Hits: 37
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Peradi Medan adalah salah satu cabang organisasi advokat di Indonesia yang lahir di tengah masyarakat untuk memberikan layanan gratis berupa bantuan hukum, pendampingan hukum, dan lain sebagainya. Sebagai organisasi yang cukup besar, DPC Peradi Medan tetap memiliki budaya dan pemimpin yang mampu mempertahankan eksistensi mereka.
Setiap elemen dan karakteristik budaya yang dimiliki organisasi ini membuat mereka berbeda dengan organisasi lainnya. Salah satu hal yang paling menonjol dari DPC Peradi Medan ialah satu-satunya cabang Peradi yang memiliki gedung mereka sendiri berkat kontribusi para anggota. Maka, untuk mengenang hal tersebut, terdapat ukiran nama-nama penyumbang di dinding bangunan sebagai salah satu ciri khas utama.
Anggota DPC Peradi Medan yang merupakan advokat, memiliki acuan berupa Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD/ART) dalam bersikap sehari-hari. Selain itu, Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) juga menjadi aturan yang harus diikuti oleh setiap anggota dan pemimpin untuk menjaga nama baik profesi mereka.
Salah satu budaya yang diterapkan oleh organisasi ini adalah penggunaan panggilan ‘abang’ dan ‘adik’ kepada semua anggota tanpa memandang berapa jarak perbedaan usianya. Selain itu, gaya berkomunikasi yang diciptakan pemimpin terhadap anggota DPC Peradi Medan adalah suasana komunikasi yang terbuka, transparan, dan santai tanpa kesenjangan. Hal tersebut dipercaya mampu meningkatkan efektivitas proses komunikasi yang ada dalam organisasi tersebut.
Charles J. N. Silalahi, sebagai salah satu mantan pemimpin DPC Peradi Medan selama dua periode (2004-2014), memiliki peran yang sangat krusial dalam pembentukan dan pengelolaan budaya organisasi terhadap para anggotanya.

(Fotografer: Putri Romawani)
Setiap anggota di DPC Peradi Medan tidak hanya bertugas sebagai advokat. Tetapi, mereka juga memiliki tanggung jawab lain karena pembagian tugas pada bidang-bidang berbeda yang ada di organisasi mereka. Dalam hal ini, Charles selaku Pemimpin juga sangat memperhatikan arus komunikasi kelompok kecil yang berjalan dalam DPC Peradi Medan. Kerja sama maupun diskusi yang dilakukan setiap bidang merupakan hal yang dijaga oleh Charles selama memimpin.
Tidak hanya itu, komunikasi dengan pihak eksternal, seperti Aparat Penegak Hukum (APH) lain juga dijaga. Upaya-upaya dalam hal Corporate Social Responsibility (CSR) juga dilakukan DPC Peradi Medan dengan bantuan eksposur dari media-media pemberitaan yang bertujuan untuk mengenalkan nama mereka di kalangan masyarakat dan mempertahankan budaya mereka.
Eksistensi DPC Peradi Medan hingga saat ini tentu saja tidak hanya karena keaktifan anggota di dalamnya, melainkan terdapat peran besar yang dimainkan oleh pemimpin dalam mempertahankan itu. Untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi ini juga tentu saja tidak mudah.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi Charles selama memimpin, dapat dikatakan bahwa ia memiliki kemampuan manajerial yang baik, seperti dalam menyusun konsep kerja hingga bagaimana cara ia mengatasi konflik dalam organisasi. Kemampuan praktis Charles dalam dunia hukum juga menjadikan dirinya pantas untuk memimpin selama dua periode dan mendapatkan kepercayaan dari anggota-anggotanya sebagai panutan mereka.
Walaupun kemampuan dan keterampilan Charles sebagai pemimpin sudah sangat terpenuhi, ia tetap melakukan berbagai pendekatan agar anggota organisasinya dapat memiliki suasana kerja yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Salah satunya adalah upaya Charles dalam meningkatkan kualitas anggota dengan rutin mengirim perwakilan ke Mahkamah Agung (MA) untuk menyaksikan dan mempelajari proses pengadilan yang lebih besar.
Pendekatan lain yang dilakukan Charles adalah membuka forum informal dengan suasana rileks untuk para anggota menyampaikan hal-hal dengan terbuka tanpa ada rasa tertekan dari seorang pemimpin. Hal tersebut terbukti efektif bagi dirinya untuk dapat menerima informasi sebanyak-banyaknya dari para anggota yang nyaman untuk bersuara.
Meskipun senang menciptakan suasana santai dengan anggotanya, Charles sebagai seorang pemimpin juga bisa menempatkan dirinya dengan baik sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi. Pada situasi formal, ia dapat bersikap serius. Begitu juga sebaliknya, ketika berada di situasi informal, ia dapat menjadi orang sekaligus pemimpin yang sangat menyenangkan.
Pembawaan gaya memimpin dan citra setiap pemimpin tentu saja berbeda. Cara Charles memimpin dan membangun atmosfer dengan anggotanya secara tidak langsung membentuk budaya dalam organisasi itu sendiri. Sebab ia percaya bahwa seluruh proses berjalannya organisasi merupakan cerminan dari pemimpin yang berada di balik organisasi tersebut.
Semua yang diterapkan Charles sebagai Pemimpin DPC Peradi Medan selama dua periode terbukti masih diteruskan sampai pemimpin baru saat ini. Bagaimana budaya-budaya dalam organisasi tersebut dipertahankan dan dicerminkan hingga sekarang merupakan peran penting dari kepemimpinan yang ditanam dan dijalankan oleh Charles. Hal ini membuktikan bahwa budaya organisasi dan pemimpin merupakan komponen penting bagi eksistensi sebuah organisasi.
Kelly Kidman Salim / Grace Estephania / Putri Romawani / Michael Sitorus / Lowla Santa Claudia Manurung / Farrel Kresna Maruli Sibuea

