Hits: 17

Zoraya Balqis

Thalassa. Nama yang diwariskan kepadaku dari mendiang ibuku yang kerap dijuluki “Sang Pelaut Giat”. Mulanya, aku sangat menyukai nama tersebut. Hingga tiba saatnya, aku menginjak bangku SMA dan teman-temanku terus memanggil “Talas” ketika aku menyusuri lorong kelas. Toh, ga salah juga. Kulitku saja seperti ubi talas karena sering diterpa sinar mentari.

Kisah ini bermula dari orang tuaku yang berprofesi sebagai nelayan di desa Tumbak, Sulawesi Utara. Sebelum Ibu pergi dari dunia ini, ia sering menghadiahkan lentera usang di setiap ulang tahunku. “Bu, kenapa sih, hadiah ulang tahunku begini terus, teman-teman Thalassa aja hadiahnya yang keren!” kataku dengan kesal. Namun, Ibu hanya tertawa lembut, beriringan dengan ayahku yang sedang mengiris pelepah untuk atap gubuk, “Namanya hadiah ulang tahun. Pastinya spesial, dong. Walaupun setiap tahun hadiahnya sama, tapi pasti ada makna spesial di balik itu”.

Diriku yang berumur sepuluh tahun hanya mendengus sebal dan duduk di atas jembatan depan rumah. Mengibaskan kaki ke dalam air dan bergumam, “Andai Ibu menghilang aja di tengah laut. Kan ngasih lentera supaya ga tersesat ketika memancing ikan! Kenapa ngasihnya ke aku?”.

Setelah meredakan emosi yang menggebu-gebu, aku berjalan masuk ke gubuk lagi, menemukan Ibu dan Ayah sedang tertidur dengan pulas. Pemandangan tersebut membuat aku ikut mengantuk dan terkulai lelap. Beberapa detik setelah aku memejamkan mata, Ibu diam-diam pergi keluar sendirian untuk memancing ikan yang kuidamkan. Kala itu, musim tidak mendukung ikan-ikan untuk menghampiri pesisir desa kami. Namun, untuk menuruti keinginan putri kecilnya, ia tetap menyusuri laut demi laut dengan perahu rapuh dan lentera usang miliknya.

Paginya, aku dan Ayah kebingungan ketika Ibu tidak ada dimana-mana. Di saat genting itu, aku teringat oleh lentera usangnya. Aku berlari dengan gesit ke pinggir laut dan pupil mataku mengecil. Terkejut dengan temuan lentera usang Ibu yang masih utuh dan kaos biru miliknya. “IBUUUUU!” aku berlari histeris menuju tengah laut dan Ayah mencegahku, “Thalassa…Ibu sudah pergi”.

***

Tahun demi tahun berlalu sejak kejadian itu. Kini, aku sudah duduk di bangku SMA. Agar mengobati rasa rindu, aku terus membawa lentera usang itu kemana saja aku melangkah. Warnanya yang telah pudar, kacanya yang sedikit retak, dan sumbu minyaknya yang tidak sekuat dulu kerap memancing perhatian teman-teman sekolahku.“Hei, Talas! Emang kamu nggak capek bawa barang rongsokan begitu?” cibir Rani, salah satu kembang desa di desa kecil itu. Teman-teman lainnya pun turut menertawakanku.

Mendengar hal itu, aku hanya bisa tersenyum tipis, meskipun dadaku terasa sesak. Mereka tidak akan mengerti betapa pentingnya barang peninggalan dari orang tercinta. Lentera ini bukan sekadar jimat. Ia adalah sahabat yang menuntun setiap perjalanan hidupku sejak Ibu meninggal dunia.

Sore itu, teman-teman sekelasku bermain ke pesisir laut sebagai pencapaian setelah ujian akhir semester. Aku mengikuti rombongan mereka di belakang dengan lentera usang dalam genggamanku. Awan-awan semakin menggumpal tebal di atas laut dan angin semakin bertiup kencang, “Cih, hanya cuaca mendung aja, kok. Kalau begini aku bisa sih menyelam ke tengah laut. Lagi pula, sebagai bagian dari suku ini, mustahil tidak bisa mendayung perahu,” ujar Rani sambil menoleh ke arahku. Aku hanya menghela napas. Pasti ide busuk itu lagi.

“Hei, Talas! Sebagai anak dari Sang Pelaut Giat, lebih baik kita saling adu siapa yang dapat bertahan di cuaca kayak gini. Enteng aja kalau gini!” sahut Rani sambil menyikut lenganku dengan keras.

Aku dan Rani mempersiapkan perahu kami dan aku menoleh kepadanya, “Kata Ibu, orang angkuh kayak kamu pasti bakal dapet balasan dari yang diperbuat. Lagi pula, langitnya tidak kondusif untuk mendayung”. Mendengar responsku, Rani langsung menyanggah, “Huh, aku bukan angkuh. Tapi, aku tahu seberapa layaknya aku untuk beradu denganmu, bahkan dengan cuaca ekstrim seperti ini.”

Lagi dan lagi. Aku hanya mengangguk dan menerima tawarannya. Rani mulai mendayung perahunya dan disusuli oleh diriku yang sama sekali tidak tertarik dengan tantangan ini. Satu hal yang pasti, asal lentera itu berada di sampingku, aku akan aman.

Aku menepuk lentera Ibu dengan lembut, “Jaga aku dengan baik, ya”. Dengan semangat yang membara aku mulai mendayung di tengah badai yang memenerjang.

Tak lama, petir pun menyambar nyaring. Ombak menggulung dengan besar beriringan dengan angin yang semakin kencang. Teman-temanku berusaha untuk meneriaki namaku dan Rani. Namun sayang, kami berdua sudah di tengah hamparan laut.

Lentera yang sebelumnya padam, tiba-tiba bersinar dengan terang. Aku terkesima dengan penampakan tersebut hingga tanganku bergetar, “Bagaimana bisa cahaya hidup di tengah badai?” gumamku. Tidak seperti cahaya pada umumnya, cahaya lentera Ibu berwarna kuning keemasan dan sangat membantu penglihatanku di tengah badai ini.

“Talas! Talas! Kau di mana!” teriak Rani dengan panik. Aku segera mencari perahu Rani dan perahu tersebut sudah kosong tanpa awak. Namun, di balik perahu itu aku menemukan Rani yang hampir tenggelam, “Rani, pegang tanganku!” ucapku dengan menahan panik. Saat Rani meraih tanganku, cahaya lentera itu semakin terang dan keluar dari lentera. Mengangkat tubuh Rani yang basah kuyup ke perahuku layaknya mengangkat angin.

Sepanjang arus balik ke pesisir laut, aku hanya diam dan fokus ke arah pulang. Rani hanya melihatku dengan wajah memelas dan merasa bersalah, “Talas, maaf aku sudah meremehkan lentera itu. Berkatnya aku bisa diselamatkan”. Aku hanya mendengus dan menjawab singkat, “Baik, tapi jangan pernah mengolok-olokku lagi.”

Akhirnya, aku dan Rani tiba di pesisir dan semua teman-teman kami menangis histeris. Menunggu kami kembali.

Keesokannya, Rani dijatuhi hukuman dua minggu oleh Kepala Sekolah untuk mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk, karena hampir membahayakan nyawaku. Sembari melihat dirinya yang pusing menuntaskan hukuman tersebut, aku membelai lentera usang milik Ibu dan tersenyum.

“Kamu bener-bener menepati janji untuk menjagaku. Terima kasih banyak, Ibu,”ujarku dengan senyuman lega. Sejak kejadian itu, aku sering mendatangi pesisir laut dengan lentera usang milik Ibu. Yah, setidaknya sosok gadis berkulit “Talas” ini dapat menyelamatkan nyawa musuhnya dari bahaya.

Namun, satu hal yang aku tahu pasti, pelita lentera ini tidak akan pernah padam, bahkan di tengah badai kehidupan yang sedang kujalani.

Leave a comment