Hits: 46
Fatiha Fayza / Sri Muliana
Pijar, Medan. Cinta yang tulus tidak selalu membutuhkan kata-kata besar. Kadang, cukup dengan melodi lembut dan lirik yang hangat. Hal itu tergambar jelas dalam lagu “Teruntuk Mia” karya Nuh, sebuah surat cinta yang bertransformasi menjadi lagu penuh makna.
Dirilis pada akhir tahun 2024, lagu ini awalnya hadir tanpa banyak promosi. Namun, pada awal 2025, potongan lagunya mulai ramai digunakan di TikTok. Banyak warganet terhanyut oleh nada lembut dan liriknya yang terasa nyata, membuat “Teruntuk Mia” viral di berbagai platform musik digital. Hingga kini, lagu tersebut telah didengar lebih dari 48 juta kali di Spotify, menandakan besarnya apresiasi publik terhadap lagu ini.
“Alhamdulillah, dengan lagu ini, aku mulai dikenal, walaupun banyak yang hanya tahu lagunya tanpa tahu siapa Nuh,” ujar sang musisi.
Secara musikal, “Teruntuk Mia” hadir dengan aransemen yang menyentuh. Petikan gitar akustik berpadu lembut dengan dentingan piano dan vokal hangat. Nuh menciptakan atmosfer tenang yang mengajak pendengar ikut berhenti sejenak dan mendalami isi lagu.
Bagi Nuh, lagu ini bukan sekadar karya musik. “Teruntuk Mia” adalah bentuk rasa syukur atas pertemuannya dengan sang istri, Mia. Melalui lagu tersebut, ia mengenang momen pertemuan mereka yang bermula di bawah hujan momen yang begitu jujur dan berkesan.
Berdua menunggu di sini
Berharap hujan tak berhenti.
Bait itu menangkap perasaan kecil yang tulus dengan keinginan agar hujan tak segera reda, supaya momen itu terasa lebih lama. Hujan bagi Nuh bukan sekadar latar cerita, tetapi simbol dari kehangatan, kebersamaan, dan cinta yang tumbuh secara alami.
Diantara senyumanmu
Dan hujan di hari itu
Aku tak tahu mana yang lebih indah.
Lewat lirik itu, Nuh mengabadikan kenangan kecil yang menyimpan cinta besar. Tak ada drama berlebihan, tak ada kisah rumit. Hanya kisah dua insan yang menemukan kehangatan di tengah rintik hujan.
Di tengah popularitas “Teruntuk Mia”, Nuh sempat membagikan potongan momen pernikahannya di TikTok. Dalam video itu, ia memperkenalkan sosok yang menjadi inspirasi lagu ini sang istri, Mia. Di unggahannya, Nuh menulis kalimat yang hangat dan menyentuh.
“Namun ternyata jika bersama dengan orang yang tepat, saat-saat itu pun tidak menjadi masalah, bahkan terkadang bisa indah. Dan nanti saat hujan itu telah reda, kita lanjutkanlah berjalan.”
Unggahan itu terasa seperti perpanjangan dari lagu “Teruntuk Mia”. Ia tidak sedang memamerkan kemesraan, tetapi memperlihatkan bentuk cinta yang tenang dan dewasa cinta yang tumbuh dari rasa syukur. Visual akad nikah yang dibagikan diiringi lirik lagunya membuat pesan itu terasa semakin utuh, hujan bukan lagi simbol kesedihan, melainkan momen yang meneguhkan ikatan.
Menariknya, Nuh awalnya berencana menjadikan “Teruntuk Mia” sebagai lagu terakhir yang ia rilis. Ia bahkan sempat terpikir untuk berhenti dari dunia musik dan hidup “seperti orang biasa”. Namun, takdir berkata lain.
“Walaupun “Teruntuk Mia” ini sempat direncanakan jadi lagu terakhir. Tapi lagu ini justru membuka jalan baru dan bikin semangat untuk terus berkarya,” ungkapnya.
Lagu yang lahir dari rasa syukur pribadi ini justru menjadi pintu rezeki dan semangat baru. Nuh membuktikan bahwa karya yang lahir dari ketulusan tak pernah salah alamat, dan selalu menemukan hati-hati yang siap mendengarkan.
“Teruntuk Mia” mengingatkan kita bahwa cinta sejati tidak selalu tentang janji besar atau kemewahan. Terkadang, cukup dengan hadir di waktu yang tepat, cinta sudah menjadi hal paling indah dalam hidup seseorang.
Nuh menutup perbincangan dengan kalimat yang mencerminkan esensi lagunya.
“Aku ingin tetap jujur dengan apa yang aku rasa waktu menulis.”
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

