Nadila Tasya Tanjung

Sudah lima bulan kami sekeluarga pindah ke sini. Sebuah desa di pedalaman Sumatra Selatan. Ayahku seorang dokter. Ia dilahirkan dan dibesarkan di desa ini. Karena itulah, ayah bersedia dipindahkan. Katanya, ingin mengabdi pada tanah kelahiran. Kami menempati rumah kakek yang sudah meninggal dua tahun lalu.

Aku agak susah menyesuaikan diri. Aku bahkan belum mengenal semua teman sekelasku saat ini. Aku lebih suka menyendiri. Aku menderita leukimia sejak kecil. Banyak dokter yang berusaha menyembuhkanku, termasuk ayahku sendiri. Namun, hasilnya nihil, aku tahu hidupku tak akan lama lagi.

Sudah tiga hari aku tak masuk sekolah. Penyakitku kambuh lagi. Aku merasa kesepian, ayah sedang bekerja dan ibu sedang berbelanja. Sudah sejak dua hari yang lalu ibu tidak ke pasar karena harus menunggui aku yang sedang sakit. Namun, hari ini aku merasa lebih baik. Kukatakan pada ibu, tak perlu khawatir dengan keadaanku.

Tiba-tiba aku punya ide. Bosan terus menerus berada di tempat tidur. Mengapa tidak mencoba ke lantai atas? Rumah ini terdiri atas dua lantai. Sebenarnya ayah melarangku naik ke sana, katanya tempat itu berbahaya. Ah, mungkin ayah berlebihan. Aku kan anak laki-laki berusia sepuluh tahun.

Wah! Aku terkejut saat berada di atas. Di satu sudutnya terdapat tempat tidur. Juga sebuah rak penuh berisi buku. Buku adalah satu-satunya temanku sejak kecil. Aku mulai membuka buku-buku itu. Tiba-tiba seorang anak perempuan menghampiriku tampaknya ia sebaya denganku.

“Siapa kamu?” tanyaku terkejut dan marah.

“Aku tahu kamu bisa melihatku,” suaranya lembut terdengar.

“Apa maksudmu? Aku kan tidak buta!” suaraku meninggi.

“Aku tahu, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat hantu.”

Hantu? Aku tidak percaya mendengar ucapannya. Aku bisa melihat hantu? Ketika melihat pakaiannya, aku mulai berpikir. Modelnya agak kuno.

“Tidak percaya, ya?” katanya sambil tersenyum manis.

“Namaku Karina Rahardi. Dulu ini kamarku.”

Rahardi? Itukan nama keluarga Ayah. Tiba-tiba aku ingat cerita Ayah.

“Ayah pernah cerita sedikit tentang Karinna Rahardi. Kau…adik Ayah?”

Gadis itu mengangguk.

“Kau benar Farid.”

“Hei, kau tahu namaku?”

“Tentu saja. Aku tahu hampir tau semua tentang dirimu.” Pandangan Karina tertuju pada buku yang kubawa. Sebuah buku karya Hemingway.

“Kamu juga suka karyanya?” tanyaku.

“Ya, waktu masih hidup, aku suka membacanya, itu buku favoritku.” Aku tersenyum, ternyata kami punya selera yang sama.

“Kenapa kamu meninggal?” Karina tampak sedih, tetapi kemudian ia tersenyum.

“Aku menderita leukemia. Sama denganmu. Iya, kan?”

Aku mengangguk.

“Kurasa sebentar lagi aku menyusulmu. Semua dokter bilang begitu, kecuali ayahku…”

“Apa kamu pikir dokter yang menentukan hidup dan matimu?” Karina tampak marah. “Kamu masih punya kemungkinan untuk hidup selama Tuhan mengizinkan. Mungkin seratus atau seribu tahun lagi.”

Aku terdiam. Dalam hati membenarkan kata-katanya.

“Apa cita-citamu?” tanyanya kemudian.

Aku menghela napas dan menjawab, “Aku tidak punya cita-cita, karena tidak punya waktu untuk mencapainya. Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur sambil menanti ajalku tiba.” Ada perasaan takut dalam diriku saat mengucapkan kalimat terakhirku tadi. Karina tersenyum.

“Kau seperti aku dulu, Rid. Tidak punya teman juga cita-cita, hanya saja aku segera menyadari kesalahanku.”

“Kesalahan?”

“Ya, kesalahan terbesar dalam hidupku, juga hidupmu. Aku dulu juga takut memiliki cita-cita, tapi kuberanikan diriku. Dengan memiliki cita-cita, kau akan merasa hidupmu lebih berarti. Meski hidupmu tak akan lama lagi.” Sejenak ia terdiam.

“Kau anak yang pintar, Farid. Tapi buat apa pintar, bila tidak kau gunakan. Hidupmu tak akan berarti.”

Tiba-tiba saja aku merasa begitu bodoh. Karina telah menyadarkanku. Kini, kurasa ada kekuatan baru masuk ke dalam tubuhku.

“Farid…” terdengar ayah dan ibu memanggilku. Kulihat Karina. Dari matanya aku tahu, ia menyuruhku turun.

“Apa kita bisa bertemu lagi?” Karina menggeleng. Aku merasa sedih.

“Kau pasti akan dapat teman yang lebih baik lagi, Rid! Bukan hantu seperti aku.”

 Ketika hampir tiba di tangga, aku berbalik. Kemudian Karina berkata, “Dulu aku ingin jadi pengacara. Tapi aku tidak merasa sia-sia walaupun aku tidak berhasil mencapainya.” Kami sama-sama tersenyum. Perlahan-lahan Karina menghilang. Kulambaikan tanganku padanya.

Aku bergegas menuruni tangga. Kulihat ayah bersiap-siap untuk memarahiku. Namun, berubah pikiran saat aku berkata.

“Ayah, Ibu, aku ingin jadi penulis terkenal seperti Hemingway. Aku ingin menulis kisah hidupku sendiri.”

Ayah dan ibu terkejut mendengar perkataanku. Kulihat mata ibu berkaca-kaca. Ayah memelukku dan berkata, “Farid, Ayah akan selalu mendukungmu.” Kami bertiga tertawa gembira.

“Apa yang membuatmu berubah?” tanya ayah.

Aku tersenyum nakal, “Rahasia,” jawabku. ayah mengacak-acak rambutku, kemudian kembali tertawa. Entah mengapa, kurasa ia sudah tahu jawabannya.

Terima kasih, Karina. Kau telah membuat aku sadar tentang makna hidup yang sebenarnya. Bukan berapa lama kau hidup, tetapi apa yang kau lakukan dalam hidupmu.

Leave a comment