Nia Nuryanti Barus

Pijar, Medan. Jika berbicara mengenai makanan khas dari suku Batak Toba, maka seharusnya tidak asing lagi dengan makanan satu ini. Ya! Saksang. Meskipun makanan ini berasal dari suku Batak Toba, namun banyak orang mengetahui dan menggemari kuliner satu ini.

Saksang merupakan masakan khas yang berasal dari suku Batak Toba di Sumatra Utara, yang terbuat dari olahan daging babi yang biasa disebut dengan istilah B2. Meskipun begitu, banyak pula masyarakat yang memasak saksang menggunakan daging anjing atau dikenal dengan B1, daging ayam, daging kerbau, hingga daging sapi. Sebelum diolah, daging akan dipotong kecil-kecil yang kemudian akan diolah bersama dengan bumbu dan rempah-rempah yang khas.

Masakan ini terkenal memiliki aroma yang harum dengan rasa pedas dan ciri khas bumbunya yang kuat akan rempah-rempah. Seperti bawang merah, bawang putih, cabai, ketumbar, serai, jahe, lengkuas, kunyit, daun jeruk, dan daun salam. Kuliner ini juga biasanya diberi tambahan andaliman alias merica batak.

Karena akan dimasak dengan menggunakan campuran darah dari hewan yang digunakan atau dikenal juga ‘margota’, maka penggunaan rempah-rempah yang banyak bertujuan untuk menghilangkan aroma amis dari darah dan daging. Namun, ada juga saksang yang diolah tanpa darah yang disebut dengan ‘naso margota’.

Biasanya, saksang paling sering dimasak menggunakan daging babi oleh masyarakat Batak Toba. Sebagai salah seorang penikmat, Heri Nainggolan mengatakan bahwa hal ini terjadi karena daging babi dipercaya oleh suku Batak Toba memiliki makna yang sakral “Biasanya saksang akan selalu dimasak dengan menggunakan daging babi dan jarang sekali menggunakan daging yang lain karena biasanya dalam acara adat perkawinan, daging babi akan dimasak saksang dan kepalanya akan dihidangkan kepada Hula-hula,” ungkapnya.

Kuliner ini biasanya dianggap istimewa oleh suku Batak Toba dan akan dihidangkan pada saat upacara-upacara adat yang terdapat pada suku Batak Toba, seperti pesta adat perkawinan, kematian, maupun acara-acara keagamaan. Meskipun berasal dari Sumatra Utara, namun sobat Pijar dapat dengan mudah menjumpai kuliner ini di berbagai daerah. Biasanya tempat yang menyediakan makanan ini adalah restoran-restoran yang menyajikan kuliner khas Batak.

Meskipun saksang selalu identik dengan masakan non-halal, namun sobat Pijar tidak perlu khawatir jika ingin mencobanya. Dikutip dari merahputih.com pada saat ini, untuk melestarikan makanan tradisional di nusantara. Maka, saksang sudah banyak dijadikan sebagai resep kuliner nusantara, di mana olahan daging non-halal yang digunakan diganti menggunakan daging ayam, sapi, maupun kerbau. Kemudian darah yang digunakan juga dapat diganti dengan hati hewan yang digunakan ataupun dengan campuran kelapa sangrai dan kaldu bubuk. Lalu untuk ,menambah cita rasa yang kuat, penggunaan rempah-rempah dan bumbu yang banyak akan tetap digunakan.

Namun, menemukan olahan saksang yang halal masih terbilang cukup sulit, dikarenakan belum banyak yang menjualnya. Jadi mungkin sobat Pijar yang ingin mencobanya bisa membuat sendiri kuliner ini, pastinya dengan olahan daging yang halal namun tetap mengikuti bumbu dan rempah khas saksang agar tidak menghilang cita rasa aslinya.

(Editor: Muhammad Farhan)

Leave a comment