Hits: 97

Lainatus Syifa Hasibuan

Pijar, Medan. Setiap tanggal 23 April, dunia memperingati Hari Buku Internasional yang juga dikenal sebagai Hari Buku Sedunia. Ditetapkan oleh UNESCO sejak 1995, hari ini menjadi simbol global penghargaan terhadap buku dan hak cipta, sekaligus ajakan untuk memperkuat budaya baca di tengah tantangan era digital.

Dengan hadirnya internet dan teknologi digital, cara kita mengakses buku telah berubah drastis. Buku tidak hanya dicetak dan dijual secara fisik, tetapi kini juga tersedia dalam format buku elektronik (e-book) yang bisa diakses melalui perangkat digital. Aplikasi baca seperti iPusnas, Kindle, dan Google Books menawarkan kemudahan bagi siapa saja untuk membaca di mana saja dan kapan saja.

Meski demikian, buku cetak masih mempertahankan tempatnya di hati banyak pembaca. Pengalaman membaca buku fisik menawarkan keunikan yang berbeda. Kondisi fisik dan kedekatan emosional yang terbentuk saat membalik setiap lembaran buku memberikan pengalaman sensorik yang tak tergantikan oleh media digital.

Qothratunnada As-Shafwah, mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang, membagikan pengalamannya terkait kenyamanan membaca digital. Ia mengungkapkan bahwa meskipun buku digital lebih praktis, kenyamanan tersebut justru membuat banyak perpustakaan fisik semakin sepi.

“Buku digital lebih praktis, bisa dibaca lewat handphone tanpa perlu repot datang ke perpustakaan. Tapi efeknya, perpustakaan jadi makin sepi karena banyak yang lebih suka baca e-book. Aku tetap lebih memilih buku cetak karena lebih nyaman dan tidak membuat mata cepat lelah,” ujarnya.

Senada, Mazdalifah selaku dosen Literasi Media Digital di Universitas Sumatera Utara, menyebut transisi dari buku cetak ke digital sebagai pisau bermata dua. Buku digital memang lebih cepat dan mudah diakses, tapi buku cetak masih unggul dalam hal pengalaman dan pemahaman membaca.

“Proses penyerapan dan pemahaman informasi lewat layar tidak sedalam buku fisik. Ada kedekatan emosional saat membaca buku cetak, yang sulit digantikan e-book,” jelasnya.

Mazdalifah  juga menekankan pentingnya literasi digital saat ini yang harus dikuasai terutama oleh mahasiswa sebagai generasi muda.

“Anak muda sekarang tahu banyak, tapi belum tentu dalam. Kebiasaan membaca semakin menurun, padahal sebagai intelektual muda, mahasiswa seharusnya haus akan ilmu. Makanya, literasi digital sangat penting. Kalau kemampuan literasi digital dia kurang, tentu dalam membaca e-book-nya juga kurang. Itulah kenapa literasi digital amat sangat penting dan relate,” tambahnya.

Hari Buku Sedunia menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, tantangan kita bukan hanya sekadar memilih antara buku cetak atau digital, tetapi bagaimana terus menjaga minat baca di era serba cepat. Apa pun bentuknya, buku tetap menjadi jendela dunia!

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment