Rosha Asthari / Asti Febriana

Pijar, Medan. “Ayo segera habiskan nasi nya, nanti mereka nangis loh” Rasanya ungkapan seperti ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Saat kita kecil dulu seorang ibu pasti suka memperingatkan anak-anak nya untuk tidak menyisakan satu butir nasi pun di piring. Seolah sudah menjadi kebiasaan dan turun-temurun ditanamkan pola pikir akan berharganya salah satu makanan pokok ini bagi keluarga.

Di zaman saat negara Indonesia baru saja merdeka dulu, tidak semua keluarga dapat mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya. Kebanyakan dari mereka hanya mempunyai sagu yang dipasok dua bulan sekali. Dikarenakan pada saat itu beras adalah makanan yang cukup langka dengan harga yang mahal dan hanya kalangan atas yang mempunyai akses mudah terhadap beras. Lambat laun, distribusi beras pun berjalan menuju masyarakat biasa dan tak lagi menjadi makanan kalangan atas saja. Butiran-butiran beras yang tergolong mewah ini, lalu diolah menjadi nasi dengan perhitungan yang akurat agar tidak cepat habis.

Karena untuk mendapatkan beras susah, ibu-ibu zaman dahulu memiliki ide agar nasi yang tersisa ini bisa dikonsumsi kembali. Salah satu caranya adalah dengan mengumpulkan kembali nasi-nasi yang tidak habis, untuk dijemur di atap atau pelataran rumah. Nasi sisa yang sudah dikeringkan ini disebut dengan nasi aking.

Walau nantinya bisa diolah menjadi berbagai macam pangan, cara awal memproduksi nasi aking tetaplah sama. Nasi-nasi sisa yang tidak dimakan dikumpulkan di satu wadah, dan dibilas di bawah air terlebih dahulu agar besrsih dari berbagai bumbu masakan lainnya seperti sambal, campuran sayur, dan lainnya. Setelahnya itu, nasi-nasi tersebut dipindahkan ke satu wadah datar atau bisa juga nampan dan disebar merata di atasnya. Wadah atau nampan berisi nasi tersebut lalu dijemur di tempat yang mendapat sinar matahari langsung selama kurang lebih dua hari.

Tujuan awal dari pembuatan nasi aking ini agar bisa untuk dikonsumsi lagi. Maka setelah dijemur, bernampan-nampan nasi aking yang sudah dikeringkan ini nantinya direndam dalam air sampai lunak, lalu dicuci sekali lagi sebelum ditanak ulang selama 30 menit seperti memasak nasi dari beras pada umumnya. Jika sudah matang, biasanya dinikmati dengan cara mencampurnya dengan kelapa muda parut dan sejumput garam untuk menambahkan rasa gurih pada nasi.

Namun, sekitar beberapa tahun yang lalu, lahir inovasi baru dalam mengolah nasi aking. Jika biasanya nasi aking berasa asin dan gurih, maka resep yang satu ini memperkenalkan rasa manis dan renyah pada nasi aking. Caranya juga cukup mudah. Bahan yang harus disiapkan adalah 100 gr gula, 100 ml air, dan sejumput asam sitrat.

Siapkan kuali berisi minyak panas, lalu masukkan nasi aking per satu genggam. Tidak perlu waktu lama dalam menggorengnya, hanya hitungan 15-20 detik saja sudah cukup. Lalu di kuali yang berbeda, masukkan gula, asam sitrat, dan air, lalu aduk sampai mengental. Setelah semua nasi aking sudah tergoreng, gabungkan ke dalam campuran gula yang sudah kental, lalu aduk merata dengan cepat dalam kondisi api yang sudah dimatikan. Nasi aking manis siap disajikan!

Jika ingin memperindah bentuk nya, tuang nasi aking yang sudah dibalut gula karamel ke dalam loyang atau cetakan bentuk apapun yang diinginkan selagi masih panas. Tunggu dingin dan biarkan dalam suhu ruangan. Setelahnya, potong sesuai selera dan pindahkan ke toples.

Gimana? Sudah tidak ada alasan untuk buang nasi yang tersisa, bukan?

(Editor: Muhammad Farhan)

Leave a comment