Hits: 33

Indra Rana Zafira Silaban 

Senja di Jakarta pada Juli kala itu, tepatnya di sebuah kafe, tampak sepasang jiwa tengah bercengkerama dengan tawa dan senyum yang seolah tidak bisa luntur di tengah ramainya lalu lintas sore itu.

“Besok kayaknya kita harus pergi ke Pantai, deh. Katanya, pantainya bagus banget kalau lagi musim panas, apalagi waktu senja. Nanti kita bisa duduk-duduk sambil nunggu sunset,” ucap seorang perempuan dengan untaian rambut hitam yang legam dalam balutan rok berwarna putih, dan kardigan hangat berwarna merah muda. Ia berkata dengan tawanya yang selalu terpatri di wajah bulatnya.

“Boleh, apapun yang kamu suka, kita akan coba! Nah, kamu punya rekomendasi pantai yang bagus?” tanya seorang pria dengan kaos hitam yang membalut tubuh tegapnya, dengan kacamata yang bertengger apik di wajah manisnya. Pertanyaan tersebut sontak dibalas anggukan tanpa membuahkan nama dari pantai tersebut. Gadis itu berkata bahwa tempatnya bersifat rahasia.

Tawa tercipta dari pria tersebut, “Oke Ara. I’ll follow what you want to do. Ayo kita makan dulu pudingnya.” Gadis yang dipanggil “Ara” tersebut mendadak terpaku seolah ada sesuatu yang salah dari kalimat tersebut.

“Ayo buka dulu mulutnya, Ara. Nanti pudingnya marah kalau kamu abaikan.”

Dalam diamnya, hatinya bergejolak seolah ini bukan sesuatu yang baru baginya, “Nama itu lagi… Aku pernah mendengarnya juga di tempat ini dengan menu yang sama,” batinnya.

Diamnya gadis yang disebut “Ara” itu kemudian disadari oleh pria yang sejak tadi sudah menyantap pudingnya dalam diam. Ia merasa heran kenapa tidak terdengar ocehan dari lawan bicara yang duduk di hadapannya. “Klara, kamu oke? Ada yang salah? Apakah makanannya kurang enak?”

Gadis yang dipanggil Klara atau “Ara” tersebut seolah ditarik kembali dari lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, seolah meyakinkan pria di hadapannya bahwa ia baik-baik saja. “Ah, maaf. Semuanya baik kok, Ray. Ayo kita makan, lucu banget bentuk pudingnya.” Seolah paham bahwa Klara tidak ingin membahas lamunannya, Ray hanya bisa mengangguk dan melanjutkan makan mereka sembari mengobrol seolah tidak ada yang terjadi barusan.

—-

Sekitar pukul tujuh malam, Ray dan Klara memutuskan untuk berjalan-jalan sembari menikmati gemerlap kota metropolitan itu. Mereka berjalan sambil berbincang tiada hentinya dengan genggaman tangan yang saling menghangatkan, untuk menghalau dinginnya Jakarta setelah hujan beberapa menit sebelumnya. Hingga jalan mereka terhenti di toko roti yang terletak di sudut jalan.

Wangi roti dari panggangan langsung tercium ketika kaki melangkah melewati pintu kaca dengan gaya klasik. Klara dengan semangat di langkah kecilnya langsung memesan roti panggang isi coklat dengan taburan keju di atasnya, serta satu roti dengan isian selai stroberi dan taburan gula halus di atasnya. Setelah roti tersebut berpindah ke genggamannya, dirinya dan Ray langsung pergi keluar untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Ketika pintu toko tertutup, Klara dengan cepat mengeluarkan roti mereka.

“Tadaa, ini dia rotinya! Coklat keju punya aku, dan ini roti stroberi dengan gula halus kesukaan kamu kalau datang ke toko roti ini.” Senyum ceria di wajah Ray mendadak luntur, terganti dengan senyum tipis dan tatapan yang sendu.

“Maaf, Klara. aku tidak suka gula halus dan alergi dengan stroberi. Selama ini juga aku tidak pernah makan apapun yang berasa stroberi. Lagi pula, aku juga baru tahu ada toko ini di sudut jalan, karena biasanya aku tidak pernah lewat sini.”

Klara yang mendengar itu sontak melunturkan senyumnya dan menarik roti yang ia berikan sebelumnya. “Maaf, Ray. Aku lupa. Aku merasa aku sudah pernah kemari sama kamu, dan aku refleks langsung pesan roti stroberi ini,” ucapnya dengan sesal.

“Kamu memang sudah pernah ke sini, tetapi bukan sama aku. Tidak apa-apa, aku paham. Ayo kita lanjut jalan, dan rotinya untuk kamu saja. Aku lihat kamu suka sekali dengan roti di toko ini.” Ray langsung menggenggam hangat tangan Klara seolah tidak pernah terjadi apapun.

Klara yang diperlakukan seperti itu merasa terenyuh dengan sikap pria yang menggenggam tangannya. Ia merasa pria ini terlalu baik untuknya yang masih sering mengingat yang lalu.

“Aku suka banget sama roti stroberi di toko ini. Rasanya asam manis, apalagi rasa manis dari gulanya pas. Kamu harus coba ini, Ara. Jangan coklat keju mulu.”

Mereka duduk dan berbincang hingga matahari hampir sepenuhnya terbenam. Sembari menunggu terbenam dengan sempurna, tiba-tiba Klara membuka percakapan setelah kediaman mereka tadi. “Ray, kapan-kapan nanti kita datang waktu malam tahun baru, yuk. Nanti ada pertunjukan kembang api.” Ray yang mendengar ‘kembang api’ sontak berbinar, “Oh iya? Boleh saja. Nanti kita hidupin kembang api bareng.”

Klara yang mendengar itu langsung menatap Ray dengan wajah penuh tanya, “Main kembang api? Aku tidak suka memainkannya, aku takut. Aku cuma suka nonton saja, apakah kamu lupa? Padahal hubungan kita udah berlangsung selama satu tahun. Rei aja ga pernah ngajak aku main, kami bahkan hanya melihat dari ujung karena dia tahu aku akan takut kalau dari jarak yang dekat.”

“Gitu ya? Maaf aku baru tahu. Ternyata hubungan yang udah dijalani setahun juga belum bisa menjamin kita saling tahu ya.” Ray mengucapkannya sembari tersenyum tipis dan menghela nafas dengan berat. “Kamunya engga kenal aku lebih dalam. Kamu diam terus selama ini, nurutin semua kemauan aku,” ujar Klara yang seolah memercik api di hati Ray.

“Aku engga kenal kamu? Gimana bisa aku kenal kamu kalau kamu belum izinin aku untuk kenal kamu? Selama ini aku tahu, kamu masih terbayang atau mungkin hati kamu masih tertinggal di kereta yang lama, tetapi aku cuma bisa diam karena aku paham cinta pertama memang tidak mudah untuk dilupakan. Meski begitu, bukan berarti aku harus diam terus.” Ucapan panjang Ray mengagetkan Klara karena baru kali ini Ray mengeluarkan emosinya secara meluap.

“Kenapa malah lari ke sana? Aku sudah berusaha lupain yang lalu. Aku juga sudah ajak kamu masuk ke dunia aku. Kenapa kamu selalu ungkit yang lalu?” Klara merasa tidak terima dengan perkataan Ray yang mengatakan bahwa dirinya masih memiliki hati untuk orang di masa lalunya. Matahari terbenam seolah terabaikan. Angin pantai menjadi semakin dingin seakan paham dengan situasi yang terjadi di antara keduanya.

“Bukan aku yang ungkit, tetapi kamu yang masih mengajak dia masuk ke dalam hubungan kita. Kamu selalu ajak aku ke tempat yang pernah kalian kunjungi dan memutar semua kenangan yang pernah ada,” ujar Ray.

“Engga, Ray. Aku engga pernah memasukkan dia ke hubungan kita. Itu hanya refleks karena kebiasaan sebelumnya. Aku sayang sama kamu dan beneran sudah lupain dia. Kenapa kamu engga percaya sama aku?” Klara berbicara dengan mata memerah, dan suara yang mulai bergetar seolah dirinya pernah merasakan hal yang sama.

“Ara, stop egois. Aku selalu ngertiin kamu, tetapi kamu seolah ga pernah puas. Apa yang kamu mau?” Bagi Klara, situasi ini rasanya hampir sama, dan dirinya takut dengan kemungkinan yang akan terjadi.

“Klara, kamu kasih aku kue stroberi, kamu mendadak terdiam waktu aku manggil kamu ‘Ara’, kamu ajak aku ke toko roti itu, kamu ajak aku ke pantai ini, dan semuanya udah pernah kamu lakuin bersamanya. Kamu seolah mau mengulang semua itu sama aku.” Ray berucap dengan pelan. Klara tampak mencerna ucapan tersebut dan terlalu kelu untuk membalasnya.

“Kadang aku bertanya ke diriku, sampai kapan aku harus menunggu supaya kamu beneran izinin aku untuk masuk ke dalam dunia kamu. Selama ini, aku berusaha untuk ngerti bahwa mungkin sulit bagi kamu untuk melupakan yang lalu. Tetapi, aku juga punya hati, Klara. Kamu paham kan maksud aku? Kalau memang kamu masih belum selesai dengan masa lalu kamu, jangan coba lanjut dengan yang lain.” Kelamnya malam dan dinginnya angin Pantai, serta deru kecil ombak semakin mendukung ketegangan dan luapan emosi mereka.

“Aku Ray, bukan Rei. Kamu engga bisa jadikan aku ‘Rei’ kamu. Kamu engga bisa cari ‘Rei’ di aku karena kami berbeda.” Kalimat tersebut merupakan kalimat yang selama ini tertahan di benak Ray. “Ray, maaf…” Klara tampak ingin menangis, wajahnya sudah semakin memerah.

“Tidak apa-apa, Klara. Tapi tolong, kamu harus ingat bahwa kamu engga bisa cari orang yang sama di orang lain. Jangan naik kereta untuk pemberhentian selanjutnya kalau kamu masih belum bisa turun dari kereta di stasiun pertama.”

Leave a comment