” sendiri berasal dari cara pembuatannya. Cetakan berbentuk bunga dicelupkan ke dalam adonan, lalu dimasukkan ke minyak panas sambil digoyangkan hingga adonan terlepas. Gerakan tersebut menghasilkan bentuk bunga yang mekar dengan detail yang khas dan menarik perhatian.

Selain itu, bentuk kue ini juga sering dikaitkan dengan hiasan bunga pada sanggul pengantin Jawa. Hiasan tersebut biasanya bergoyang saat dikenakan, menciptakan kesan anggun dan hidup. Inspirasi inilah yang kemudian tercermin dalam bentuk Kembang Goyang yang identik dengan keindahan dan nilai estetika.

Seiring perkembangan zaman, Kembang Goyang tidak hanya mempertahankan bentuk tradisionalnya. Kini, banyak variasi warna dan bentuk cetakan yang digunakan untuk menarik minat generasi muda. Meski demikian, cita rasa renyah dan manis tetap menjadi ciri utama yang tidak berubah hingga sekarang.

Menjelang perayaan besar seperti Nyepi dan Lebaran, Kembang Goyang kembali hadir dan mudah ditemukan di pasar tradisional atau dibuat sendiri di rumah. Kehadirannya tidak hanya melengkapi suasana, tetapi juga menjadi pengingat akan kekayaan budaya yang terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dari waktu ke waktu.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment