Hits: 52

Diskusi Kampus II GMKI FEB USU telah terlaksana pada tanggal 22 November 2024 dengan tema “Mengulas Implementasi Program MBKM yang Menjadi Paradigma Belajar pada Mahasiswa: Tetap Berlanjut?”. Diskusi ini dihadiri oleh M. Hadyan Yunhas Purba, Ajeng Sri Rahayu, Samuel Bernas Siahaan sebagai speaker dan 55 orang peserta dari beberapa fakultas dan organisasi di USU.

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) adalah salah satu terobosan besar yang dicanangkan oleh Kemendikbud, untuk membawa pendidikan tinggi di Indonesia ke arah yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Sejak diperkenalkan pada 2020, MBKM memberi mahasiswa kebebasan untuk belajar di luar kampus melalui berbagai program seperti magang, pertukaran pelajar, dan proyek independen.

Selama menjalani program ini, mahasiswa berkesempatan untuk bertemu dan bekerja langsung dengan profesional di bidangnya. Melalui program MBKM, mahasiswa memiliki peluang besar untuk diterima di industri, karena mereka telah menunjukkan kemampuan dan kesiapan mereka melalui pengalaman langsung.

MBKM juga memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk memilih bidang yang mereka minati dan sesuai dengan passion mereka. Tidak hanya itu, program ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan di bidang-bidang interdisipliner,  penting di dunia kerja yang serba kompleks.

Keadaan Program MBKM, Antara Menjadi Tren Positif atau Pemecah Esensi Pendidikan Tinggi Indonesia - www.mediapijar.com
Sesi Pemaparan Materi dan Diskusi Tanya Jawab.
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi GMKI FEB USU)

Fenomena: MBKM sebagai Program yang Berorientasi pada Benefit, Bukan Ilmu

Banyak mahasiswa yang terjebak dalam bayangan keuntungan praktis seperti uang, perjalanan, atau pengalaman magang, tanpa memahami sepenuhnya esensi belajar dan ilmu yang seharusnya mereka peroleh. Program ini, yang seharusnya memberikan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung, justru sering kali dianggap sebagai “jalan pintas” untuk mendapatkan uang dan pengalaman kerja tanpa menyentuh aspek ilmiah dan intelektual.

Pengadaan Program MBKM: Kampus sebagai Fasilitator atau Pendorong Kepentingan Ekonomi?

Beberapa kampus bahkan lebih fokus pada penyediaan peluang magang atau kerja sama industri tanpa menyelaraskan program dengan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan kompetensi akademik. Ini menimbulkan keraguan tentang apakah kampus benar-benar memfasilitasi perkembangan intelektual mahasiswa atau sekadar berfokus pada aspek praktikal dan ekonomi.

Konversi SKS: Penyalahgunaan atau Solusi

Beberapa mahasiswa menggunakan kesempatan ini untuk mengonversi mata kuliah yang belum lulus, tanpa ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan ilmu yang relevan dengan mata kuliah tersebut. Padahal, MBKM seharusnya menjadi sarana untuk memperkaya pengalaman dan keterampilan, bukan sekadar menggantikan mata kuliah yang terlewat.

MBKM: Pelatihan Pekerja atau Pemotongan Pemikiran Kritis Mahasiswa?

Jika MBKM lebih mementingkan penguasaan keterampilan praktis tanpa memberikan ruang untuk berpikir kritis, inovatif, dan berwawasan luas, maka hal ini justru akan mengurangi kualitas pendidikan tinggi itu sendiri. Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga mencetak pemikir yang dapat berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Tantangan: Harapan Tinggi yang Tidak Terwujud

Banyak mahasiswa yang memasuki MBKM dengan harapan tinggi akan mendapatkan pengalaman berharga yang dapat mempercepat karier mereka. Kebebasan memilih program yang ditawarkan, justru seringkali membuat mahasiswa merasa bingung dan kehilangan arah. Mahasiswa bisa terjebak dalam kebingungan, tanpa memperoleh manfaat yang optimal dari MBKM.

Kesenjangan Teori dan Praktik: Gap yang Perlu Diatasi

Mahasiswa merasa bahwa apa yang mereka pelajari di kelas sangat jauh dari apa yang mereka temukan di lapangan. Hal ini menuntut adanya penyesuaian kurikulum yang lebih adaptif dan terintegrasi antara teori dan praktik, agar mahasiswa tidak merasa kehilangan arah dan tujuan dalam mengikuti program MBKM.

Adaptasi Kurikulum: Butuh Waktu dan Kesiapan Kampus

Perbedaan yang signifikan antara kurikulum yang berlaku sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius dari kampus untuk melakukan penyesuaian agar MBKM tidak sekadar menjadi proyek sampingan, melainkan bagian integral dari pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Kebijakan dan Regulasi: Perlunya Kejelasan dan Kepastian

Banyak kebijakan MBKM yang diterapkan dengan cara yang berbeda-beda di setiap perguruan tinggi. Kebijakan prodi dan fakultas simpang siur, tanpa pengawasan yang jelas, yang menimbulkan ketidakpastian dan skeptisisme di kalangan mahasiswa.

Landasan Utama sebagai Mahasiswa: Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, Tinggi Pengabdian

Landasan utama seorang mahasiswa seharusnya tetap berada pada tiga prinsip dasar: iman, ilmu, dan pengabdian. Program ini seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menggali pengetahuan dan keterampilan, namun juga untuk membangun karakter dan kepedulian sosial. Semangat untuk terus belajar, berkreasi, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Jangan sampai kebebasan yang ditawarkan justru membuat esensi pendidikan Indonesia menunjukkan penurunan nilai. Saatnya perguruan tinggi dan mahasiswa bergandengan tangan untuk menciptakan pendidikan yang tidak hanya relevan dengan dunia kerja, tetapi juga berakar pada tujuan mulia: mencetak pemikir dan pemimpin masa depan.

Samuel Bernas / Dedi Wilson / Yousev Daniel

Leave a comment