Hits: 54

Putri Romawani Simanjuntak

Pijar, Medan. Pernahkah kamu merasa sangat ingin berbelanja ketika sedang stres dengan aktivitasmu? Ketika hari-hari terasa berat, kepala dipenuhi tumpukan pekerjaan, dan energi hampir habis, tiba-tiba melihat notifikasi diskon dari toko online terasa seperti hiburan yang menyelamatkan. Sekilas, membeli sesuatu terlihat seperti hadiah untuk diri sendiri yang tengah merasa lelah. Namun, di balik dorongan itu, ada fenomena yang kini semakin sering terjadi bernama Doom Spending.

Doom Spending adalah perilaku belanja impulsif yang dilakukan sebagai bentuk pelarian dari tekanan mental seperti kecemasan, stres, dan perasaan gelisah. Perilaku ini bukan sekadar kebiasaan belanja yang berlebihan, melainkan respons emosional terhadap situasi yang ada di luar kendali kita. Ketika berada dalam momen penuh tekanan, berbelanja menjadi cara cepat untuk merasa lega, walaupun efeknya hanya sesaat.

Fenomena ini menjalar dengan cepat di era digital, didukung dengan kemudahan bagi individu untuk mengakses berbagai platform belanja. Dengan hanya beberapa ketukan jari, kita bisa menjelajahi berbagai jenis barang maupun makanan. Cara membayarnya juga hanya dengan sekali klik, kemudian menunggu kurir untuk mengantarkan.

Berbagai promo harian dan tawaran pengantaran gratis akan muncul setiap hari, dan menjadi obat bagi beban pikiran akibat tumpukan pekerjaan yang dikejar oleh deadline. Kegiatan Doom Spending juga dapat dilakukan secara sadar dan sengaja untuk menghabiskan uang pada hal yang tidak sepenuhnya diperlukan. Doom spending bukan hanya tentang konsumsi berlebihan semata, melainkan tindakan mengalihkan rasa tidak nyaman melalui tindakan konsumtif.

Gaya hidup Doom Spending ini bukan tanpa konsekuensi. Ketika kebiasaan ini terus dilakukan, maka kita akan merasakan dampaknya, seperti keuangan yang tiba-tiba menipis tanpa terasa, hingga rasa sesal ketika tanggal akhir bulan. Ketika rasa sesal itu muncul, orang yang memiliki gaya hidup ini akan merasa tidak nyaman dan dihantui rasa bersalah. Namun, akan ada ketertarikan untuk melakukannya lagi di masa mendatang. Gaya hidup Doom Spending ini akan menjadi lingkaran yang terus berulang.

Dalam banyak kasus, seseorang menyadari bahwa ia tidak benar-benar membutuhkan barang-barang yang dibeli. Ia hanya butuh sesuatu untuk membuatnya merasa lebih baik, sebagai sebuah pelampiasan yang dibungkus rapi dalam bentuk konsumsi.

Kebiasaan Doom Spending ini muncul akibat menanamkan ungkapan seperti “sesekali healing” atau “self-reward” yang membuat individu menormalisasikan hal tersebut. Padahal, jika tidak dikendalikan, perilaku ini bisa mengikis kestabilan finansial dan memperparah masalah emosional yang ada.

Sebelum menjadi sebuah adiksi dan memengaruhi kesehatan mental, perilaku Doom Spending ini perlu untuk diatasi. Cara mengatasinya adalah dengan mengendalikan diri ketika stres melanda, dan mulai melakukan kegiatan positif untuk mendistraksi pikiran seperti berolahraga sejenak, menonton film, maupun menyeduh secangkir minuman untuk mendapatkan perasaan lega.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment