Haruskah kehilangan untuk kesekian kalinya?
Bolehkah meminta serakah?
Masih jatuh di tempat yang sama
Melelahkan dan terus berulang
Akhirnya,
akhirnya aku tidak bertemu denganmu lagi.
“Kael! Kael! Bangun atau Bibi Seren akan datang dengan seember airnya!” teriak perempuan kecil dengan rambut kepang dua khas miliknya itu, sembari menggoyang-goyangkan tubuh sang empunya nama.
Dikenal sebagai siswa paling rajin dan disiplin di sekolah, Lisa, si anak SMA yang baru duduk di kelas 11 terpaksa harus menjadi “target empuk” para pembuli. Semua bermula dari insiden kelas minggu lalu.
Kepalaku dipenuhi olehnya
Pikiranku pun tak berhenti melupa
Pagi itu, saat memasuki pelajaran biologi, guru melempar sebuah pertanyaan untuk memancing keaktifan suasana kelas. Aku dan temanku begitu kesulitan menemukan jawaban.
Cemerlang luas merambah ke segala arah
Salurkan terang, yang membuat nyaman
Langkahnya membawa aroma senja yang diam-diam menenangkan
Tak salah lagi,
itulah pesona yang tak menyebut nama,
tetapi setiap jiwa mengenalnya
Aku berjalan di lorong waktu yang sunyi
Orang-orang berlabuh pada bayang yang setia,
Langkahku terhuyung pelan
Seakan menanggung beban yang bukan milikku
Senja di Jakarta pada Juli kala itu, tepatnya di sebuah kafe, tampak sepasang jiwa tengah bercengkerama dengan tawa dan senyum yang seolah tidak bisa luntur di tengah ramainya lalu lintas sore itu.
