Hits: 53
Amanda Citra Ayu
Pijar, Medan. Keluar dari zona nyaman bukanlah pilihan yang mudah bagi yang berada di dunia industri hiburan. Banyak yang memilih untuk tetap bertahan di posisi aman, apalagi jika sudah dikenal dan disukai di kalangan publik.
Ryan Adriandhy, sutradara dari film Jumbo ini mengambil langkah yang berbeda dari kebanyakan pelaku industri hiburan. Pria yang akrab disapa Ryan ini awalnya dikenal publik lewat panggung komedi. Sekarang, ia berkecimpung di dunia animasi, mimpinya sejak kecil.
Namanya mulai dikenal setelah ia menjuarai kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) musim pertama. Sejak itu, publik mengenalnya sebagai komika. Tak berhenti di dunia komedi, Ryan turut memperluas pengalamannya dengan masuk ke dunia akting lewat web series “Malam Minggu Miko” karya Raditya Dika.
Alih-alih menetap dalam kenyamanan popularitasnya, Ryan memilih untuk mengejar mimpi di masa kecil, yakni melibatkan diri pada dunia animasi. Mimpi ini berasal dari hobinya yang suka membaca komik. Ia memperdalam pengetahuannya di dunia animasi dengan menempuh pendidikan S2 dengan fokus Film dan Animasi di Rochester Institute of Technology, Amerika Serikat, dengan beasiswa Fulbright.
Ia memilih untuk belajar ke Amerika karena industri animasi di sana telah berkembang jauh lebih lama. Sehingga, ia berharap dirinya bisa belajar dengan fasilitas yang lebih memadai untuk mendukungnya menjadi animator.
Masa studinya kemudian membuahkan hasil. Karyanya yang berjudul “Prognosis” sebagai tugas akhir masa kuliahnya, mendapatkan Piala Citra untuk Film Animasi Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2020.
Sebelumnya, Ryan diketahui pernah menempuh pendidikan di BINUS Northumbria School of Design. Melihat rekam jejaknya, tidak mengherankan jika ia berhasil bergabung dengan Visinema Animation, debut menjadi sutradara dari film animasi Jumbo.
Film Jumbo termasuk film animasi dari Indonesia yang paling laris hingga saat ini. Film yang mengangkat isu bullying ini sedikit banyaknya mirip dengan pengalamannya sewaktu kecil.
“Gua tahu rasanya pernah dilabelin sesuatu karena fisik waktu kecil. Dulu gua dipanggilnya Bucil—Bulu Kecil,” ungkapnya di podcast Wander bersama Ernest Prakasa. Perubahan pada masa pubertas yang lebih awal membuat Ryan terlihat berbeda dengan teman-temannya, hingga ia menjadi bahan ejekan. Kisah ini mirip seperti karakter Don di film Jumbo yang diejek oleh temannya karena memiliki fisik yang gemuk.
Tanpa disadari, Ryan menuangkan kisah personal ke dalam cerita yang dibangunnya. Ryan juga mengaku awalnya ia tidak sadar ketika ibunya dijadikan sebagai inspirasi pada cerita yang dibuatnya. Namun, setelah ia mengulik lebih dalam, ia akhirnya menyadari bahwa kekhawatirannya kepada sang Ibu secara tidak langsung perlahan ikut masuk ke jalan cerita yang ia bangun.
Salah satunya terdapat pada ide Pulau Gelembung di film Jumbo. Ryan bercerita dari posisinya sebagai anak tunggal. Sewaktu ia kecil, ibunya sangat memperhatikannya.
“Karena gua anak tunggal, nyokap dulu selalu memastikan gua selalu berada dalam bubble, Pulau Gelembung. Jadi, setelah gua tumbuh dewasa, gua harus keluar dari Pulau Gelembung ini,” jelas Ryan dalam podcast yang sama.
Masuk pada pembuatan di balik film Jumbo, tidak jarang Ryan merasa stres dan stuck sebab proses pembuatannya memiliki fase berlapis yang melibatkan lebih dari 420 orang. Hal ini memicu adanya bentuk ide baru dari ide yang sebelumnya sudah disepakati. Meski begitu, ia juga mengaku tetap antusias, karena dinamika itu membuat cerita Jumbo menjadi lebih hidup.
Dari panggung komedi hingga layar lebar animasi, perjalanan Ryan Adriandhy membuktikan bahwa mimpi-mimpi dari masa kecil bukan hanya khayalan belaka. Butuh keberanian untuk keluar dari zona nyaman, atau keluar dari Pulau Gelembung untuk menjadikannya nyata.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

