Hits: 13

Marshella Febriyanti Hutabarat

“Kael! Kael! Bangun atau Bibi Seren akan datang dengan seember airnya!” teriak perempuan kecil dengan rambut kepang dua khas miliknya itu, sembari menggoyang-goyangkan tubuh sang empunya nama.

Kael duduk dengan terpaksa di atas tempat tidur, piyama bergambar bunga matahari kesukaannya terlihat kusut menunjukkan betapa lamanya ia sudah tertidur. Kael mengucekkan matanya yang masih tertutup sempurna itu secara perlahan, beberapa kali ia terlihat masih menguap.

“Aduh, Lyra kamu sungguh menggangguku pagi ini,” protes Kael yang langsung ditepis oleh gadis itu.

Lyra memukul lengan Kael cukup keras seraya berkata, “Halo, ini sudah siang. Ayo segera mandi, ada banyak sekali madu yang harus kita panen sebelum musim dingin.”

Tidak habis pikir, Kael masih dengan santainya berjalan gontai menuju kamar mandi setelah didorong Lyra, sehingga membuat dirinya hampir tersungkur di lantai kayu yang dingin itu. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, jangan tanya ini sudah keberapa kalinya terjadi.

Matahari sudah semakin tinggi, udara panas mulai masuk lewat celah rumah. “Ah, pasti sekarang sudah pukul satu siang,” terka Kael usai mandi dan bersiap menuju kebun belakang Bibi Seren.

Sesampainya Kael di sana, ketiga temannya yang lain termasuk Lyra menatapnya malas. Ini sungguhan, bukan lagi tatapan bercanda yang mungkin mereka lemparkan saat situasi ini jadi yang pertama atau mungkin kedua kalinya.

“Dirimu sajalah yang bilang, aku lelah,” ucap yang paling kecil dan pendek di sana, anak laki-laki berambut merah dengan tahi lalat di bawah mata kanannya.

“Aku? Lyra saja, aku juga lelah.” Gadis lainnya kemudian ikut menyusul duduk di sebelah kembarannya itu.

“Kiro, Kira! Pusing deh kalau kalian sudah sangat kompak dalam hal melempar tanggung jawab begini. Baiklah, biar aku yang menghampiri Kael,” ucap Lyra yang hanya bisa berpasrah diri melihat kelakuan anak kembar di hadapannya.

Kiro dan Kira duduk meluruskan kakinya, melihat Lyra berjalan menjauh dan berbicara dengan Kael. Dari posisi mereka sekarang, mereka tetap dapat menangkap ekspesi bingung Kael. Bagaimana tidak, dirinya bangun dan mandi terlalu lama sehingga pekerjaan yang disuruh Bibi Seren sudah selesai lima menit lalu.

“Bagaimana kalau gantinya, Kael dapat bagian membersihkan sisa-sisa kotoran pekerjaan kami tadi? Aku, Kiro, dan Kira sudah sangat lelah dan sepertinya tidak punya energi lagi untuk membereskannya,” ucap Lyra yang berusaha melakukan negosiasi dengan Kael, sehingga Kael tidak dimarahi Bibi Seren dan tetap mendapat upah.

Kael hanya bisa menggaruk tengkuknya yang Lyra yakin tidak gatal sama sekali. Dengan berat hati, Kael wajib melakukannya atau dia tidak akan punya uang yang cukup untuk ikut berburu biji tanaman bunga matahari yang langka di Fayemarket musim depan, festival tahunan yang biasa diadakan oleh kasta peri tanpa sayap seperti empat sekawan ini.

Usai Kael menyelesaikan pekerjaannya, ia ikut bergabung duduk bersama temannya yang lain. Ia menyapu peluh keringat di wajah dengan lengan bajunya yang panjang. Agaknya hari pun sudah menjelang sore, pasalnya matahari terlihat perlahan bergerak ke barat.

“Maaf ya teman-teman, aku hampir lupa hari ini harus memanen madu Bibi Seren. Aku berjanji lain kali tidak akan terlambat lagi!” ucap Kael penuh semangat, tetapi temannya yang lain tidak memberi respons apa pun.

Kiro menyenggol pelan lengan saudari kembarnya, “Hitung, ini janjinya yang keberapa?” Kira menggeleng sembari mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.

“Ah, ya…ya…ya…,” Kiro mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajah Kael dengan malas.

Kael sudah menebak tanggapan teman-temannya ini, tetapi dia tidak pernah berubah. Kalau bukan karena kebaikan hati Lyra, dia sudah pasti tidak akan punya teman kalau sifatnya seperti ini terus.

“Hei sudahlah, aku kemarin berbicara dengan wanita tua di ujung jalan sana. Katanya dia butuh bantuan kita untuk membersihkan pabrik sari bunga kecil di belakang rumah miliknya,” tutur Lyra membawa topik baru.

“Wow, kau yakin? Yah, walaupun katanya kecil itu pasti akan sangat melelahkan,” sambung Kira. Kiro menepuk bahu Kira, seolah mengirimkan energi baru kedirinya agar bersemangat.

“Bayarannya lumayan!”

Mata mereka bertiga seketika itu juga langsung berbinar, seolah kata lelah barusan bukan tantangan besar. Kael yang paling bersemangat mencondongkan sedikit tubuhnya siap dengan pertannyaannya.

“Kapan?”

***

Kiro, Kira, dan Lyra sudah berdiri hampir setengah jam di depan rumah wanita tua pemilik pabrik sari bunga itu. Mereka tidak yakin dan mungkin hampir pulang karena tidak ada jawaban dari ketukan pintu.

“Dirimu yakin Lyra berbicara dengan yang punya rumah?” ucap Kiro setelah mengetuk sekali lagi pintunya.

“Tentu saja, sepertinya kita harus menunggu sebentar lagi sekalian menunggu Kae… Eh!” Belum selesai Lyra menyelesaikan kalimatnya, pintu sudah terbuka memperlihatkan wanita tua yang masih tetap cantik dengan gaun coklat muda bermotif unik.

“Maaf, maaf, aku baru saja selesai memasak untuk kalian,” dengan langkah gemetarkarena sudah tua, ia menuntun ketiga anak kecil itu menuju ruang makannya.

“Wah….” Hanya kata itu yang terucap dari bilah bibir ketiganya, takjub dengan berbagai hidangan yang tertata rapi di atas meja.

“Kami tidak datang untuk diberi makan secara cuma-cuma, Nek,” ucap Lyra tidak enak hati.

Nenek itu berjalan mendekat, membawa duduk Lyra, Kiro, dan Kira.

“Anggap saja rezeki kalian, anak muda. Sudah lama sekali aku tidak menjamu tamu atau makan bersama orang lain, jadi ini sangat menyenangkan.”

Ketiganya kemudian menyantap makanan di atas meja dengan begitu lahap, hampir tidak ada yang tersisa. Kiro begitu kenyangnya pun agak kesulihan bergerak, kondisinya tidak jauh berbeda dengan Kira dan Lyra.

“Kalau kalian sudah siap, boleh langsung saja ke belakang ya, pabriknya ada di sana,” ucap si nenek sebelum pergi menghilang di balik tirai kamarnya.

Kira teringat satu hal, seperti masih ada yang kurang, “Kael?”

“Halah, lupakan sajalah dia itu, kalau masih mau menunggu sudah pasti pekerjaan kita tidak akan selesai sore ini,” ucap Kiro agak kesal.

Akhirnya mereka bertiga bergegas menuju lokasi yang dipinta oleh wanita tua barusan. Tidak perlu berpikir lama, seperti sudah mengerti jobdesk mereka masing-masing, mereka bergerak secara otomatis.

“Debunya cukup tebal, pasti sudah lama tidak digunakan, ya,” gumam Kira sembari menepuk-nepuk debu di atas tumpukan kardus di ujung ruangan.

Saat Kira menggeser tumpukan kardus kosong itu keluar, ia menemukan sebuah kunci di dasar paling bawah. Bentuk gagangnya seperti lilitan akar pohon besar dengan bentuk bulat di ujungnya untuk pegangan. Warna silvernya mengkilap seperti barang baru.

“Lihat aku menemukan sesuatu!” teriaknya kencang agar yang lain mendengar dari kejauhan.

Lyra dan Kiro segera berlari ke arahnya, melihat sesuatu yang aneh di genggaman Kira.

“Di mana kau menemukan itu, Kira?” tanya Kiro lebih dulu.

Kira menunjuk tempat ia mendapatkan kunci itu, “Di sana.”

Lyra agak gugup, seperti ada sesuatu di dalam kepalanya yang tidak ingin ia bagikan. Namun, pada akhirnya tetap ia sampaikan.

“Aku…Aku sepertinya tahu itu kunci untuk apa,” ucap Lyra.

“Untuk apa?” Si kembar itu bertanya dengan kompak.

Lyra membawa mereka berdua ke belakang pabrik, tidak banyak cahaya di sana karena memang hanya ada satu lampu berwarna kuning saja. Sementara hari mulai gelap, angin dingin menambahkan suasana menyeramkan.

“Memang kita boleh membukanya? Apa kita beri tahu Nenek Ann saja? Duh, kita masuk saja, ya sudah gelap?” Lyra seperti orang bodoh sekarang, bertanya tanpa memberi ruang untuk Kiro dan Kira menjawab.

Kiro memegang Pundak Lyra, “Buka saja, ini kan bagian dari pekerjaan kita untuk membersihkan Gudang.”

Kira mengangguk-angguk penuh semangat mendukung perkataan Kiro.

“Biar aku yang buka,” lanjut Kiro.

Sedetik sesaat peti terbuka, cahaya kuning menyilaukan mata menyeruak keluar. Lyra, Kiro, dan Kira menyipitkan matanya berusaha melihat apa isi peti tersebut. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu banyak emas di dalamnya.

“Kita harus beritahu Nenek Ann!” tegas Lyra menggendong peti itu di dekapannya.

Lyra berlari ke dalam rumah disusul Kiro dan Kira di belakannya. Mereka memanggil dan mengetuk pintu kamar Nenek Ann dengan gerakan cepat. Lalu, sesaat kemudian keluarlah seseorang dalam dalam.

“Mengapa? Oh! Peti yang aku cari-cari selama ini, di mana kalian menemukannya?” ucap Nenek Ann bersemangat.

Lyra meletakkan peti tersebut di atas meja, bersama mereka memeriksa isinya. Nenek Ann tampak tidak peduli dengan emas yang di dalam, dirinya malah terus menggali ke bawah seolah mencari hal lain.

“Di mana ya?” gumamnya lirih.

Setelah ia mendapatkan yang dicari, segera ditariknya dan terlihatlah selembar kertas yang tampak biasa saja, tidak ada istimewanya. Ketiganya pun bingung.

“Ini adalah surat dari mendiang suamiku, aku hampir kehilangan harta paling berharga,” ucapnya memeluk erat kertas itu.

Nenek Ann menyusun kembali emas yang dikeluarkannya ke dalam peti, seolah sungguh tidak tertarik sama sekali.

“Nek, kami sudah selesaikan pekerjaan kami, um… Sepertinya sudah waktunya kami kembali, hari juga sudah malam,” ucap Lyra.

Nenek Ann berdiri berjalan ke kamarnya mengambil beberapa koin perak dari dompet kecilnya, lalu membaginya ke Lyra, Kiro dan Kira.

“Itu upah kalian, dan ini bawa saja bersama kalian ke rumah.”

Nenek Ann menyerahkan peti tersebut ke tangan Lyra. Awalnya, Lira menolak dengan keras, ia pikir bayarannya tidak sebanding dengan pekerjaan mereka. Namun, dengan sekeras apapun Lyra menolak, Nenek Ann tetap ingin memberikan isi peti tersebut kepada mereka.

“Ambil saja, aku juga tidak membutuhkannya,” ucap Nenek Ann terakhir sebelum benar-benar Lyra menerima peti itu.

“Baiklah, terima kasih banyak ya, Nek. Kami sangat senang sekali dijamu seperti anak sendiri dan diberi hadiah besar seperti ini,” tutur Lyra tulus sembari membungkukkan badannya.

Nenek Ann tersenyum manis, lalu memberi pesan, “Hadiah ini hanya milik kalian, jangan membagikannya secara cuma-cuma ke orang lain, ya.”

Usai dari sana ketiganya berjalan pulang ke rumah masing-masing. Namun, dari kejauhan terlihat Kael berlari seperti dikejar anjing. Bahkan dirinya hampir tidak bisa berhenti dan menabrak Lyra sehingga petinya terjatuh dan beberapa emas terhempas ke luar.

“Maafkan aku, apakah kalian sudah selesai dengan pekerjaannya?” tanya Kael tidak tahu malu.

“Kau tidak lihat ini sudah gelap, masih bertanya?” sarkas Kiro.

“Aduh maaf ya, eh itu tadi apa? Adakah bagianku? Aku janji akan membantu lain kali,” balas Kael, matanya menatap lekat barang bawaan Lyra.

Kiro sudah mencapai batas kesabarannya, “Tidak ada kata lain kali lagi, kau selalu meremehkan segala hal, dan selalu saja terlambat. Sudah diberitahu, diingatkan, tetapi tetap saja tidak ada yang berubah. Mau sampai kapan? Kami tidak mau lagi berteman denganmu, Kael! Sebagai balasan dari keteledoranmu dalam menghargai waktu, tidak ada lagi upah yang akan kami bagikan saat dirimu tidak ikut bekerja.”

Bagai disambar petir, Kael berdiri kaku, diam tidak bergerak. Benar, seharusnya dia sadar akan perbuatannya sekarang. Tidak akan ada sepersen upah yang akan diberikan pada orang yang tidak bekerja.

“Aku sangat menyesal, sungguh lain kali aku akan lebih menghargai waktu. Aku sudah melewatkan kesempatan besar untuk mendapat harta karun itu,” ucap Kael menundukkan kepalanya.

Kiro tidak menjawab dan malah menarik Kira berjalan melewati Kael bersamanya. Lyra mau tidak mau ikut berjalan di belakang Kiro, mungkin ini akan jadi pelajaran berharga yang dapat diingat Kael selamanya.

Leave a comment