Hits: 57
Yudika Phareta Simorangkir / Jennifer Francesca
Pijar, Medan. Di tengah gelombang konsumerisme yang terus meningkat, muncul tren baru yang ramai di dunia maya, underconsumption. Satu kata mewakilkan yang terlintas di benak kita saat mendengar kata tersebut adalah “hemat”. Akan tetapi, bagi sebagian orang, gaya hidup ini dianggap serupa dengan pelit. Lantas, apakah benar underconsumption itu sama dengan pelit?
Secara harfiah, underconsumption sendiri memiliki arti konsumsi rendah atau kurang konsumsi, yang berarti tidak mengonsumsi secara berlebihan. Dalam kata lain, ini berarti ketika seseorang hanya membeli barang yang dibutuhkan saja atau tidak membeli barang tertentu sebelum benar-benar rusak.
Ketika mendengar istilah underconsumption, tidak sedikit orang yang mungkin mengasosiasikannya dengan sifat pelit. Pasalnya, bagi beberapa orang yang terbiasa hidup berkelimpahan atau bahkan boros, gaya hidup yang satu ini dianggap terlalu irit hingga menjatuhkan persepsi pada satu kata, “pelit”.
Pelit sering kali diartikan sebagai ketidakinginan untuk berbagi, baik itu kepada dirinya sendiri maupun orang lain, meskipun sebenarnya mampu melakukannya dan biasanya tidak didorong oleh alasan yang benar-benar masuk akal. Berbeda dengan pelit, underconsumption bukan tentang kekurangan atau ketidakinginan untuk berbagi, melainkan tentang menemukan keseimbangan dan kepuasan dalam kesederhanaan.
Sebagian besar masalah yang dialami oleh generasi muda, seperti Gen Z dan para milenial, termasuk tekanan ekonomi, masalah lingkungan, dan tekanan sosial, menjadi sumber munculnya tren konsumsi rendah ini, menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya pola hidup yang lebih hemat dan berkelanjutan, baik dari segi keuangan maupun dampaknya terhadap lingkungan.
Alih-alih mengikuti tren belanja berlebihan, orang-orang yang mengadopsi gaya hidup underconsumption memanfaatkan barang-barang yang mereka miliki sampai habis, memilih produk yang lebih terjangkau, dan menghindari membeli barang yang tidak diperlukan.
Membeli barang dengan harga yang lebih tinggi tetapi dengan kualitas yang lebih baik juga dapat dikatakan sebagai bagian dari penerapan underconsumption, sebab dengan kualitas yang baik, maka masa pakai barang tersebut akan bertahan lebih lama, menghindari pembelian barang yang serupa berkali-kali.
Daripada terus-menerus membeli dan menambah tumpukan barang, gaya hidup underconsumption mengajak kita untuk fokus pada apa yang benar-benar dibutuhkan dan menghargai apa yang sudah kita miliki. Misalnya, ketika ada barang yang rusak, kamu bisa mencoba memperbaikinya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli yang baru.
Gaya hidup underconsumption juga menganjurkan kita tidak membeli barang karena sekadar mengikuti tren atau FOMO (fear of missing out). Dengan kesadaran dan pola pikir underconsumption, maka kamu akan mudah membedakan barang yang benar-benar dibutuhkan dengan barang yang hanya ingin dibeli karena FOMO.
Selain mengurangi biaya pengeluaran, gaya hidup konsumsi rendah ini memberikan manfaat yang besar bagi lingkungan karena dapat mengurangi volume barang dengan bahan tidak daur ulang yang akan berujung menjadi sampah. Dengan membatasi pembelian produk yang tidak terlalu diperlukan, maka kamu telah berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon.
Kebiasaan underconsumption dari para konsumen pula nantinya akan mendorong produsen untuk menciptakan produk yang lebih berkelanjutan, seperti produk dengan kemasan yang minimalis dan bahan yang dapat didaur ulang.
Gaya hidup ini menjadi salah satu pilihan yang tepat, karena selain dapat membantu individu mencapai stabilitas finansial, gaya hidup ini juga dapat membantu dalam menciptakan dampak positif terhadap lingkungan secara global, termasuk mengurangi polusi dan eksploitasi sumber daya alam.
Pada akhirnya, underconsumption mengajak kita untuk hidup dengan lebih bijak, memahami makna di balik setiap keputusan, dan memahami bahwa kebahagiaan yang benar sering kali datang dari kesederhanaan. Apakah kamu termasuk orang yang sudah menerapkan gaya hidup underconsumption?
(Redaktur Tulisan: Alya Amanda)

