Hits: 39

Hetno Daniaty Br Singarimbun / Michael Sitorus

Pijar, Medan. Di tengah hamparan pasir dan hembusan angin pantai utara Pulau Jawa, terdapat dua lelaki bertelanjang dada yang saling berhadapan. Sorak penonton berpadu dengan tabuhan gamelan, menciptakan suasana penuh semangat. Permainan tersebut disebut dengan Gulat Pathol, yaitu tradisi kebanggaan masyarakat Rembang yang masih bertahan hingga kini.

Jika Jepang terkenal dengan Sumo sebagai lambang kekuatan dan kehormatan, maka Indonesia memiliki Pathol, sebagai permainan olahraga gulat tradisional yang sarat makna sejarah dan budaya. Mulai dari arena sederhana hingga panggung kesenian rakyat, Pathol menjadi simbol ketangguhan dan warisan leluhur yang tidak lekang oleh waktu.

Permainan ini mempertandingkan dua orang yang saling beradu kekuatan di tengah arena pasir. Para atletnya mengenakan celana pendek dan mengikatkan selendang, atau sabuk kain di bagian pinggang. Dalam pertandingan, mereka saling berusaha untuk menjatuhkan lawan tanpa melakukan pukulan atau tendangan.

Diiringi alunan musik tradisional gamelan Jawa, suasana yang dipertunjukkan dari pertandingan Gulat Pathol terasa meriah. Tabuhan gong, kendang, dan kempul berpadu dengan teriakan penonton yang memenuhi arena. Bagi masyarakat pesisir Rembang, olahraga Gulat Pathol bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Dilansir dari tuban.inews.id, Gulat Pathol memiliki manfaat secara fisik dalam melatih kekuatan otot paha dan lengan, serta melatih teknik ketahanan tubuh seseorang.

Di balik keseruan Gulat Pathol, tersimpan kisah sejarah panjang yang terkait dengan tokoh Pangeran Santi Yoga. Menurut Danang Swastika, dari Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, Gulat Pathol dahulu digunakan sebagai metode seleksi prajurit pada masa kerajaan di Lasem.

Pangeran Santi Yoga merupakan putra dari Empu Santi Badra dan Dewi Sukati, anak ke-7 dari sepuluh bersaudara. Pada masa mudanya, ia memiliki tugas untuk merekrut pasukan. Salah satu cara yang digunakan untuk menyeleksi calon prajurit adalah dengan melakukan adu Gulat Pathol. Para calon prajurit yang menang akan diterima menjadi prajurit kerajaan.

Atas perannya tersebut, Pangeran Santi Yoga dikenal sebagai “Bapak Pathol Rembang”. Pengaruhnya menyebar luas, mulai dari pesisir Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, hingga ke wilayah Sarang.

Kini, tradisi Pathol masih lestari di wilayah Rembang Timur, terutama di Kecamatan Sarang dan sekitarnya. Meski tantangan modernisasi semakin besar, semangat masyarakat untuk mempertahankan tradisi ini tidak pernah padam.

Gulat Pathol menjadi bukti bahwa kekuatan bukan hanya diukur dari otot, tetapi juga dari nilai-nilai luhur yang mengiringinya. Olahraga ini tumbuh dari semangat rakyat, dihidupi oleh tradisi, dan kini menjadi bagian dari kesenian yang mempererat persaudaraan. Di tengah arus modernisasi, Gulat Pathol mengajarkan satu hal penting, yaitu warisan budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan napas yang terus hidup dalam setiap generasi.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment