Hits: 17

Adelima Patricya Ginting

Pijar, Medan. Let me be your midnight, until the morning comes and you’ll go back to him – your daylight.”

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata Malioboro? Pada siang hari, tempat itu terasa sibuk dan penuh dengan keberadaan manusia. Namun, saat lampu-lampu kota meredup dan langkah-langkah kaki hampir tak terdengar, Malioboro berubah menjadi lebih sunyi, lebih manusiawi dan lebih jujur. Inilah yang tergambar dalam buku novel Malioboro at Midnight karya Skysphire.

Skysphire, sebagai penulis membawa pembaca larut dalam kisah cinta segitiga antara Sera, Ichard, dan Malio dengan kota Malioboro sebagai porosnya. Melalui konflik sederhana milik tokoh utama, pembaca diberi gambaran bahwa rasa kesepian, kehilangan, dan upaya memahami diri sendiri dapat menjadi sebuah “malam yang berat” bagi seseorang.

Sera merupakan seorang perempuan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan laki-laki bernama Ichard. Demi menggapai cita-citanya menjadi penyanyi terkenal, Ichard pindah ke Jakarta dan meninggalkan Sera di Jogja. Kepergian Ichard membuat tengah malam menjadi waktu yang menakutkan bagi Sera.

Pada akhirnya, Ichard menjadi seorang penyanyi terkenal yang sangat sibuk dan semakin “jauh” dari Sera. Tak hanya jauh dalam jarak, Ichard dan Sera menjadi “jauh” dalam hal komunikasi. Cinta yang awalnya manis perlahan menjadi luka besar bagi Sera.

Ketika Sera merasakan kesepian dan beban besar tentang hubungannya dengan Ichard, Malio secara tidak terduga hadir dan mengubah kehidupan Sera. Awalnya, Sera kesal dengan kehadiran Malio, tetapi kedekatan mereka akhirnya berkembang seiring waktu. Malio dapat dengan mudah membuat Sera tertawa dengan segala perilakunya. Malio menawarkan kehadiran dan persahabatan dengannya seolah menjadi “midnight” bagi Sera. Tanpa imbalan atau harapan apa pun.

Konflik baru pun tumbuh dari terciptanya cinta segitiga tersebut. Rasa tidak aman, ingin dicintai, takut ditinggalkan, dan pada saat yang sama, merindukan kehadiran yang tulus menjadi beban tambahan dalam keseharian Sera.

Dalam prosesnya, hubungan Sera dan Malio digambarkan tidak sekadar romantis, tetapi juga adanya elemen persahabatan dan penyembuhan batin di dalamnya. Kehadiran Malio bukan sebagai tokoh dramatis yang heroik, tetapi sebagai sosok yang memberikan keseimbangan emosional bagi Sera. Secara perlahan, dukungan dan kasih sayang dari Malio dapat membantu Sera melepaskan masa lalu dan beban emosional dari hubungan lamanya dengan Ichard.

Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan gaya kekinian, novel ini cocok untuk pembaca generasi muda. Alur cerita yang menggunakan teknik maju-mundur, juga menjadi pendukung dalam membangun suasana, meskipun bagi beberapa pembaca dapat membuat alur terasa lebih kompleks.

Novel Malioboro at Midnight membawa pembaca berjalan di trotoar Malioboro sembari menyelam ke pikiran tokoh-tokoh yang bertemu secara tak sengaja dan saling mengubah hidup satu sama lain. Tidak hanya itu, pembaca juga diingatkan bahwa setiap orang mempunyai “malam”-nya sendiri, yaitu malam yang membuatnya berhenti, menunduk, lalu perlahan mencoba memahami dirinya kembali.

Untuk kamu yang pernah merasakan kesepian, kehilangan, atau pernah mengalami kegagalan dalam hubungan jarak jauh, novel ini bisa jadi pilihan bacaan kamu. Bagaimana, tertarik untuk membaca?

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment