Gamer, Mitra atau Sekedar Lahan Jual?

Hits: 13

OLEH PRIE ANUGRAH HASTOMO
[Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU dan penikmat game konsol ]

Dunia game kini sudah semakin maju, bahkan mungkin sudah melampaui ekspektasi para pelaku game 20 tahun yang lalu. Grafis high definition yang begitu real, motion sensor yang sebelumnya dianggap mustahil hingga berbagai macam game  peripheral canggih yang membuat game kini tidak hanya menjadi hiburan pengisi waktu luang semata, namun menjadi industri yang menjanjikan.

Namun seiring industri game itu berjalan, maka hukum ekonomi pun berlaku. Masih jelas di memori kita semua ketika konsol Xbox 360 dan Playstation 3 yang dibanderol dengan harga selangit ketika pertama kali dirilis. Masing-masing konsol ditengarai sempat menyentuh angka 6,5-8,5 juta rupiah pada saat itu. Belum lagi harga game asli yang berkisar antara 500 hingga 750 ribu rupiah. Tetapi semua itu tidak mengurangi minat para gamer di seluruh penjuru dunia untuk memburu barang kegemaran mereka. Mulai dari mengikuti sistem pre-order beberapa bulan sebelumnya, hingga berbaris panjang mengantri di depan pusat penjualan game menunggu waktu peluncuran next-gen konsol generasi ketujuh tersebut.

Rupanya semua pengorbanan gamer itu tidak berbanding lurus dengan kepuasan yang didapatkan. Generasi pertama  Xbox 360 dengan nickname Xenon dilaporkan mengalami gejala overheat yang kemudian familiar disebut dengan Red Ring of Death (RROD) atau lingkaran merah kematian yang disimbolkan dengan garis lingkaran merah pada tombol power konsol yang seakan menunjukkan bahwa hal ini sudah diketahui oleh Microsoft, selaku perusahaan pengembang, sebelum mereka meluncurkannya. RROD merupakan penyakit fatal bagi konsol Xbox karena membuat mesin tidak dapat digunakan lagi alias game over!

Beberapa saat kemudian Microsoft mengeluarkan edisi revisi dengan nickname Zephyr, Opus dan Falcon. Namun kemudian hal yang sama tetap terjadi, RROD kian muncul walaupun dengan frekuensi lebih rendah dibanding sebelumnya. Sampai pada akhirnya Microsoft merilis mesin Jasper dan Valhalla (Slim) yang diklaim aman dari RROD dan memang terbukti hingga sekarang.

Setali tiga uang dengan Microsoft, perusahaan saingan dari Asia yang telah lebih dulu bermain di perangkat keras game, Sony juga menciptakan masalah yang sama bagi para gamer. Playstation 3 yang dirilis satu tahun setelah Xbox 360 beredar di pasaran juga memiliki penyakit yang “berspesies” sama, yaitu Yellow Light of Death (YLOD) yang memiliki dampak sama dengan RROD, namun disimbolkan dengan warna berbeda oleh mesin PS3 yang lagi-lagi mungkin saja sudah diketahui oleh pihak Sony sebelum mereka merilisnya. Hal ini diindikasikan beberapa saat kemudian Sony merilis edisi Slim yang aman dari penyakit YLOD.

Maka kemudian muncul pertanyaan di benak kita semua, mengapa baik Microsoft maupun Sony tidak meluncurkan konsol game yang bebas dari ancaman RROD/YLOD sejak awal perilisannya? Bukankah seri Xbox dan Playstation pertama yakni Xbox, PS One ,dan PS2  sebelumnya tidak pernah mengalami gangguan overheat walaupun dimainkan nonstop? Artinya baik Microsoft maupun Sony memanglah perusahaan yang terpercaya dan memiliki track record cukup baik mengenai perangkat keras. Bukankah Nintendo, perusahaan game lainnya yang tergolong inferior dibanding Sony dan Microsoft mampu menciptakan konsol Nintendo Wii yang bebas overheat? Lalu kenapa Microsoft dan Sony mengeluarkan barang yang seolah belum siap pakai ke seluruh penjuru dunia dan dengan harga selangit pula? Apakah ini merupakan sebuah strategi penjualan, mengingat angka penjualan konsol kedua perusahaan semakin meningkat dari waktu ke waktu?

Para gamer berada pada posisi dilematis. Di satu sisi mereka kecewa karena uang yang sebelumnya telah dikeluarkan untuk mendapatkan konsol kesayangan mereka menjadi sia–sia karena kini konsol game tersebut hanya menjadi pajangan saja, namun di sisi lain mereka tetap harus membeli konsol baru lagi jika ingin meneruskan passion mereka sebagai seorang hardcore gamer. Bagaikan berada di lubang jarum yang sebenarnya keadaan tersebut muncul bukan disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri. Hal ini yang tampaknya dimanfaatkan oleh dua perusahaan raksasa tersebut. Mereka mengira bahwa gamer yang loyal akan tetap membeli produk mereka apapun alasannya karena para gamer sudah mengalami ketergantungan terhadap mereka selaku produsen.

Perusahaan yang bergerak di dunia gaming masih menempatkan para gamer hanya sebagai consumer saja, bukan sebagai partner. Seharusnya ada hubungan mutualisme di antara keduanya. Kejayaan perusahaan game ditentukan oleh para pembelinya yang loyal, dan pembeli yang loyal tersebut adalah gamer. Tentunya gamer juga berhak mendapatkan balasan yang setimpal atas loyalitas mereka terhadap dunia game yang tentunya berujung kesuksesan bagi para produsen game.

Hukum ekonomi mungkin harus tetap berjalan dalam industri game. Tapi ada baiknya jika semuanya berjalan selaras dan seimbang tanpa adanya intrik di dalamnya. Kini Sony dan Microsoft sudah memulai proyek terbaru mereka, yaitu console game next-gen generasi kedelapan yang rumornya akan dinamakan Playstation 4 dan Xbox 720. Semoga Sony dan Microsoft tidak mengulangi kesalahan mereka sebelumnya dan membayarnya dengan konsol game next-gen baru yang mampu memuaskan hasrat gaming para gamer tanpa disertai kekecewaan (lagi).


Leave a comment