Hits: 9

Shefira Riany Manany

Pijar, Medan. Peringatan Hari Jurnalis Internasional pada 19 November kembali menjadi momentum untuk melihat bahwa kerja jurnalistik hari ini masih jauh dari kata aman.

Realitas yang tampak jelas adalah kebebasan pers masih berada di posisi rentan. Peringatan ini mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar liputan dan narasi, tetapi keberanian, integritas, serta perlindungan nyata bagi mereka yang bekerja menyampaikan informasi publik.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Tonggo Simangunsong, mengatakan bahwa kondisi jurnalis saat ini semakin penuh tekanan, apalagi di tengah derasnya arus disinformasi.

“Profesi jurnalis sekarang berada di posisi yang rentan dengan banyak ancaman. Oleh karena itu, jurnalis harus lebih kuat dalam verifikasi dan cek fakta, bukan sekadar wawancara semata,” ujar Tonggo.

Tonggo menegaskan bahwa serangan terhadap jurnalis baik berupa intimidasi, kekerasan, maupun kriminalisasi merupakan ancaman langsung terhadap demokrasi.

“Jurnalis itu bekerja di bawah undang-undang dan untuk publik. Tetapi kenyataannya, banyak dari mereka justru diintimidasi dan dianggap musuh,” tambahnya.

Ancaman hari ini juga berkembang menjadi bentuk yang lebih halus tetapi tidak kalah berbahaya, seperti swa-sensor di ruang redaksi, intervensi pemilik kepentingan, hingga tekanan digital. Doxing dan pembongkaran identitas pribadi terhadap wartawan menjadi pola baru yang semakin sering muncul.

“Serangan digital seperti doxing dan penggunaan ITE juga makin banyak terjadi. Kadang bukan laporannya yang diserang, tetapi akun media sosial jurnalisnya,” jelasnya.

Di tengah situasi tersebut, Tonggo menilai perusahaan media masih belum memberikan perlindungan memadai kepada wartawannya, terutama mereka yang menangani isu berisiko seperti korupsi, narkoba, atau kejahatan terorganisir. Ia menekankan bahwa laporan jurnalis adalah tanggung jawab perusahaan, bukan beban individu.

“Perusahaan media harus memperkuat perlindungan hukum. Jangan biarkan wartawan menghadapi ancaman sendirian,” tutupnya.

Peringatan Hari Jurnalis Internasional tahun ini kembali membuka kenyataan yang mungkin tidak nyaman didengar, yaitu jurnalis masih bekerja dalam medan yang penuh tekanan. Ancaman tidak lagi datang dari satu arah, bisa dari lapangan, ruang digital, bahkan ruang redaksi yang seharusnya melindungi mereka.

Momen ini hadir sebagai pengingat bahwa pekerjaan jurnalis tidak berhenti pada menulis berita. Selama ancaman masih terus muncul, peringatan seperti ini harus dibaca sebagai ajakan untuk lebih waspada, bukan sekadar rutinitas tahunan.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment