Hits: 18
Amanda Citra Ayu
Pijar, Medan. Ikatan Magister Ilmu Komunikasi (Imamikom) periode 2024-2025 bersama komunitas Gemuruh Outdoor Activity (GOA) mengadakan aktivitas arung jeram sebagai sarana edukasi lingkungan bagi peserta melalui diskusi langsung ketika menyusuri sungai. Kegiatan ini dilakukan di Pemandian Alam Pulo Sari Tuntungan pada Kamis (1/5/2025).
Para pengurus Imamikom periode 2024–2025 mengikuti kegiatan ini didampingi oleh pemandu wisata bersertifikat nasional dari GOA. Seiring menjelajahi arus sungai, peserta diajak untuk mengenali kondisi lingkungan sekitar dan ancaman terhadap kelestariannya, seperti penanaman sawit di bantaran sungai yang mengancam kestabilan tanah, pengerukan pasir ilegal yang mengubah permukaan dasar sungai, serta keberadaan sampah rumah tangga di beberapa titik aliran air.
Selain itu, sejumlah serpihan kayu yang ditemukan di hilir menjadi bukti bahwa kayu tersebut berasal dari hulu akibat penebangan liar. Hal ini dapat menyebabkan erosi yang memperburuk kondisi sungai. Adanya pembuangan limbah pabrik ke sungai menyebabkan pencemaran yang merusak kualitas air dan mengganggu keseimbangan alam, serta memengaruhi kehidupan penduduk setempat yang memanfaatkan air sungai.

(Fotografer: Amanda Citra Ayu)
Dalam menyikapi hal ini, GOA mengusung gagasan “Gerakan Aliran Sungai” sebagai upaya pendekatan yang menjadikan air sebagai simbol kesinambungan dalam mendorong masyarakat untuk menjaga ekosistem sungai. Gagasan ini tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan sosial.
GOA sendiri telah berperan dalam penanggulangan kerusakan sungai melalui enam pilar utama mereka, yaitu prestasi, edukasi, konservasi, ekspedisi, wisata, serta mitigasi dan tanggap bencana. Kegiatan edukasi yang dilakukan antara GOA dan Imamikom menjadi salah satu bukti nyata dari penerapan enam pilar tersebut.
Ahmad Defry Rivaldi, selaku Ketua Pelaksana, menyatakan alasan Sungai Tuntungan dipilih sebagai lokasi kegiatan adalah sebagai upaya dalam membangun kesadaran.
“Ketika masyarakat sadar akan komunikasi pariwisata, mereka juga akan mulai menjaga lingkungan. Jadi, kita sadarkan dulu potensinya,” ujarnya.
Christian Yosua Halawa, sebagai Ketua Umum Imamikom, sekaligus salah satu peserta, berpendapat bahwa dengan saling menjaga kestabilan alam, semua yang terlibat juga akan merasakan keuntungannya.
“Dengan menjaga kelestarian lingkungan, semuanya jadi sama-sama senang. Istilahnya, ini merupakan simbiosis mutualisme. Yang di sana diuntungkan, yang di sini diuntungkan,” ucapnya.
Sebagai penutup, Imamikom berharap bahwa kegiatan ini akan menjadi awal dimulainya kolaborasi dalam menarik banyak akademisi dan pihak lain untuk turun langsung ke lapangan, dan terlibat langsung dalam mengatasi permasalahan. Baik dalam bentuk riset, kampanye, maupun pendampingan terhadap masyarakat di kawasan wisata.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

