Inung Wasiati

Pijar, Medan. Cinta memang begitu sangat indah, jika orang yang mempunyai cinta dapat mengahargai sepenuhnya cinta. Tetapi cinta juga begitu sakit apabila seseorang tidak pernah menganggap cinta itu ada. Semestinya didalam cinta itu tidak ada rasa sakit, namun sakit itu ada karena cinta. Dan semestinya juga cinta itu menyembuhkan, bukan memetikan. Bodoh…!! ya memang terlalu bodoh mencintai orang yang selalu menyakiti hati yang penuh dengan cinta.

Namaku Annisa Zhafira, aku seorang mahasiswi jurusan ilmu komunikasi yang kini akan menjalani kuliah disemester 3. Dahulu ku pernah menolak cinta seseorang yang tulus pada ku, rela berkorban demi aku dan selalu ada disetiap aku membutuhkannya. Dan sebab aku menolaknya karena aku tidak pernah mencintainya sama sekali. Tetapi karena ketulusan hatinya, ia menerima semua keputusan ku untuk menjalin pertemanan saja. Dan ketika pertemanan kami sudah di jalin cukup lama, aku malah merasakan hal yang berbeda saat didekatnya, rasa cinta itu muncul secara tiba-tiba tanpa aku sadari dan orang itu adalah Reza Refaldy. Tetapi orang yang aku cinta tidak bisa merasakan cinta ku padanya dan ia hanya menganggap aku hanya teman biasa dan hal itu yang membuat aku sadar akan karma yang pasti akan didapatkan oleh manusia.

Aku juga memiliki seorang sahabat yang sangat baik dan mengerti semua tentang ku, terutama masalah tentang percintaan ku. Sering aku meanggilnya dengan panggilan mesrah  karena telah banyak cerita yang kami tuangkan dan telah banyak waktu yang telah kami habiskan bersama-sama. Windy putria nama sahabat yang akan selalu aku sayangi.

Pagi itu saat aku berada didalam kelas untuk mengikuti perkuliahan pada hari senin, dan aku memilih untuk duduk menyendiri dan saat itu Windy datang menghapiri aku.

“Kamu kenapa lagi” ? tanyanya padaku sambil mendekati aku.

“Gak apa-apa kok. Aku baik-baik saja” jawabku sambil menunduk.

“Kamu gak bisa bohong dari aku. Aku sahabat mu. Aku tau semua apa yang sedang kau pikirkan. Maka percuma bagi mu untuk menyembunyikan semua” balasnya dengan tegas.

“Ya, kau memang sahabat ku. Maka dari itu kau selalu tau tentang semua sikap dan keadaan ku. Namun aku hanya tak sanggup untuk menceritakannya padamu”.

“Aku sahabat mu. Apapun beban yang kau rasakan, aku akan selalu membantumu menghilangkan beban itu. Maka dari itu jujurlah padaku.” Jawabnya lebih tegas lagi.

Ketika aku ingin mejelaskannya masalahku,  dosen pun memasuki ruangan sebab saat itu waktu sudah menunjukan pukul 08.30. dan oleh sebab itu percakapan tadi kami tunda dan akan kami lanjutkan setelah matakuliah ini selesai. Walaupun sebenarnya aku sudah ingin sekali menceritakan ini semua, namun aku mecoba untuk menahanya. Dan akhirnya perkuliahan pun selesai tanpa ada satupun ilmu  yang aku dapatkan saat itu, karena saat dosen menjelaskan, aku tidak pernah terfokus sedikitpun pada penjelasannya. Kemudian setelah kelas dibubarkan, aku tetap diam dan menunduk hingga windy mendekati ku kembali.

“Apa si sebenarnya yang terjadi hingga kau seperti ini? Ceritakan semua padaku agar aku tau permasalahan yang sebenarnya”.tanya windy pada ku.

“Apakah ini karma untuk aku ya hingga aku harus merasakan hal ini. Aku lelah win jika harus menyimpan ini semua. Sakit ku rasa jika ku melihat dia dekat dengan yang lain”.jawabku dan tanpa terasa air mataku menetes.

“Aku bingung niss. Aku bingung melihat hubungan kalian. Dahulu kau pernah menolak cinta Reza pada mu. Namun karena setiap hari, setiap saat kalian selalu dekat, kau semangkin berbalik menyukai dia. Tetapi sampai saat ini Reza tidak mengetahui hal itu karena kau tidak mau jujur padanya. Maka dari itu, cobalah untuk jujur padanya dan ungkapkan semua yang kau rasakan saat ini, kemungkinan saja Reza akan membalas cintamu”.

“Tapi win. Aku tidak mungkin mengatakan semuanya. Sebab dahulu aku pernah menolak cintanya”. Jawabku dan langsung melihat wajah sahabatku.

“Kenapa tidak mungkin Nissa. Kemungkinan saja jika kau mengungkapkan semuanya, Reza akan mengerti tentang perasaan mu. Ku mohon Niss, sekali ini coba dengarkan kata-kata ku. Ku mohon. Ku sakit hati nissa,  jika setiap hari aku selalu melihat sahabat yang ku sayang selalu sedih”. Sambil memeluk ku

“Iya. Baik lah, aku akan mencobanya”. Jawabku sambil membalas pelukan sahabatku.

“Ok. Mulai saat ini jangan pernah sedih lagi sebab aku gak mau melihatnya. Ayo sekarang kita keluar dan mencari makan dikantin.” Ajak Windy dengan menarik tangan ku dan kami pun meninggalkan kelas.

Malam itu, tepat pada malam minggu aku duduk sendiri diteras rumah sambil memandangi langit yang penuh dengan bintang dan merasakan angin yangsedikit menyejukan hati.

“Hey cantik. Kenapa kok gak jalan-jalan? Inikan malam minggu.” Sapa seorang pria.

“Kamu Za. Kok kamu bisa ada di rumahku? Ada apa?. Tanyaku penasaran.

“Tidak ada apa-apa Niss. Cuma kangen aja sama kamu. Kamu kenapa si kok sepertinya bete sekali? Cerita dong.”

“Tidak ada apa-apa kok Za. Aku baik-baik saja.”jawabku.

“Baik lah jika memang tidak terjadi apa-apa.” Balas Reza.

“Zaa.” Panggilku dengan lembut.

“Ya Nissa! Ada apa?”

“Aku ingin cerita Za”.

“Ya sudah ceritalah. Aku akan senantiasa mendengarkan cerita mu niss”. Tegas Reza sambil melihat wajahku.

“Saat ini aku suka dengan seseorang Za. Tapi dia tidak tahu jika aku mencintainya. Padahal kami sering menghabiskan waktu bersama tanpa batas waktu. Sakit rasanya Za melihat orang yang dicintai tidak pernah mengetahui isi hati kita. Aku ingin sebenarnya mengungkapakan semua namun aku takut Za, sebab aku ini perempua dan jarang sekali perempuan mau untuk mengungkapkan isi hatinya pada laki-lakiyang dia cintai”. Jelasku.

“Tak apa. Ungkapkan saja sebenarnya, agar kamu tahu jawaban yang sesungguhnya tanpa menunggu lebih lama lagi untuk memendam dan menunggu dia mengerti Niss. Jika memang itu menyakiti mu, ungkapakan saja sejujurnya.” Balas Reza

“Tetapi apakah dia mau menerimaku? Sebab dahulu aku pernah menolak cintanya dan meminta untuk menjalin perteman saja”. Tambahku.

Seketika itu Reza terdiam dan melihat mataku yang telah berlinang air mata.

“Apakah orang yang kau maksud itu adalah aku Nissa? Tanya Reza padaku.

 Aku terdiam sejenak dan menjawab. “Ya. Itu benar Za. Sebenarnya aku suka sama kamu tapi ku malu untuk mengungkapkanna”. Jelasku.

“Sejak kapan? Tetapi kamu pernah berkata jika kau tidak pernah mencintaiku. Dan kenapa saat ini kau bicara begitu? Tanyanya.

“Aku tidak tau Za. Aku tidak tau sejak kapan rasa ini muncul”. Jawabku dan akupun menunduk.

Setelah beberapa menit terdiam. “Maaf Niss. Maaf ku tidak bisa membalas cintamu”. Menunduk.

Aku menghela nafas panjang. “Kenapa Za? Dulu kamu pernah bilang kalau kamu suka dan cinta sama aku. Tapi kenapa sekarang kamu tidak bisa membalas cintaku?” Menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Iya memang benar bahwa dahulu ku sayang dan cinta sama kamu”. Tetap menunduk. “Namun saat ini ku sudah tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun Niss aku ingin terfokus pada kuliahku”. Menatap ku.

Aku menunduk dan tak ingin melihatnya dan menghela nafas. “Ya Za. Aku mengerti kok”. Akupun meneteskan air mata yang tak pernah aku sadari.

Reza memegang tangan ku dan melihatku. “Kamu menangis Ssa? Aku minta maaf jika aku mengecewakan mu. Maafkan aku Nissa”.

Menghapus air mata. “Hah, aku tidak menangis Za. Aku tidak apa-apa kok. Aku terima keputusanmu dan mungkin ini memang yang terbaik buat kita”. Jawabku lirih.

Terus menatapku. “Untuk sekali lagi maaf kan aku Niss. Aku minta kamu bisa mengerti”.

“Iya-iya, aku mengerti.” Jawabku dengan penuh kecewa.

“Kalau begitu aku pamit pulang ya Niss. Jangan sedih terus. Kau akan mendapatkan seorang yang lebih baik dari aku yang bisa membuatmu selalu bahagia”. Mencoba menghibur. “Aku pamit ya. Daahh Nissa”. Melangkahkan kaki meninggalkan aku dan melambaikan tangannya.

Aku terus menatap kepergiannya dari rumahku, dan saat ini posisiku masih sama, duduk diteras rumah sendiri tanpa ada yang menemani. Tetapi bedanya, kini aku telah mendapatkan sebuah luka yang diberi oleh seseorang yang aku sayangi. Cinta yang telah tumbuh lama kini harus hancur karena cinta yang tak bisa mendapatkan kesempurnaan dari dua insan. Air mata yang terus membanjiri pipi tidak bisa tertahan lagi. Sesak didada pun sudah tidak bisa terkontrol lagi. Akupun berlari menuju kamar ku yang tidak terkunci dan menghempaskan tubuhku ke tepat tidur. Mataku sudah mulai lelah sebab sudah banyak sekali air mata yang mengalir pada malam ini dan tanpa sadarkan diri ku sampai tertidur karena lelahnya mataku.

Jam pun menunjukan pukul 07.30. rasanya malas sekali bagiku untuk bangun dari tempat tidur sebab hari ini hari minggu maka dari itu ku berniat untuk berdiam diri dirumah saja. Aku masih memikirkan peristiwa tadi malam, dimana peristiwa itu sangat menghancurkan aku. Namun tidak tahu mengapa, saat aku merasa kecewa tetapi ku juga merasa lega sebab ku sudah mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan hatiku. Walaupun jawaban itu menyakitkan aku.

Tidak terasa malam pun tiba, sengaja aku tidak memberi kabar pada sahabatku Windy karena ia sedang ada urusan penting yang tak bisa diganggu. Walaupun ingin rasanya aku menumpahkan semua kesedihanku padaya, sebab hanya dia yang bisa mengerti aku dan keadaan ku. Dan pada malam itu, tidak aku duga tiba-tiba Windy menghubungi ku.

“Iya ada apa Win? Gimana dengan urusannya, sudah selesai?”. Tanyaku lirih.

“Eemm, sudah kok. Niss aku ingin tanya satu hal sama kamu”.

Tarik nafas. “Ya mau tanya apa sayang?”. Tanyaku pada sahabat yang aku sayang.

“Tetapi kamu harus tenang ya”. Menarik nafas.”Nissa, sewaktu aku lagi makan tadi, aku melihat Reza dengan seorang perempuan, mereka sangat mesrah sekali dan sewaktu Reza pergi ke toilet, aku memberanikan diri untuk bertanya pada perempuan tersebut dan ternyata perempuan itu adalah pacar Reza, ku terkejut Ssa. Maka dari itu aku langsung menghubungi mu, aku ingin bertanya apakah Reza sudah punya pacar atau aku yang salah mendengar jawaban perempuan itu”.menjelaskan panjang lebar.

Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Air mata ku langsung menetes seketika itu juga. Tidak menjawab. “Win besok aku ingin bertemu dengan mu. Tetapi saat ini aku ingin sendiri. Maaf ya”. Menutup telvon.

Saat ini hatiku benar-benar telah hancur berkeping-keping dan tak mungkin untuk bisa di perbaiki lagi. Aku tidak menyangka orang yang aku cintai tega berbohong pada ku. Dan dari kejadian ini aku sangat membeci teman ku sendiri, teman yang aku kira tidak akan berbong namun ternyata ia sangat tega memperlakukan ku seperti ini.

Keesokan harinya, aku pergi dari rumah dan  bertemu dengan sahabatku Windy di sebuah tempat makan yang sering kami kunjungi. Dan aku memilih tempat duduk yang nyaman untuk ku bercerita dengan sahabatku.

“Hay sayang”. Sapa seorang perempuan dengan mesra dan langsung duduk disebelah ku.

“Hay juga Windy ku sayang”. Jawabku dengan mesra pula. “Hari ini banyak yang ingin ku ceritakan padamu Win”. Memandangnya.

“Iya aku ngerti kok. Aku akan selalu siap untuk mendengarkan semua ceritamu. Dan aku akan berusaha untuk membantumu sebisa ku”. Sedikit menghibur.

Kemudian aku menceritakan semua kejadian yang ku alami malam itu dan Windy pun fokus mendengarkan semua ceritaku. “Bagaimana menurutmu Win? Aku mengira Reza baik padaku tapi ternyata dia membohongi aku. Dia berkata dia sudah tidak mau lagi menjalin hubungan dengan siapa pun tetapi kenyataannya sekarang dia telah bersama yang lain”. Menunduk.

“Menurut aku, dia bukan yang terbaik untuk mu Niss. Dia kan menyesal telah menyia-nyiakan orang yang tulus mencintainya dan malah memilih yang lain. Lihat saja, dia akan menemukan penyesalan dalam hidupnya. Saran  ku, lupakan dia. Walaupun ia sudah kau anggap teman namun seharusnya teman tidak pernah menipu atau berbohong. Toh jika kau kehilangan teman, kamu masih punya sahabat seperi aku.

“Iya Win. Aku sudah berniat untuk tidak bertemu lagi dengannya atau sampai berbica dengannya. Sudah cukup aku meneima sakit itu. Kini aku ingin membuang rasa itu jauh dari aku, dan tak ingin mengingatnya kembali”. Menghela nafas panjang.

Merangkulku dan mencoba memberi semangat. “Aku mendukung setiap keputusan mu sahabat ku. Kelak kau akan mendapatkan yang terbaik melebihi laki-laki yang bernama Reza itu”.

Dan tak terasa aku dan Windy sudah bercerita hingga hari sudah sore. Dan kamipun berniat untuk pulang kerumah masing-masing untuk istirahat menenagkan diri. Dalam hati aku berkata, aku bersyukur bisa memiliki sahabat yang luar biasa seperti Windy, yang dapat mengerti aku dan memahami keadaanku. Dan sampai saat ini aku selalu berusaha menghindar dan selalu melupakan semua tentang Reza dipikiran ku. Dan aku menyadari bahwa tidak semua cinta berakhir dengan bahagia, tetapi banyak juga cinta itu berakhir dengan luka.

Leave a comment