Hits: 505

Tiara Al Medina / Dheandra Hanani Nalsalitha br Meliala     

Pijar, Medan. Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan olahraga hoki es atau ice skating. Hoki es yaitu olahraga yang permainannya dilakukan di atas permukaan es. Namun, apakah Anda sudah tahu kalau ada jenis olahraga yang juga dimainkan di atas permukaan es bernama curling? Kalau belum, mari kita bahas bersama-sama.

Curling adalah seni olahraga meluncurkan batu yang dimainkan di atas lapisan es dengan tujuan untuk memposisikan batu sedekat mungkin ke lingkaran daerah sasaran yang disebut house. Olahraga ini biasanya hanya dimainkan di negara-negara yang memiliki iklim musim dingin. Oleh sebab itu, tak heran jika olahraga ini belum pernah dijumpai di Indonesia yang beriklim tropis.

Curling sendiri ternyata sudah resmi menjadi bagian dari cabang olahraga Olimpiade sejak tahun 1998. Hingga sekarang, olahraga es ini berada di bawah naungan asosiasi bernama World Curling Federation (WCF) yang dibentuk pada tahun 1990.

Berbicara soal peralatan bermain, terdapat 3 peralatan utama yang dibutuhkan dalam olahraga satu ini. Pertama, sikat atau sapu curling, yaitu tongkat khusus yang digunakan untuk mengatur arah dan kecepatan batu di atas es. Kepala dari sikat ini terbuat dari bahan tekstil seperti bulu hewan.

Kemudian, ada batu curling yang kurang lebih fungsinya sama seperti bola. Batu curling memiliki bentuk bundar dan material penyusunnya terbuat dari batu granit yang memiliki berat sekitar 17-20 kg. Pada batu ini terdapat pegangan yang memudahkan pemain untuk menggelincirkan batu dengan cara didorong ataupun diputar. Selain itu, batu curling juga diberi warna yang berbeda untuk membedakan batu milik sendiri dengan batu milik lawan.

Terakhir, sepatu khusus curling. Sepatu ini mempunyai 2 permukaan yang licin dan yang kasar. Sepatu dengan permukaan licin disebut slider, dan bahan yang digunakan pada solnya terbuat dari teflon. Sepatu berlapis sol teflon ini dipakai pada kaki pemain yang mendapat giliran untuk meluncurkan batu curling, fungsinya untuk memudahkan pemain saat meluncur di permukaan es.

Sementara permukaan sepatu yang kasar terbuat dari sol anti licin yang disebut slip-on gripper. Sol anti licin ini dipasang pada sepatu pemain yang sedang tidak mendapat giliran untuk membawa batu curling. Hal ini ditujukan agar pemain tidak terpeleset di atas licinnya es.

Olahraga ini dimainkan oleh dua regu yang masing-masing terdiri dari 4-5 pemain, 4 di antaranya sebagai pemain inti dan 1 pemain cadangan. Pertandingan berlangsung selama 73 menit ditambah 2 kali timeout selama 60 detik. Jika dimainkan dalam turnamen pada umumnya pertandingan ini terdiri dari 10 babak. Namun, jika sekadar untuk hiburan, permainan ini hanya berlangsung 8 babak.

Tata cara permainan dalam olahraga ini pun terbilang cukup sederhana dan unik. Pemain yang bertugas sebagai pembawa batu hanya perlu menggelincirkan batu curling, kemudian pemain lainnya akan berusaha untuk mempertahankan arah dan keseimbangan batu sampai ke lingkaran sasaran (house) dengan menggunakan sikat curling.

Pada setiap babaknya, pemain dari kedua belah regu masing-masing diberikan 16 batu. Lalu mereka secara bergantian akan meluncurkan batu tersebut satu demi satu. Regu yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak selama 10 babak itulah yang akan menjadi pemenangnya.

Meskipun terlihat sederhana, tetapi pada praktiknya, olahraga ini bukan hanya sekadar olahraga meluncurkan dan membelokkan batu saja. Dibutuhkan keterampilan khusus untuk dapat memainkan olahraga satu ini.

(Redaktur Tulisan: Muhammad Farhan)

Leave a comment