Hits: 398
Nabila
Pijar, Medan. Setiap orang pasti pernah merasa perasaan tidak aman (insecure), tidak percaya diri, ataupun bahkan depresi. Buku karya Brian Krishna yang berjudul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, dari penerbit Grasindo menjadi salah satu rekomendasi buku yang harus kamu baca minimal sekali seumur hidup. Novel ini terdiri dari 210 halaman dan cetakan pertamanya dirilis pada Januari tahun 2024. Dimulai dari judulnya saja sudah menarik perhatian. Tidak heran sudah menjadi mega penjualan terlaris (bestseller) di berbagai toko buku Gramedia.
Novel ini sangat menarik karena mengangkat isu kesehatan mental (mental health), dengan menceritakan perjalanan hidup seseorang yang mengidap gangguan mental (mental illness). Dibahas dengan sudut pandang yang unik dan ditulis dari hasil riset si penulis melalui teman-temannya yang berhasil menyintas dari rasa depresi akut (DDS) yang masih punya semangat untuk terus menjalani kehidupan ini.
Jadi, novel ini mengisahkan tentang seorang pria berusia 37 tahun yang bernama Ale. Ia memiliki postur tubuh yang tinggi, besar, dan berkulit hitam. Hal tersebut membuat Ale sering mengalami perundungan sejak kecil. Ale juga sering merasa tidak dianggap oleh orang tua dan keluarganya sendiri, sehingga membuatnya merasa tidak berharga dan diperlakukan secara tidak adil. Atas masalah yang sering dihadapinya tersebut, akhirnya Ale didiagnosis oleh psikiater mengidap depresi akut.
Pada hari ulang tahunnya yang ke-37, Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, sebelum melakukan aksi tersebut, ia ingin memakan mi ayam sebagai hidangan terakhirnya sebelum ia meninggalkan dunia. Berawal dari ingin mencari mi ayam tersebut, Ale banyak mengalami kejadian tidak terduga.
Ia dipertemukan dengan tokoh lain seperti Murat, Mami Luis, Juleha, Ipul, Bu Murni, Pak Uju, dan Pak Jipren sebagai orang-orang yang memiliki kehidupan yang lebih kejam daripada Ale. Setelah bertemu dengan orang-orang tersebut, Ale disadarkan oleh kenyataan bahwa masih ada orang yang baik dan peduli dengan dia.
Hampir setiap halaman di dalamnya mengandung nilai moral yang sangat menghangatkan hati (heartwarming) dan membuat pembacanya menjadi lebih berpikiran terbuka (open minded). Novel ini mengangkat isu yang sering terjadi di antara masyarakat kalangan menengah ke bawah, sehingga kalimat yang disampaikan sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Kisah yang menyadarkan kita untuk lebih bersyukur atas segala sesuatu yang kita miliki sekarang, bisa saja sesuatu yang sudah kita punya saat ini merupakan impian untuk orang lain. Selain itu, narasi di dalam novel membuat kita ikut terlarut ke dalam kisah setiap tokoh, gaya bahasa yang ringan dan tanpa menggurui, sehingga memberikan kenyamanan tersendiri.
Tokoh Ale di dalam novel ini benar-benar mendefinisikan “laki-laki tidak bercerita”, tetapi tiba-tiba ingin mengakhiri hidupnya. Novel ini seolah mengingatkan kita, bahwa obat atau terapi paling sederhana dari stres dan depresi adalah mencurahkan hati atau cerita ke orang yang dipercaya. Sebab, sesuatu yang kita pendam sendiri perlahan akan menjadi penyakit untuk diri sendiri.
Buku ini juga mengingatkan kita untuk hati-hati dalam berbicara, karena kita tidak pernah tahu kejadian berat apa yang dipikul oleh orang tersebut. Sesuatu yang mungkin sepele bagi kita ternyata sangat memengaruhi mental seseorang.
Novel ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang cukup sesuai dengan kehidupan sehari-hari, sehingga melalui potongan adegan di dalam novel tersebut dapat memberikan cerminan kepada diri kita sendiri. Untuk kekurangan dari novel ini, ditemukan pengulangan kata di beberapa kalimatnya.
“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima. Menerima bahwa tidak semua hari berjalan baik, tidak semua rencana akan berjalan lancar, tidak semua orang akan berlaku baik ketika kamu baik kepada mereka. Dan itu semua tidak apa-apa” —hal. 198.
Berdasarkan dari buku ini, penulis mengajak pembaca untuk “it’s okay, to not be okay” dan carilah alasan sederhana agar kamu tetap bisa bertahan hidup, bahkan jika alasan tersebut terdapat di seporsi mi ayam.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

