Hits: 23
Tasya Hapsari
Dikenal sebagai siswa paling rajin dan disiplin di sekolah, Lisa, si anak SMA yang baru duduk di kelas 11 terpaksa harus menjadi “target empuk” para pembuli. Semua bermula dari insiden kelas minggu lalu.
“Lisa, mana tugas Bahasa Inggris gue?” bentak Ryan, kakak kelas yang tidak naik kelas dan sekarang menjadi teman sekelas Lisa yang paling menyebalkan.
Lisa menatapnya dengan tenang, “itu tugas pribadi, bukan warteg. Nggak melayani titipan.”
Ryan tidak terima. Besoknya, Lisa melaporkan Ryan ke guru karena telat piket dan menyontek tugasnya yang didapat dengan mencuri buku tugas Lisa. Tapi bukannya dihukum, Ryan malah dibela karena ayahnya seorang kepala sekolah di tempat Lisa bersekolah.
Hari itu juga, sepulang sekolah, Lisa dicegat. Bukan oleh satu orang, tapi tiga anak laki-laki. Ryan dan dua temannya yang lebih terlihat seperti kacungnya.
“Sok suci lu, Lilis!” Ryan memelintir nama Lisa. Lilis adalah nama ibunya Lisa yang bekerja sebagai seorang ART atau Asisten Rumah Tangga.
“Ayo kita kasih pelajaran. Sekalian ajarin dia cara jadi pembantu yang baik!” ejek yang lain.
Namun, sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi, tiba-tiba tongkat kayu mendarat di kepala salah satu preman itu.
BRAK!!
“Sekolah silat mana yang ngajarin nyerang anak perempuan? Tiga lawan satu lagi?” kata pria paruh baya berkumis tebal. Tubuhnya kurus tapi berotot.
Para pembuli itupun kabur. Lisa gemetar, tapi berusaha tegar.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.
Lisa menggelengkan kepala tanda tidak apa-apa sambil menatap penuh keheranan dan sedikit rasa takut. Ternyata pria tua di depannya adalah tetangga barunya di gang sebelah yang baru pindah sebulan lalu, namanya Pak Iwan.
Sejak itu, hidup Lisa semakin sulit. Teman-temannya menjauh karena takut ikut dibuli. Lisa dipanggil “Lilis”, roknya pernah dirobek saat istirahat dan kursinya pernah disiram lem sampai dia harus berdiri 3 jam di kelas.
Suatu sore, Lisa secara bertemu Pak Iwan di warung kopi yang ternyata milik Pak Iwan. Dia duduk di bangku plastik, menyeruput kopi hitam.
“Pak… boleh saya duduk?”
Pak Iwan mengangguk. Seorang pria tua menepuk bahunya.
“Eh, Wan! Masih jago silat lu? Dulu kan murid-murid lu sampe jadi atlet semua. Kenapa sekarang berhenti?”
Lisa terkejut.
“Pak Iwan mantan pelatih silat?!”
Pak Iwan hanya tertawa kecil.
“Dulu. Sekarang cuma jadi pensiunan yang jualan kopi.”
“Bisa ajari saya silat tidak, Pak? Saya serius!”
Satu bulan kemudian…
Lisa datang ke sekolah dengan tatapan beda. Postur tegak, langkah ringan, dan senyum tipis, hasil latihan silat selama sebulan penuh dengan Pak Iwan. Ryan kembali mencoba berulah. Saat Lisa lewat, dia pura-pura menjatuhkan buku.
“Halo Lilis. Ambilin buku yang itu dong! Kan kamu terbiasa nunduk!”
Lisa hanya mendekat. Lalu… Wusshh Siiitthh!!! Kaki Ryan tersapu dan tubuhnya mencium lantai seperti sandal jepit di musim hujan.
“Hah? Gila ya lu!” Ryan bangkit, tapi Lisa sudah di belakangnya. Dia memelintir tangan Ryan, lalu menjatuhkannya lagi, kali ini dengan jurus “Banting Rasa Dendam”.
Teman-teman di kelas menonton dengan mulut menganga.
Salah satu siswa nyeletuk,
“Eh…, si Lilis jadi… Naruto?”
Lisa berdiri di atas kursinya, menunjuk Ryan.
“Ini untuk semua lem di kursi, rok yang kamu robek, dan untuk semuanya!”
Saat itu juga, teman-teman mulai rekam video. Aksi Lisa viral di TikTok dan Instagram dengan kalimat “Lilis Si Pembantu Berubah Jadi Sumala Karna Dibuli”
Beberapa hari kemudian, wartawan berdatangan ke sekolah. Lisa dan korban buli lainnya menjadi narasumber. Cerita mereka membuka aib sistem sekolah yang melindungi pembuli. Kepala sekolah, ayah Ryan diberhentikan. Ryan mendapat sanksi sosial, dan menjadi bahan lelucon satu sekolah.
Lisa tetap menjadi siswa teladan. Kini bukan cuma pintar secara akademik, Lisa juga menjadi atlet silat yang banyak memenangkan kejuaraan bahkan tingkat nasional.
Pak Iwan hanya tersenyum dari warung kopi, menonton TV yang menayangkan Lisa diwawancara.
“Bangga, Pak?” tanya si pemilik warung.
Pak Iwan angguk.
“Bangga, tapi takut juga. Jangan-jangan besok saya yang dibanting kalau kopinya kelamaan..”

