Hits: 39

Annisa Al Mahgfira / Siti Nasuha Abidin Damanik

Pijar, Medan. Sebuah rumah produksi film, bernama Miles Films Production akhirnya membawa kembali memori penonton ke awal 2000-an melalui film Rangga & Cinta (2025). Film ini dibuat kembali (rebirth) berdasarkan cerita dari film Ada Apa Dengan Cinta? pada tahun 2002.

Film ini bukan sekadar mengulang cerita lama, tetapi juga menghadirkan warna baru dengan tema musikal. Menggunakan puisi dan lagu-lagu karya Melly Goeslaw serta Anto Hoed, film ini berusaha merajut kembali ikatan emosional yang dulu melekat pada publik, dengan wajah-wajah baru melalui hasil audisi panjang dan pendekatan naratif yang segar.

Dalam inti cerita, konflik dibuat tetap sederhana, tetapi tetap kuat. Bercerita tentang Cinta, gadis populer yang dikelilingi sahabat dan keluarga hangat. Ia terpaut pada Rangga, siswa pendiam yang lebih nyaman menyelami buku daripada pergaulan. Ketertarikan yang berawal dari rasa penasaran berubah menjadi kasih sayang, hingga hubungan keduanya diuji pada dilema besar, antara setia kepada persahabatan atau mengikuti suara hati.

Film ini tidak hanya menyuguhkan nostalgia kepada penonton, tetapi juga membawa warna baru dengan tema musikal yang diusung dalam film ini. Lagu-lagu legendaris hadir bukan sekadar latar, melainkan alat bercerita yang mempertebal suasana dan memberi ruang bagi monolog batin para karakter.

Penggunaan bait-bait puitis dalam film menambah lapisan emosional, membuat momen-momen tenang terasa bernapas dan adegan-adegan konflik dalam cerita semakin lebih dalam.

Salah satu pembaruan signifikan terletak pada karakter Rangga yang menampilkan “wajah baru” dari sosok Rangga yang dulunya diperankan oleh Nicholas Saputra. El Putra Sarira hadir bukan sebagai tiruan visual, melainkan membawa ciri khasnya sendiri yang menjadikan Rangga versi baru terasa lebih segar dan autentik.

Secara sinematik, Riri Riza menjaga keseimbangan antara penghormatan terhadap karya asli dan keberanian berinovasi. Ritme narasi kerap diselingi adegan musikal, mengendur untuk memberi ruang pada puisi. Lalu kembali mengalir melalui interaksi sehari-hari yang membuat pengalaman menonton terasa segar, tetapi tetap akrab.

El Putra Sarira dan Leya Princy, sebagai pemeran tokoh utama Rangga dan Cinta, berhasil menghadirkan keterikatan yang kuat (chemistry), sehingga lebih meyakinkan dan menanggung beban emosional cerita dengan baik. Selain chemistry yang kuat, suara para pemain khususnya El Putra, sebagai Rangga, banyak mendapatkan komentar positif karena dinilai memiliki suara yang hangat hingga berhasil menyentuh hati penonton.

Rangga & Cinta menunjukkan hasil yang menjanjikan lewat penayangan mereka di layar lebar. Dilansir dari akun Instagram @milesfilms, sejak tayang perdana pada 2 Oktober 2025, film ini meraih 351.249 penonton pada hari ke-7 dan terus meningkat hingga menembus lebih dari 801.127 penonton pada 24 Oktober 2025.

Film berdurasi 1 jam 59 menit ini juga mencatat penilaian (rating) tinggi. Hal tersebut menjadi sinyal pertanda keberanian dalam membawakan film musikal pada masa kini, sehingga dapat diterima dengan baik oleh khalayak. Penerimaan tersebut, seperti halnya dalam setiap reinterpretasi karya ikonik, risiko, dan ekspektasi besar tidak terelakkan. Namun, Rangga & Cinta (2025) tidak mencoba menjadi kloning masa lalu. Film ini hadir sebagai percakapan antara generasi lama dan baru.

Film Rangga dan Cinta (2025) juga membuat memori dan pembaruan bagi generasi masa kini. Film ini sebagai pengingat bahwa kisah tentang persahabatan, pilihan, dan cinta pertama akan selalu relevan, selama diceritakan dengan ide baru yang masih segar.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment