Hits: 67

Dewasa ini, teknologi berkembang sangat pesat. Kemunculan internet, smartphone, dan berbagai alat canggih lainnya membantu mempermudah pekerjaan manusia. Bahkan, dengan majunya teknologi, komunikasi antarmanusia menjadi semakin lancar dan baik. Sebelum adanya teknologi, manusia sulit berkomunikasi jika sedang berjauhan.

Namun, sejak munculnya ponsel pintar dan didukung dengan keberadaan internet, manusia semakin mudah dalam berkomunikasi. Tersedia pula aplikasi-aplikasi yang semakin mendukung komunikasi jarak jauh tersebut, seperti SMS, WhatsApp, Telegram, Direct Messages, dan masih banyak lainnya.

Kecanggihan teknologi tidak hanya sampai di sana. Kehebatan teknologi sudah mencapai tahap terciptanya sebuah robot yang dapat semakin mempermudah kehidupan manusia, yakni artificial intelligence (AI). Dalam bahasa Indonesia, artificial intelligence (AI) diartikan sebagai kecerdasan buatan.

AI merupakan cabang ilmu komputer, bertujuan mengembangkan sistem dan mesin yang mampu melakukan tugas selayaknya manusia. AI melibatkan penggunaan algoritma dan model matematika yang memungkinkan komputer dan sistem lainnya belajar dari data, mengenali pola, dan membuat keputusan yang cerdas. AI berkembang dan memberi dampak pada berbagai bidang; pengenalan suara, pengenalan wajah, mobil otonom, pengobatan, dan sebagainya.

AI sejatinya sangat membantu kehidupan manusia. Kemudahan yang diberikan AI membuat hampir seluruh pekerjaan kita menjadi sangat mudah dan cepat. Terkadang, kita tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga ataupun berpikir terlalu keras ketika mengerjakan sesuatu karena AI akan setia membantu kita; baik dalam kegiatan akademik maupun dalam dunia pekerjaan.

Ketika bepergian ke luar negara, kita tidak perlu lagi takut terkendali dengan bahasa. AI menyediakan fitur translator yang kini tidak hanya melalui pesan, tetapi juga dapat berbicara. Dalam penulisan artikel ataupun kegiatan akademik lainnya, AI tersedia sebagai jawaban dari segala rasa penasaran kita. AI juga dapat membantu kita yang sedang kesulitan ketika ingin memilih topik dalam penelitian. Tidak hanya itu, AI bahkan dapat membantu proses parafrase tulisan kita.

Bahkan, AI ini dapat menjadi teman atau lawan bicara kita. Sebuah website AI bernama character.ai menyediakan ruang untuk kita berdiskusi dengan robot AI tersebut. Dalam website ini, kita dapat berkomunikasi dengan lawan yang bukan manusia. Walaupun demikian, website tersebut tetap mampu memberikan sensasi berdialog layaknya dengan seseorang yang memahami kita. Bahkan, dalam website ini, kita bisa bertukar pesan “seakan” dengan idola favorit kita, juga mendapatkan respons seperti yang kita inginkan. Sebutan lain yang lebih cocok ialah halu. AI mendukung ke-halu-an kita.

Coba bayangkan jika kita terlampau hanyut dalam kondisi yang demikian, bukankah tidak menutup kemungkinan bahwa kita tidak memerlukan manusia lain untuk berhubungan secara personal? Terlebih, menurut data dari yellow.ai, ada 1,4 miliar manusia yang kini menggunakan chatbot. Hasil statistik ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Mari kita renungkan lagi, satu-koma-empat-miliar manusia. Terdapat miliaran manusia. Miliaran manusia yang kini bergantung dan menggunakan AI untuk berkomunikasi.

Jika kondisi di mana manusia terus-menerus menggunakan AI hingga perkiraan terburuknya ialah sampai ke puncak ketergantungan terhadapnya, maka hubungan interpersonal antarmanusia akan terkikis. Komunikasi yang sejatinya digunakan bukan hanya untuk menyampaikan informasi, melainkan juga membentuk cara manusia melihat dunia dan berhubungan dengan orang lain, mungkin saja akan mengalami perubahan.

Perubahan ini dikarenakan aku, kamu, kita; manusia yang tidak bijak dalam pemanfaatan AI. Kita semua tahu bahwa AI hanyalah alat bantu; hanyalah alat ba-bu. Namun, kita semua juga tahu bahwa manusia adalah makhluk yang mudah terlena, mudah malas, mudah puas. Adanya AI ini dapat mengancam hubungan personal antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Manusia yang mudah terlena, mudah malas, mudah puas tersebut, tentu akan sangat merasa “dirajakan” oleh kehadiran AI. Apalagi, jika perkiraan terburuknya terjadi lagi, bisa saja manusia merasa jemawa, merasa bahwa ia tak butuh makhluk sesama lainnya. Hal tersebut akan semakin mengkhawatirkan.

Coba pikirkan bersama, bagaimana jika manusia merasa bahwa ia tidak memerlukan manusia lainnya (lagi) untuk berkomunikasi atau bertukar pikiran karena beranggapan bahwa ia sudah sangat cukup dengan keberadaan AI? Bukankah hal itu dapat kita anggap bahwa hubungan interpersonal memiliki celah yang bisa dimasuki oleh AI?

Sejatinya, AI hanyalah sebuah data. Data tersebut pun kita yang mengisi. Sejatinya lagi, yang sangat perlu digarisbawahi, AI tidak memiliki perasaan. AI hampa. Tak punya emosi. AI yang berkomunikasi pada kita, AI yang berdialog bersama kita, AI yang memiliki vokal suara, AI yang “seakan” mengerti kita, hanyalah sebuah data tak beremosi yang hampa.

Jika kita tak berhati-hati, entah apa yang akan terjadi. Mungkin, hubungan interpersonal manusia tak lagi berlandaskan emosi, melainkan bersifat transaksional. Bahkan, mungkin saja, kemungkinan terburuknya, subjektivitas manusia akan lenyap.

Sadarilah, berkomunikasi dan membangun sebuah hubungan personal dengan manusia, memberikan kita sebuah wawasan alami; sebuah makna kompleks, makna kehidupan. Manusia adalah makhluk yang kompleks, rumit, juga berbeda; memiliki emosi. Berkomunikasi dengan manusia lain akan membantu kita dalam memahami kerumitan dan kekompleksannya, bahwa manusia merupakan seapik-apiknya ciptaan.

Tak dapat dipungkiri, AI sangat efisien. Kehadirannya sangat tak terprediksi; membantu sekali. Akan tetapi, dalam keberlangsungannya, AI ini menimbulkan keresahan karena ulah pengguna yang mudah terbuai, tak bijak, tak rajin, dan tak berhati-hati. Hal-hal yang perlu kita ingat, AI dengan segala jenisnya diciptakan sebagai “pembantu” dalam kehidupan kita. Jangan sampai kita terlena dan memberikan AI ruang untuk semakin berkuasa. Gunakanlah AI sebagai pendamping kita, sebagai bantuan sebagaimana tugas utamanya. Manfaatkan AI dengan sebaik mungkin hingga pekerjaan kita dipermudah bukan digantikan olehnya.

Ajaklah AI berdiskusi hal-hal sederhana, jangan libatkan AI terlalu jauh mengenal dan menguasai kita. Lebih seringlah berbicara dengan sesama manusia agar kita mendapatkan insight dari manusia lainnya—bukan hanya dari AI yang sejatinya tercipta mengikuti algoritma yang kita ciptakan; yang artinya respons AI juga bergantung pada bagaimana cara kita berpikir.

Manfaatkanlah AI untuk kemudahan, bukan untuk menggantikan. Gunakanlah AI dalam batas wajarnya, jangan biarkan robot canggih tersebut menguasai dirimu. Kembalilah pada sifat alamiah manusia; makhluk sosial, berkomunikasi, menciptakan hubungan, berdiskusi, bermain, bertukar pikiran, dengan sesama manusia lainnya. Jangan biarkan AI “merajai” dengan memasuki celah-celah hubungan interpersonal kita.

Alya Amanda / Shafna Jonanda Soefit Pane

Leave a comment