Atika Putri

Pijar, Medan. Siang yang panjang, Entah mengapa kakiku berat sekali untuk berjalan. Rasanya matahari sedang berada dekat sekali dengan kepalaku. Keringat tak henti-hentinya mengalir di keningku meski beberapa kali telah kuseka dengan tisu. Aku ingin secepatnya sampai ke rumah dan merebahkan diri di tempat tidurku yang nyaman sambil menyalakan pendingin ruangan di kamarku. Andai saja aku bisa secepatnya mendapatkan mobil yang telah ku minta kepada ayah, aku tidak perlu berjalan kaki dan naik angkutan umum ketika ingin pergi dan pulang kuliah seperti ini.

Aku memang bukan anak orang kaya. Namun beberapa bulan belakangan aku merasa keluargaku seperti mendapatkan rezeki yang tidak pernah ku sangka. Baru dua bulan yang lalu ayah telah membeli rumah baru yang cukup besar untuk keluarga kami. Jauh berbeda dengan rumah sebelumnya. Fasilitas di rumah baru kami sangat lengkap menurutku. Ayah juga memanjakan ibu dengan dapur yang luas dan peralatan yang lengkap. Ayah tahu bahwa ibu suka memasak dan aku juga adikku suka makan. Hampir sebulan yang lalu aku minta untuk dibelikan mobil pada ayah. Aku merasa lelah selama hidup hanya mengandalkan angkutan umum setiap ingin pergi. Ayah mengiyakan dan memintaku untuk menunggu. Ayah bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah kantor sebelum akhirnya setengah tahun yang lalu mengundurkan diri dan membuka usaha bersama temannya. Dan yang kami nikmati sekarang ini adalah berkat keputusan ayah tersebut.

Tenggorokanku kering, Bahkan sulit rasanya untuk menelan ludahku sendiri. Rumahku berada di dalam komplek yang luas. Jadi aku harus tahan berjalan kaki dari halte yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari rumahku. Ku pikir sesuatu yang dingin layak melewati tenggorokanku yang butuh penyegaran ini. Langkahku terhenti di salah satu gerobak yang menjual sop buah di pinggir jalan yang kulewati. Aku memesan satu porsi dan mengambil posisi duduk di bangku yang menghadap ke jalan. Untungnya tidak perlu menunggu lama untuk menunggu sang penjual meletakkan semangkuk sop buah di hadapanku. Hmm.. Berbagai macam buah segar dengan beraneka warna ditambah kuah berwarna merah muda dan serutan es di atasnya. Rasanya aku tak perlu berlama-lama menyiksa tenggorokanku ini. Langsung aku menyantap pesananku dan aku bisa merasakan dingin yang berjalan dari dalam tenggorokanku hingga ke perut.

“Assalamu’alaikum Nak,” tiba-tiba terdengar suara pelan dan lemas yang mengganggu kenikmatan makanku.  Seorang pria paruh baya dengan pakaian kotor dan lusuh memasang wajah memelas di sampingku sambil menengadahkan tangannya di hadapanku. Aku sangat paham maksudnya. Aku meraih tas dan merogoh bagian depan tasku untuk menemukan uang receh. Pengemis itu langsung berterima kasih dan pergi setelah ku berikan selembar uang dua ribuan.

Sebenarnya aku tak suka dengan pengemis. Apalagi melihat pria tadi. Aku tidak melihat kecacatan dalam fisiknya. Dari usianya pun belum terlalu tua, tidak jauh berbeda dengan usia ayahku. Apalagi ia terlihat sehat-sehat saja. Seharusnya pekerjaan yang lebih baik bisa ia dapatkan dengan fisik seperti itu. Namun memang zaman sekarang orang sudah malas bekerja. Mereka lebih memilih meminta-minta di jalan dibandingkan bekerja. Kalau dipikir-pikir uang yang dihasilkan dari mengemis itu memang lebih banyak dari pada pekerja lainnya.  Pengemis zaman sekarang tidak bisa dipercaya. Bisa saja di luar ia meminta-minta namun di rumah ia memiliki elektronik yang lengkap dan mobil mewah.

“Huh, lain kali aku harus lebih pelit terhadap pengemis yang sehat seperti mereka,” ucapku pelan sehingga hanya diriku sendiri yang mendengar perkataanku itu.

Aku telah berhasil menghabiskan semangkuk sop buah yang telah menyegarkan tenggorokanku. Jalan sudah tidak teralu panas seperti tadi. Syukurlah, sepertinya matahari sedang asyik bersembunyi di balik awan. Aku harus cepat-cepat pulang ke rumah sebelum matahari kembali menampakkan diri dan membuat mataku sipit mendadak.

Aku kembali menyusuri jalan menuju ke rumah. Namun ada yang mengganggu pandanganku. Seseorang sedang berdiri dibalik pohon yang tak jauh dariku sambil memegang handphone. Sepertinya aku tidak asing dengan orang itu. Aku menyipitkan mata. Ya ampun, itu pengemis yang menghampiriku tadi. Dari yang bisa ku lihat, handphone yang sedang digenggamnya bukanlah barang murahan. Aku terkejut. Ya Tuhan, aku tertipu. Bahkan miliknya lebih mahal dari milikku.Aku menggelengkan kepala dan berusaha tidak memedulikannya. Aku terus berjalan menuju rumah.

Baru saja aku membuka pagar dan langsung dikejutkan dengan ayah yang sedang berdiri di samping sebuah mobil yang belum pernah ada di rumah sebelumnya. Mobil itu terparkir indah di halaman rumah kami.

“Ini mobil kamu. Mulai besok kamu bisa pakai mobil ini kemana-mana,” ujar ayah yang langsung membuat bola mataku seolah akan keluar dari tempatnya. Aku menghampiri ayah dan melompat kegirangan ke arahnya dan langsung memeluknya.

“Makasih ayah. Akhirnya Linda ga usah capek-capek jalan kaki panas-panasan lagi,”

“Udah bisa bawa mobil kan? Udah belajar kamu kan?,”

“Udah dong yah. Linda kan menunggu-nunggu saat ini tiba,”

“Yasudah kamu istirahat sana. Sepertinya kamu lelah sekali hari ini. Secepatnya kita akan mengurus SIM kamu,”

“Iya yah, panas banget hari ini. Lihat nih keringatnya ga berhenti-berhenti dari tadi. Yasudah Linda masuk dulu ya yah,”.

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Hari ini berbeda. Walaupun matahari sedang terik, namun aku terlindungi dan malah merasa dingin di dalam sini. Kuliahku sudah selesai dan aku sedang berjalan-jalan dengan seorang temanku menyusuri kota dengan mobil baruku. Mobil yang baru saja ayah beli kemarin. Indah sekali rasanya. Yang biasanya aku sedang berjalan kaki di jam seperti ini, namun mulai hari ini aku bisa bersantai-santai di dalam mobil tanpa harus merasakan teriknya matahari yang menyengat kulitku.

“Lin, boleh minggir sebentar gak. Aku mau beli minum dulu,” ucap temanku. Aku mengiyakan dan segera berhenti di depan sebuah kedai. Temanku turun dari mobil dan masuk ke dalam kedai tersebut. Aku mengotak-ngatik handphone­ku sambil menunggunya. Lima menit kemudian dia sudah duduk kembali di sebelahku.

“Lin tahu gak? Tadi ada pengemis gitu, belum begitu tua sih. Tapi kasian deh, tangan kanannya ga ada. Keliatan kumel juga. Aku kasihan jadi ku kasih aja uang kembalianku beli minuman tadi,” ucap temanku saat aku sudah mulai mengemudikan mobil kembali.

“Jangan terlalu percaya sama pengemis jaman sekarang. Bisa jadi mereka lebih kaya dari kita,” jawabku dan langsung disetujukan juga olehnya setelah ku ceritakan tentang pengemis yang ku temui kemarin.

Beberapa saat kemudian kami merubah pokok pembicaraan kami. Aku dan temanku membicarakan penyanyi yang kami idolakan. Kabarnya mereka akan menggelar konser di kota kami. Ditambah lagi siaran radio di mobil yang memutar lagu idolaku itu. Aku langsung histeris mendengarnya. Tiba-tiba terdengar sesuatu dan spontan aku menginjak rem. Sepertinya aku menabrak seseorang. Aku dan temanku panik setengah mati. Kami langsung buru-buru keluar dari mobil.

Aku sangat terkejut saat melihat seseorang terbaring di depan mobilku dan mengeluarkan darah dari kepalanya. Pakaiannya lusuh dan badan serta wajahnya kotor. Bajunya sedikit terangkat. Tangan kanannya berada di balik baju yang dipakainya. Sepertinya ia berusaha untuk menyembunyikan tangannya itu.

“Ya ampun Lin, ini pengemis yang tadi minta-minta sama aku. Ternyata betul kata kamu. Dia penipu, tangannya disembunyiin di balik baju gitu. Mungkin ini karma yang dititipkan Tuhan lewat kamu Lin,” ucap temanku yang terdengar seperti ada dendam di hatinya.

Jantungku berdegup kencang. Nafasku memburu. Ada gejolak di dalam diriku yang kurasakan. Keringatku mulai bercucuran. Mataku tidak bisa berpaling dari seseorang yang ku tabrak itu. Perlahan mulutku terbuka dan mengeluarkan suara pelan yang tak dapat menyembunyikan kepedihan.

“Ayaaaahhh”.

Leave a comment